Tiga Pangkat Tiga #25 : Niat Nikah

Dia adalah teman sekolah saya, karena sering bercanda sampailah pada ajakan ke tahapan yang serius. Dia mungkin sedang bimbang memilih pria yang dicintainya tapi belum berniat nikah atau yang siap menjamin kebutuhan masa depannya. Hati dan logika berjalan berlawanan, ingin memeluk dua gunung apa daya tangan tak sampai. Pilihan itu jatuh ke saya dengan segala kekurangannya, saya banyak menghabiskan pulsa untuk paketan telpon yang lama-lama dia sulit dijangkau. Tiba-tiba hubungan ini tak bisa dilanjut, setelah obrolan masa depan, sampai obrolan kapan lamaran telah sampai ke keluarga besar saya. Satu pelajaran, Ibu Bapak jangan dikasih tahu sampai semua benar beres.

Dia baru saja lulus kuliah dan sedang mencari pasangan, dia juga sedang belajar konsisten beragama dengan baik. Kurang lebih begitulah cara teman saya memperkenalkan teman kuliahnya kepada saya. Berbekal nomor yang diberi, saya mengutarakan niat saya yang dibalas dengan silahkan bertemu orang tuaku saja. Saya meminta alamatnya dan memacu motor ke luar kota dan ternyata orang tuanya sedang keluar dan saya tak bisa jelaskan apa maksud saya kepada kakaknya. Setelah orang tuanya pulang, barulah saya mengutarakan niat saya yang dinilai tiba-tiba oleh mereka. Tanpa pernah bertatap muka sekalipun, saya mencobanya, namun ada permintaan dan sesuatu hal yang diinginkan namun tak ada pada saya. Kisah ini berujung tangisan berhari-hari karena perjuangan itu nihil dan mustahil.

Dia dikenalkan oleh temanku yang lain, katanya pernah datang saat saya memberi kelas digital pada suatu weekend, katanya dia tertarik dengan saya, entah pesona apa yang saya bawa. Melalui mediator, kami melakukan penilaian terhadap informasi yang diterima, berujung pada satu grup chat bersama untuk bertanya apa yang ingin diketahui lebih lanjut. Sampailah saat harus melampirkan foto dan saya mulai berubah pikiran, saya mengatur jadwal dan merasakan keurungan keinginan saya. Lanjut saya memakai cara lain untuk mendapatkan pasangan, kali ini via grup chat yang menyebarkan data lawan jenis yang punya niat serius menikah, ada satu yang menarik saya, namun setelah mencoba berkomunikasi ada hal lagi yang membuat saya juga memilih mundur lagi.

Dia adalah wanita dari kota nan jauh disana yang dikenalkan oleh ibu teman saya karena anaknya satu asrama dengan dia. Perlu persiapan yang matang, selain tak pernah jalan jauh sendiri, masalah kedua adalah apakah secara nampak, dia memang orang yang saya cari. Kemungkinan iya, kata ibu teman saya meyakinkan. Akhirnya saya berangkat karena salah satu info, dia baru saja ditinggal bapaknya, artinya saya hanya akan berhadapan dengan ibunya, sebuah modal berharga. Ternyata saya ditemui kakaknya yang pertama dan juga belum menikah. Penuh serangan dalam pertanyaan sang kakak mencecar, sampailah pada saat dia keluar dan memperlihatkan wajahnya, benar kata ibu teman saya. Beberapa hal tentang dia adalah dia paling rajin, bisa memasak dan dia pendiam, sulit saya menemukan jembatan obrolan. Seminggu setelah saya pulang, datanglah kabar ketidaksanggupan dia dikarenakan ingin menuntut ilmu terlebih dahulu.

Begitulah yang telah saya alami, niat saya masih sama, karena ketika niat baik belum terwujud, kita sudah mengumpulkan satu pahala, tinggal eksekusi untuk menggenapkan sepuluh. Semoga segera.

---------------

Tiga Pangkat Tiga #25 : 27 cerita 27 hari 27 tahun, sebuah refleksi dalam 27 cerita pada 27 hari beruntun jelang 27 tahun usiaku

    Miftachur ‘Ben’ Robani

    Written by

    Connecting People to Forest

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade