Paradigma Agribisnis Bernafaskan Startup untuk Kedaulatan Pertanian Indonesia

Rizqi Hakim
Sep 1, 2018 · 3 min read

Nama : Rizqi Imaduddin Hakim

TTL : Temanggung, 7 Januari 1999

Alamat e-mail : rizqi.imaduddin@gmail.com

No. HP : 081329361256

Line : rizqi.imaduddin

IG : @imaduddin_hakim

Blog Pribadi : medium.com/@rizqi.hakim


“Cara memandang suatu masalah adalah masalah itu sendiri.”

–Stephen Covey–

Seringkali suatu hal menjadi masalah karena kesalahan kita dalam memandangnya. Stephen Covey dalam bukunya yang berjudul 7 Habits of Highly Effective People (1997, cet. Indonesia) memberikan contoh tentang pertempuran militer yang menelan lebih banyak orang meninggal karena luka kecil dan penyakit daripada trauma besar di medan perang. Namun segera setelah konsep bakteri dikembangkan, muncul sebuah cara pandang (paradigma) baru yang lebih baik untuk memahami peristiwa kematian akibat luka kecil yang terinfeksi bakteri tersebut. Begitu pula konsep pemerintahan tradisional yang memandang bahwa kekuasaan adalah hak ilahi bagi raja. Ketika konsep pemerintahan berkembang menjadi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat; maka lahirlah demokrasi yang membebaskan energi dan kecerdasan manusia secara luar biasa. Setidaknya dari dua contoh kasus tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa cara memandang suatu masalah memiliki andil besar dalam memecahkan masalah tersebut.

Ketika kekuatan perubahan paradigma tersebut kita bawa pada ranah pertanian, maka kita akan didorong maju melampaui anggapan tentang pertanian yang kumuh, penuh dengan kerja fisik, maupun hasil panen yang tidak menentu. Prof. Bungaran Saragih dalam Orasi Ilmiah pengukuhan Guru Besar di Institut Pertanian Bogor menawarkan pemikiran dan konsep bahwa agribisnis adalah suatu cara pandang baru melihat sektor pertanian. Sebelumnya pertanian dipandang secara sektoral, namun setelah konsep agribisnis dikembangkan, pertanian menjadi sebuah sistem intersektoral yang saling terkait.

Menurut Prof. Bungaran setidaknya ada 4 subsistem agribisnis yakni subsistem hulu (upstream agribusiness); usahatani (on-farm agribusiness); hilir (downstream agribusiness); dan subsistem jasa layanan pendukung seperti lembaga keuangan dan pembiayaan, transportasi, penyuluhan dan layanan informasi, penelitian dan pengembangan, kebijakan pemerintah, dan lain-lain. Keempat subsistem tersebut saling terkait (sinergis) dan membentuk sebuah sistem sehingga dapat mengurangi kesalahan-kesalahan sektoral yang ada di era sebelumnya.

Indonesia dengan kekayaan flora-fauna, kehangatan iklim tropis, serta budaya agraris yang telah mendarah daging semestinya dapat menjadi bekal yang cukup untuk meraih kedaulatan terutama dibidang pangan. Namun karena masih banyak masalah ego-sektoral seperti yang terjadi pada kebijakan impor beras oleh Kementerian Perdagangan ketika Kementerian Pertanian mengatakan Indonesia surplus beras, kebijakan impor garam besar-besaran di negara dengan garis pantai terpanjang, ketidaksiapan pelaku agroindustri dalam mengolah kayu Jati Kebon (Jabon) sehingga berakibat pada menurunnya harga, dapat menjadi cerminan masih buruknya pertanian Indonesia.

__ __

Sebagai generasi millenial yang erat dengan kreatifitas, kebebasan berekspresi, serta melek teknologi, saat inilah waktu yang tepat untuk ambil bagian di sektor pertanian ini. dengan membuat startup. Menurut Ries (2011) dalam Ramdhan (2018) startup merupakan sebuah institusi manusia untuk menjual produk atau jasa baru dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi. Selain itu, startup juga didefinisikan sebagai sebuah perusahaan yang fokus dalam menyelesaikan masalah sekitar serta berkomitmen untuk senantiasa bertumbuh. Hal inilah yang membedakan startup dengan perusahaan yang sudah mapan.

Oleh karena sifatnya yang lebih fokus pada upaya menyelesaikan masalah sekitar dan komitmen untuk senantiasa bertumbuh, startup dapat membongkar eksklusivitas kaum pemilik modal besar (kapitalis) yang selama ini merajai dunia bisnis. Dengan membawa semangat tersebut, mahasiswa, anak sekolah, petani, hingga ibu rumah tangga dapat membuat startup untuk menyelesaikan masalah sekitar.

Pertanian yang selama ini erat dengan masalah rantai pasok, kesulitan pemasaran, atau kesulitan memprediksi musim dapat diatasi dengan startup-startup pertanian. Kemudian ketika startup telah tumbuh besar diharapkan dapat turut mengangkat kesejahteraan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Perpaduan antara cara pandang baru terhadap pertanian (agribisnis) yang membentuk sebuah sistem dengan startup sebagai langkah eksekusi akan mempercepat tercapainya kedaulatan sektor pertanian. Masyarakat dengan berbagai latar belakang diharapkan dapat saling bersinergi mewujudkan kedaulatan pertanian Indonesia.

Penulis berharap dengan budaya agraris, kondisi geografis, serta keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia mampu menjadi pelopor pertanian yang berkelanjutan, ramah lingkungan, maju dan berkeadilan.

Bogor, di kamar 3.09 AKPP

31 Agustus 2018


#kuymenulis

Daftar Pustaka

Covey, Stephen R., 1993, 7 Habits of Highly Effective People — Simon & Schuster Inc.

Ramdhan, Hendry E. 2018. Startupreneur, Menjadi Entrepreneur Startup. Jakarta: Penebar Plus.

Jaya, Untung dan Palupi, Peni Sari. 2010. Suara Agribisnis, Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih. Jakarta: PT Permata Wacana Lestari.

Rizqi Hakim

Written by

Mahasiswa departemen Agribisnis IPB angkatan 2017 || Pengetik Lompatan-lompatan Pikiran

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade