Merelakan
Judul yang melankolis. Tapi bukan tentang apa yang dibayangkan. Saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya beberapa hari lalu di Lombok. Menjadi seorang yang merelakan waktu, tenaga, materi, untuk anak-anak Lombok.
Setelah ratusan kali gempa dan entah sudah berapa ratus korban jiwa di sana, saya memberanikan diri, bersama satu sahabat saya, membuka donasi buku untuk anak-anak korban gempa di Lombok, khususnya Sembalun, Lombok Timur. Beberapa hari kami membuka donasi di Semarang dan Kediri: positif! Hampir 300 buku anak-anak kami kirim ke Lombok hanya setelah 7 hari kami buka donasi. Dan sesuai rencana awal, kami memang ingin langsung melihat kondisi di sana dan sedikit menghibur dengan pengalaman kami yang masih sangat sedikit.
Kami tiba di Sembalun, Lombok Timur, salah satu tempat paling parah terdampak gempa, Minggu, 26 Agustus 2018, dengan sedikit menggigil karena Sembalun sedang dingin siang itu (atau mungkin karena saya yang hanya memakai celana pendek dan syal tipis). Beberapa posko kami sambangi dan kami bagikan buku. Saya beberapa kali bercengkerama, bertukar senyum dan tawa dengan anak-anak di sana. Ramah, dari muda hingga tua. Semua menyapa. Bahkan tanpa kami sapa. Ada yang datang memeluk, ada yang berjabat tangan. Wajah asli Indonesia. Sejujurnya, ini pengalaman pertama kami.
Saya: Halo, semuanya!
Bocah-bocah: Halo, kakak! Bawa buku, kah? Asiiiiiik!
Saya: Hahaha.. suka membaca?
Bocah-bocah: Suka, Kakak! Kami sudah libur beberapa minggu. Sudah ingin sekolah lagi!
Entah sudah berapa lama saya tak berbincang hangat seperti ini dengan anak-anak seusia mereka, kisaran 7–12 tahun. Saya berkenalan satu-satu dengan mereka. Menanyakan nama, umur, dan tentu, cita-cita. Ada yang ingin menjadi polisi, tentara, presiden, dokter, ah, lengkap.
Saya tak bisa banyak bercerita di sini. Sejatinya, semua yang saya lakukan adalah hal kompleks. Bermula dari patah hati, merasa bersalah, dan semua yang merujuk ke diri sendiri. Kalau orang-orang banyak yang menjadikan umroh, atau bahkan haji, sebagai perjalanan spiritual mereka. Saya ingin menjadikan pengalaman ini menjadi “spiritual”. Bukan menjadikan saya sebagai seorang yang suci. Tapi menyadarkan saya sendiri bahwa saya tak sendiri. Saya tak suci, saya punya masa lalu yang tak baik untuk dijadikan contoh. Tapi seperti kata orang bijak: nilailah laki-laki dari masa depannya, dan perempuan dari masa lalunya.
