Membaca Laporan Skripsi Gie “Di Bawah Lentera Merah”

Buku : Di Bawah Lentera Merah, Segelas Teh Manis Hangat, dan Biskuit

Akhir-akhir ini sejujurnya saya gelisah. Barangkali kegelisahan itu berpangkal pada skripsi saya yang tidak kunjung selesai karena suatu kendala khusus. Ingin menulis puisi juga rasanya kok ya kehabisan tenaga kata (mungkin karena kurang asupan buku sastra dan cinta). Hingga akhirnya saya mampir juga ke toko buku pojokan TIM yang penataan bukunya semrawut tapi koleksi buku-bukunya sangat layak baca milik sastrawan dan pemain teater Jose Rizal Manua.

Setelah mencari-cari buku kemudian karena saya tak sepenuhnya paham namun ingin lebih mengenal sosok dan karya Gie, akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk membeli “Di Bawah Lentera Merah” yang ternyata buku tersebut adalah laporan skripsi Gie secara singkat pada buku “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan” (yang ikut saya beli pula). Kombinasi rasa penasaran tersebut ditambah sampul kedua buku yang agak dramatis berwarna latar merah hitam ditambah lambang palu dan arit yang ke kiri-kirian, ditambah lagi maraknya isu PKI yang kian mencuat di negeri ini membuat saya bersemangat untuk membacanya. Karena saya sendiri sejujurnya masih belum memahami paham komunis dan PKI yang sebenarnya itu apa, mengapa sampai kini seolah-olah membaca buku dan mempalajari komunisme adalah suatu kejahatan besar yang harus dibasmi dari bumi pertiwi.

Kembali pada buku Gie “Di Bawah Lentera Merah” sebenarnya menjelaskan hal-hal menyangkut masalah sosial di Semarang dan perjuangan Sarekat Islam di bawah Kepemimpinan Semaoen yang berpikir secara sosialis-revolusioner pada tahun 1917–1920.

Perjuangan apa? tentu perjuangan melawan penindasan dan kesewenang-wenangan pemerintah Hinda di masa itu. Kita bisa bayangkan di tahun 1900an adalah awal masuknya modernisasi dan teknologi di tengah masyarakat pribumi Hindia yang terbelakang secara pendidikan dan kelas sosial. Modernisasi tersebut Gie menyebutkan seolah dikonfrontasikan ke dalam kultur budaya masyarakat Hindia yang masih awam dan tidak paham apa-apa sehingga menyebabkan kebingungan di masyarakat. Apa sebenarnya makna kebebasan, keadilan, kesetaraan hak dsb. Mengapa perlakuan kepada rakyat eropa yang datang dengan para pribumi dibedakan? Betapa miris rasanya. Nah kebingungan inilah yang menyebabkan awal mula tumbuhnya pencarian berbagai pemahaman para tokoh dan pola pikir yang bersemayam di pikiran. Atas kebingungan itu beberapa masyarakat mencoba mencari tahu lebih detail dalam pemikiran islam, beberapa mencari dari kebudayaan lama, lainnya mencari dari kebudayaan barat. Di sinilah juga landasan awal munculnya gerakan-gerakan atau organisasi-organisasi yang mulai berani mengkritik pemerintah. Organisasi tersebut seperti Serikat Islam atau organisasi-organisasi lainnya.

Isu sentral yang diangkat sebenarnya adalah perihal kondisi perekonomian yang buruk pada masa 1900an meskipun kerja rodi telah dihapuskan. Tapi seolah keluar kandang macan masuk kandang singa. Perkebunan yang dulu dikuasai oleh pemerintah hindia kini dapat dimiliki oleh perusahaan-perusahaan swasta dengan modal-modal besar, yang artinya adalah; eksploitasi sumber daya alam indonesia lebih membabi buta, termasuk kepada para petaninya yang masih mudah dibodoh-bodohi. Mereka dipaksa menjual areal sawahnya agar rela disulap menjadi perkebunan tebu (tentu dengan paksaan para lurah yang telah disuap oleh uang oleh perusahaan swasta tadi). Setelah dipaksa menjual mereka mau tidak mau menjadi tidak punya lahan untuk bercocok tanam serta tidak bisa memenuhi perut pribadi serta keluarganya sendiri, terpaksalah mereka menjadi kuli para tuan tanah tebu tadi dengan upah yang minim. Hidup petani semakin miskin dan mengenaskan.

Isu lain yang diangkat pada tahun 1900an adalah adanya wabah Pes yang menjangkiti wilayah semarang dan sekitarnya. Angka kematian tinggi pada masa itu karena jumlah rumah-rumah padat penduduk yang sangat tidak layak berada di gang-gang kumuh dengan jalan yang buruk; becek dan berlumpur ditambah tidak adanya BPJS pada zaman itu (Ya iyalah).

Dari permasalahan tersebutlah Semaoen yang merupakan Presiden Sarekat Islam Semarang mencoba untuk melawan penindasan dan kesewenang-wenangan tersebut dengan caranya yang berawal sosialisme hingga menjadi berpaham komunisme dan buku ini menjelaskan poin-poin apa saja yang melatarbelakangi pemikiran Semaoen.

Membaca tulisan Gie, sejujurnya mampu membuat kita merasakan penderitaan rakyat dan akar masalah pada saat itu. Sejujurnya saya senang dengan gaya penuturan deskripsi gie, terasa sangat lincah dan lihai dalam buku ini padahal ia masihlah seorang mahasiswa pada waktu itu. (Sangat jauh bukan perbedaan mahasiswa dulu dan sekarang)

Begitulah kurang lebih ulasan singkat mengenai buku “Di Bawah Lentera Merah” karya Gie yang baginya disebut sebagai. “apa yang dibicarakan di sini masih jauh dari selesai” mengenai masalah sebenarnya.