Tiga Pangkat Tiga #24 : Dari Mata

Semenjak sekolah dasar, proses penjodohan massal yang penuh pemaksaan dan sesuka hati selalu terjadi. Sekumpulan orang yang menjadi mayoritas memilihkan pasangan untuk setiap orang. Semua berujung dengan cie cie atau kalau saat saya SD nama kita akan muncul di papan tulis, meja bahkan kamar mandi lalu diikuti dengan gambar hati dan panahnya dilanjut dengan nama pasangan paksaannya. Saya tidak tahu apakah yang menulis semua itu adalah para makcomblang atau justru ditulis sendiri oleh sang aktor. Tentu saja sikap kita akan menyesuaikan terhadap siapa yang diajukan untuk jadi pasangan paksaan ini, karena memang niatnya pembullyan, tapi kalau ternyata yang dipasangkan adalah yang kita juga suka, tentu kita malah bahagia.Tapi sekali lagi jika yang dipasangkan adalah yang tidak juga suka, mungkin kita hanya menyimpan maaf kepadanya karena kondisi yang membuatnya memilih jalan lain saat akan berpapasan karena ada cie cie entah darimana asalnya.

Dan proses penjodohan ini hanya berbasis kesamaan, orang dengan mudah beranggapan ini akan cocok dengan yang itu karena mereka sama-sama pintar, atau sama-sama kaya bahkan yang ganteng akan dapat yang cantik. Semua itu terjadi jika yang dipasangkan bukan merupakan sasaran dari mayoritas pembully, karena jika itu terjadi maka ini adalah permainan yang kita tiba-tiba diwayangkan untuk menjalani skenario untuk penjajakan yang tinggal tukar peran saat waktunya telah tiba. Begitu kiranya analisis saya saat saya masih sekolah dasar, saat jumlah laki-laki di kelas kami masih minoritas.

Berbeda di jenjang selanjutnya, sekolah di asrama menyebabkan ada keterpisahan antara putra dan putri, berhubungan antaranya hanyalah sebuah pemancing hukuman. Kisah asmara kala itu berujung dengan operasi surat-surat cinta dalam lemari siswa yang akan dibaca di muka umum. Yang bertahan masih mencari celah untuk berjanji bertemu di jembatan cinta, tempat kami menyebutnya karena banyak muda mudi yang bertemu disana. Saat STM juga tak kunjung membaik, perbandingan gender yang kala itu satu banding sepuluh mungkin juga faktor. Kelas kami hanya ada empat siswi, namun yang jadi perhatian siswi jurusan lain. Semesta mempertemukan kami pada hari jumat saat menjaga buku daftar tamu dan absensi. Jadi setiap hari ada dua orang yang berdiri di meja resepsionis dan memastikan kalau ada tamu mengisi absensi dan pada jam setelah istirahat kami memutar per kelas untuk mendapat nama yang tidak hadir hari itu. Takdir memilih saya bertugas dengan yang diperwajahkan di sekolah kami, namun entah karena tak terbiasa, hari itu saya memilih mengikuti apa yang dia lakukan. Bahkan saya tidak punya bahan obrolan yang hari ini sudah jadi bualan tiap hari.

Dari semua spot yang ada di kampus mungkin yang paling saya sukai adalah di depan mushola, selain ini adalah camp sederhana beberapa anak sekelas dan memudahkan untuk beribadah. Setiap tengah hari dari sudut ini akan ada keajaiban yang melintas. Entah, selama hampir empat tahun, saya memilih stabil di titik ini, tak ingin mendekat. Pernah sekali jarak antara kami melewati orbit dan saya akhirnya mendengar suaranya dengan nada paling nyolot dan berkata harus gitu banget ya. Oke, saya pikir ini yang akan terjadi jika bulan berada pada garis yang sama dengan bumi dan matahari, akan gelap. Saat kuliah lanjutan pun hal yang terjadi berulang, tapi kali ini ruang kuliah kami berbentuk huruf U sehingga kami saling berhadapan. Kali ini juga yang berubah adalah saya tak sendiri, ada teman satu bangku dan satu kelompok yang memandang pada sudut yang sama saat dosen menerangkan, kami melakukan observasi lain.

----------------------

Tiga Pangkat Tiga : 27 cerita 27 hari 27 tahun, sebuah refleksi dalam 27 cerita selama 27 hari beruntun menjelang 27 tahun usia saya

    Miftachur ‘Ben’ Robani

    Written by

    Connecting People to Forest

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade