Langkah sederhana menulis fiksi ala Stephen King

Saran terbaik untuk mulai mempelajari sebuah keahlian adalah dengan mencoba teknik paling sederhana. Baby steps kata orang. Ini berlaku untuk semua keahlian termasuk menulis cerita. Kalau kau memasukkan kata kunci ‘cara menulis fiksi’ di google, kau akan menemukan banyak sekali saran. Mengikuti prinsip baby steps, kau seharusnya memilih langkah yang paling sederhana sebelum mencoba teknik-teknik yang lebih rumit.

Stephen King, penulis thriller produktif, menuliskan dalam bukunya ‘On Writing’ bahwa komponen dasar dari sebuah cerita ada 3, yaitu narasi, deskripsi, dan dialog. Kita bisa membuat sebuah cerita hanya dengan membentuk ketiga komponen tersebut. …


Here is what boxing teach me about writing fiction

“Everything in boxing is backward.”

Said the narrator in Million Dollar Baby film — a sports drama film based on F.X Toole’s book. On the screen, we can see an unnatural act a boxer must do. If he wants to move left he doesn’t step left but push his right toe. When he must move to the right, he uses left toe; and more absurd thing happened when he feels pain. Instead of running from the pain, he steps into it!

Watching the unnatural act of boxing reminds me of writing fiction. I think both share similar absurdity. You know…


Sabtu kelabu.

Dari dapur kau bisa melihat langit dipenuhi awan. Mungkin hujan akan turun siang nanti.

Dapur itu dikuasai aroma kopi, roti, dan kebingunganmu. Sambil mengoleskan mentega, kau memasang tampang orang yang tersesat di hutan dan meminta pertolongan kepada Getho yang duduk di seberangmu.

Cahaya mentari yang masuk dari jendela di belakang Getho membuat bulu-bulu makhluk itu berpendar-pendar.

“Kita ada di Bumi,” kata Getho memulai percakapan, “dan semua hukum alam, mulai dari gravitasi hingga sebab-akibat masih tetap berlaku. Bedanya Tuanku sekarang membawa serta kekuatan dari dunia kita.”

Kau menggigit rotimu, mengunyahnya dengan ganas, dan merasa sangat tidak nyaman duduk di…


Ketika bangun pukul tujuh pagi, hal pertama yang kau lakukan adalah memeriksa bokongmu. Mimpi gila semalam terasa begitu nyata. Kau seolah masih mendengarkan perintah makhluk-makhluk aneh semalam serta merasakan sebuah ekor.

Ekor? Pikirmu.

Kau meraba bokongmu lalu segera duduk. Matamu membuka penuh saat tanganmu merasakan kejanggalan.

Seutas tambang sepanjang sekitar tiga puluh sentimeter seperti menempel di bokongmu. Di mimpi semalam, kau memang mempunyai ekor yang panjang — sampai kira-kira sepanjang kaki. Tapi sekarang, setelah bangun, mengapa kau masih mempunyainya?

Dan mengapa hanya dua jengkal? Pikirmu.

“Memang masih pendek. Akan tumbuh maksimal dalam tiga ratus ribu tiga ratus enam puluh Deringo.”


Menulis adalah cara terbaik untuk membuat kenangan tetap hidup.

Kali ini aku akan menceritakan kisah kelahiran anak keduaku yang bikin aku terus tersenyum.

Setelah gagal mendampingi istriku bersalin di kelahiran anak pertama, aku bertekad tak akan gagal lagi di kelahiran anak keduaku. Keinginan sepele itu ternyata tak gampang untuk diwujudkan, utamanya karena aku bekerja di Jakarta sementara keluarga tinggal di Bandung. Tingkat kesulitan meningkat karena bakat mengecoh dan selera humor anak keduaku yang tinggi. Seorang teman secara bercanda pernah berkata bahwa anak keduaku berbakat menjadi sutradara atau penulis cerita thriller. …


Tidak Semudah itu Ferguso

Namaku Prima, kadang dipanggil Bill.

Perkenalan yang mantap untuk menjadi sebuah cerita. Sudah seperti cerita di novel-novel. Dan begitulah aku memperkenalkan diri.

