Tiga Pangkat Tiga #26 : Mencari Nafkah
Tentu saja tidak bisa kita terus bergantung dengan orang tua, walaupun Beliau adalah tempat kembali saat kita membutuhkan. Namun ada egoisme yang berkata kita harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan menunjukkan ijasah yang kita perjuangkan benar-benar berguna. Setelah sempat membantu kampus dengan menjadi asisten dosen, ada satu project yang ditawarkan dari temannya teman saat kuliah lanjutan. Saya diminta membuat sebuah aplikasi untuk sebuah bengkel motor yang katanya adalah bengkel terbesar di asia tenggara. Tugas saya cukup sederhana, bagaimana membantu orang yang motornya mogok atau booking service melalui aplikasi. Namun saya merasa kurang perform karena skill saya yang terbatas, setelah molor hampir setahun, menerimalah saya fee yang terasa banyak karena kerjaan profesional pertama, dan terakhir sebenarnya.
Seandainya itu kami tekuni, mungkin aplikasi yang kami buat akan digunakan oleh seluruh bengkel dan saya lebih tahu bisnis yang sekarang saya geluti. Saat kuliah lanjutan teman saya mengajak membuat startup karena di ibukota sedang happening, namun saya tidak paham lalu ide itu menguap begitu saja. Setelah beberapa bulan selepas saya kuliah,saya masih sering ke kampus untuk numpang online dan pelarian dari rumah agar kelihatan sedang bekerja, pagi saya berkemeja rapi berangkat agar tetangga tahu saya sibuk. Beberapa lamaran kerja juga sempat saya sebar untuk jadi dosen di kampus dalam kota, hanya satu yang membalas penolakan, satu kampus lain berhasil saya lewati ujian tulis sampai ujian koran yang kata orang itu sulit, tapi bagi saya itu masih dapat saya hadapi. Sampailah pada wawancara, setelah pertanyaan dari prodi yang menuntut lanjut kuliah luar negeri yang saya tolak karena saya ingin dalam kota bersama ibu saya. Lanjut ke wawancara pengelola yayasan yang setelah bertanya tentang strategi pemasaran untuk kampus sampai pertanyaan tentang penampilan fisik saya dan apa keyakinan saya. Ujungnya saya tidak lolos dan saya menaruh dendam.
Setelah hampir enam bulan masih kluyuran di kampus, datanglah tawaran yang hampir bersamaan,yang pertama dari prodi saya untuk membantu administrasi. Tawaran yang mungkin kurang mentereng, namun saya merasa banyak berhutang pada institusi ini, sehingga saya memilih mengiyakan, saya dikontrak lebih setahun dengan target ambisius membawa nilai A untuk akreditasi. Saya memimpin projek ini dengan perlahan sampai saat visitasi saya merasa sangat-sangat deg-degan karena apa yang kita rencanakan ada simpangan yang menjadi kejutan. Namun ujungnya kekhawatiran kami lenyap berganti panjatan rasa syukur karena kita melewati batasnya, jadilah saya dapat berpamitan dengan kepala tegak.
Beberapa hari setelah saya tanda tangan kontrak dengan kampus, saya diajak untuk ikut datang sebuah event tentang startup oleh adik kelas yang menjadi partner saya hari ini. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena benar-benar lingkungan baru dan apa tugas saya disana, bertemu jugalah saya dengan rekan satu tim, jadilah saya menggenapi tim yang semula bertiga namun ditinggal salah satu anggotanya. Sampai sekarang, inilah jalan yang saya pilih, sempat saat masih ada kontrak dari kampus, saya harus jam delapan pagi sampai jam empat saya kerja di kampus, jam empat sampai dini hari saya melembur untuk perusahaan rintisan kami. Sempat mengerjakannya di kampus, berlanjut di satu petak kosan yang cuma muat satu meja untuk bertiga, lanjut menumpang di ruang tamu satu kontrakan yang ujungnya kami diusir karena miskomunikasi, lanjut menyewa satu lantai yang harga sewanya terus naik karena melihat potensialnya kami, akhirnya sekarang kami bisa menyewa satu rumah yang dapat kami tinggali sekaligus kami berkarya. Tim kami pun terus bertambah, dari tiga orang pernah mencapai dua puluh orang termasuk magang dan sekarang kurang dari sepuluh orang. Banyak kisah menarik dari yang menyedihkan sampai yang membanggakan, sebuah cerita tentang perjalanan panjang menjadi saya hari ini, semoga kita bisa berbagi kisah ini di kesempatan lain.
--------------------
Tiga Pangkat Tiga : 27 cerita 27 hari 27 tahun, sebuah refleksi dalam 27 cerita pada 27 hari beruntun jelang 27 tahun usia saya
