Mahasiswa Tingkat Akhir
Lagi lagi, sudah tengah malam saja tapi mata saya masih nyala 1000 watt. Gawat. Besok harus konsul skripsi lagi bertemu dengan dosen pembimbing tercinta. Yup, rutinitas monoton selama 8 bulan terakhir ini.
Sebelum saya memaksakan tubuh saya untuk tidur, saya mau cerita sedikit nih hehe sekedar menuangkan isi pikiran, seperti biasa.
-
Berbicara tentang rutinitas. Rutinitas mahasiswa tingkat akhir memang membosankan rasanya. Hidup terasa gini gini saja. Senantiasa berotasi pada kampus-kos-tempat ngopi. Dibilang tidak berfaedah ya tidak juga, toh ini juga sedang menjalani kewajiban untuk menyelesaikan pendidikan. Cuma ya memang meski punya tujuan tapi tetap saja hari-hari yang dijalani terasa begitu longgar sampai bawaannya cuma bisa berkhayal dan berharap semua ini cepat selesai. Tapi, di sisi lain, tidak bisa munafik juga kalau kita masih ingin bersantai dulu sebab dunia setelah lulus pasti tidak akan sesantai ini, alias cari kerja. Tanggung jawab oh tanggung jawab.
Quarter life crisis.
Seperti yang sudah saya bicarakan pada post sebelumnya. Krisis peralihan peran ini memang menyita banyak pikiran dan tenaga. Seakan-akan beban seisi dunia ditumpahkan semua ke pundak kita. Berat, tapi tetap harus dipikul. Tetap harus dijalani.
Ibarat sebuah novel, mungkin masa-masa akhir menjadi mahasiswa ini akan memiliki isi chapter yang sangat tebal sama seperti chapter saat menjadi mahasiswa baru.
Begitu banyak cerita, penemuan-penemuan baru, serta pembelajaran yang tidak akan ada habisnya.
Hal-hal seperti soal pertemanan, prioritas, ambisi, pendewasaan, waktu, ekspektasi, hikmah, pencarian jati diri, wah you name it deh. Semua bercampur aduk dalam adonan mahasiswa tingkat akhir.
Diantara seluruh hal tersebut, ada beberapa hal yang paling menonjol untuk saya. Yaitu soal pertemanan, goals dan pencarian jati diri.
- Pertemanan
Bukan hal yang baru lagi bagi saya untuk mengambil hikmah soal pertemanan. Sejak dulu saya senang memiliki banyak teman. Kendala ambivert yang di dominasi oleh sifat extrovert. Bawel. Tidak bisa diam. Well, disamping itu bagi saya dengan mengenal banyak orang, saya bisa belajar dan memiliki pemahaman yang lebih tentang dunia sekitar serta tentang diri saya juga. Setiap orang yang masuk dan keluar dari hidup saya pasti selalu punya cerita yang sungguh menarik. Entah saya bisa belajar lewat kedatangannya, maupun kepergiannya. Either way, saya bersyukur atas kedatangan dan kepergian mereka tersebut karena telah membuat saya jadi punya segudang pembelajaran. Pun juga saya merasa bersyukur atas kehadiran manusia-manusia unik yang sampai sekarang masih singgah dan menetap dalam hidup saya. You guys rock!
2. Goals
Banyak orang yang sudah menata goals hidup mereka dari jauh-jauh hari sebelum mereka lulus untuk kemana setelah selesai kuliah. Banyak juga yang belum memikirkan goals mereka hingga detik-detik terakhir. Lalu, tak sedikit juga yang sudah memikirkan goals itu bahkan jauh dari sebelum mereka masuk kuliah. Salah satunya yaitu, saya.
Dari dulu saya selalu tau mau kemana arah saya. Itu kenapa langkah saya selalu pasti. Selalu punya ambisi dan prioritas. Ayah saya lah agen yang telah menerapkan sistem kedisiplinan dan kemandirian itu sejak kecil pada diri saya dan adik-adik saya, sehingga secara otomatis sistem itu berpengaruh banyak pada cara pola pikir saya menatap peluang, cita-cita dan masa depan.
Anehnya, semakin saya tenggelam dalam dunia perkuliahan dan menjadi seorang mahasiswa, saya malah jadi kebingungan memilih arah tujuan saya yang sebenarnya itu mau kemana karena saking banyaknya ranah-ranah yang ingin saya coba. It’s like i have a passion for everything! Nah jadinya bingung mau kemana…
Tapi sebenarnya bingung-bingung banget sih tidak karena saya tau jelas saya maunya apa. Saya punya personal checklist yang selalu saya simpan dan saya bawa kemana-mana.
Saya ingin sekali masuk kedalam dunia “creative”. Ya, ranah yang cukup luas dan sedikit membingungkan. Dunia kreatif adalah zona nyaman saya, dimana saya bisa memutar otak, belajar, mencari pengalaman, menciptakan sesuatu yang baru, mengatur strategi, menganalisa masalah, observasi, seni, aesthetic, proses, team work, aarrgh kompleksitas dari dunia ini membuat saya begitu bersemangat!
Dalam hal ini saya benar-benar bersyukur karena passion saya tersebut berjalan bersamaan dengan sifat saya yang flexible, adaptable and also, i’m quite good at improvising.
Jadi, untuk masalah goals ini saya masih belajar untuk membuka pintu peluang saya satu-satu. Banyak cari informasi dan referensi. Saya percaya bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur. Setiap orang sudah dibagikan jatah dan porsinya masing-masing, sehingga tidak perlu takut untuk melangkah. Bismillah.
3. Pencarian jati diri
Nah untuk bagian ini sepertinya saya akan membuat post khusus kedepannya. Karena begitu banyak yang ingin saya tuangkan dan saya diskusikan kepada kalian. Sebagaimana poin ini merupakan salah satu poin yang cukup signifikan berpengaruh dalam perjalanan hidup saya di masa akhir kuliah ini dan tentunya banyak pula dari teman-teman saya yang merasakan hal serupa.
Besok-besok ya kalo ada waktu kita cerita-cerita lagi.
-
Jadi mungkin segitu dulu pembicaraan untuk malam ini. Mata saya sih sebenarnya masih belum mengantuk, tapi pundak saya ini loh sudah menjerit kesakitan karena pegal duduk dibangku terus. Maklum, kali ini saya menulis post ini menggunakan laptop sambil duduk di meja belajar, tidak seperti biasanya yang dengan menggunakan hp sambil leyeh-leyeh diatas kasur.
Saya pamit undur diri ya. Selamat malam. Selamat tidur!
With love,
R