Lelaki di depanku mengangguk dan seperti menahan senyum.

Aku tahu, karena sudah terlalu sering orang berlaku seperti itu saat berkenalan denganku. Dan aku tahu pertanyaan dia selanjutnya. Pertanyaan yang tidak penting sebenarnya karena dia sudah tahu jawabannya.

“Nama lengkap?” kata pria itu.

“Bilangan Prima, Bang,” kataku.

“Ha..ha..,” dia tertawa.

Aku juga tertawa. Aku senang dia senang. Dan kau tahu, sangat penting membuat orang senang di hari pertama kerjamu. Tadi aku agak nervous sebenarnya. Ini pekerjaan pertamaku. …


Hari masih pagi. Restoran dengan aroma kopi dan roti itu masih lengang. Sambil menikmati kopimu tak sengaja kau melihat layar komputer orang yang duduk di sampingmu.

Dia menulis sebuah email lalu mengirimkannya. Tak lama kemudian seseorang meneleponnya. Kau mencuri dengar dan orang itu menyebutkan lawan bicaranya sebagai Leo. Mereka terdengar seperti bertengkar.

Setengah jam kemudian kau keluar ke jalan besar. Kau melihat orang di restoran tadi. Sebuah sepeda motor mendekati orang itu. Pengendara sepeda motor itu mengeluarkan pistol lalu menembak orang itu.

Kau melihat jelas si pengendara sepeda motor. Si pengendara juga melihatmu lalu membidikmu. Kau merunduk. Tembakan meleset. Orang-orang…


“For many businesses, writing is one of biggest pain in the ass.”

Aku berhenti sesaat ketika membaca kalimat itu pada sebuah blog.
Benarkah menulis begitu menyiksa buat orang bisnis?
Kalau kau pernah ditugaskan menulis laporan atau artikel, kau akan tahu tahu jawabannya.

Saat tugas itu datang, kau akan mencoba mengulur-ulur waktu pengerjaan hingga batas berakhir. Mungkin juga kau membuka program wordprocessor, melihat layar kosong, dan menyadari tak ada yang bisa kau tulis. Atau kau mencoba mengetik dan setelah sekian lama, setelah kau baca ulang, kau membenci tulisanmu dan menghapusnya. …


Horor ala-ala Hoax

Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal ini. Tapi semakin lama aku menahannya, semakin nyata cerita ini. Terutama saat aku membaca cerita-cerita viral.

Aku tidak begitu ingat dimana mendengarkannya. Mungkin saja aku baca atau tonton di suatu tempat. Tapi di pikiranku cerita ini sangat nyata.

Dan cerita inilah yang akan aku ceritakan kepada kalian sekarang. Begini ceritanya:

Cerita ini milik seorang teman. Sebut saja namanya Bima. Bima suka menulis cerita horor, namun sampai sekarang belum satu pun novelnya terbit. Sudah banyak surat penolakan yang dia terima. Tentu bisa dimaklumi kalau Bima agak frustrasi. Bima pun mulai meragukan bakat menulisnya.

Entah dapat…


Writer Block itu nyata. Kalau sudah terserang tak satu kalimat pun bisa kau tulis.

Jujur, setelah menerbitkan novel Spammer (review bisa dilihat di sini: https://www.goodreads.com/book/show/31343223-spammer ), aku tak bisa menghasilkan satu karya pun. Awalnya aku cuma mau istirahat sejenak, eh, ternyata keterusan. Ketika ingin kembali menulis, semuanya macet. Sialnya, karena sulit plusbanyaknya pekerjaan kantor, makin lama keinginan menulis makin redup.

Akhir tahun 2017, teman-temanku di Sarekat Penulis Kuping Hitam mengajak menulis cerpen untuk kami isi di website kami https://www.kupinghitam.com/

Satu orang wajib membuat 1 cerpen 1 tahun. Website akan diisi bergantian setiap bulannya. …

Ronny Mailindra

Penulis, novelis, dan programmer. Info lengkap di http://mailindra.com

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store