Hantu bernama Jokowi dan Prabowo

Robbi Baskoro
Sep 1, 2018 · 2 min read

Kita tumbuh besar dengan ditakuti cerita hantu. Saya sendiri dengan hantu Si manis Jembatan Ancol. Generasi yang lebih tua mungkin dengan hantu Suzanna. Mungkin generasi sekarang dengan hantu Pengantin perawan.

Apapun jenis hantunya, semuanya nampak menakutkan, dan siap menghukum pemain cerita. Kadangkala termasuk yang tidak ada sangkut pautnya dengan jalur cerita utama. Seperti abang bakso yang dikejar hantu karena kebetulan lewat kuburan.

Ketakutan akan hantu ini sebenarnya dimulai amat dini, sejak kecil. Hantu digunakan oleh orang tua jika anak tidak patuh. Anak tidak mau tidur ditakuti hantu, anak nakal ditakuti hantu, anak tidak mau makan juga solusinya sama, hantu.

Ini disebabkan orang tua malas menjelaskan sebab dan akibat perbuatan, inginnya jalan pintas saja. Maunya anak menurut, tapi orang tua enggan melewati proses. Solusinya ya itu, ditakut takuti dengan hal yang tidak rasional.

Padahal, jika kita mau jujur, cara mendidik seperti ini berperan besar dan membentuk pola pikir tidak rasional. Jalan pikiran ini yang kadang terbawa sampai dewasa. Kadangkala tanpa disadari oleh penderitanya.

Sekarang, situasi politik sebenarnya mirip dengan cerita hantu tadi. Tokoh yang maju pemilihan pilpres nanti digambarkan sebagai hantu yang menyeramkan. Supaya orang takut memilih salah satu diantara mereka. Siapa yang melakukan ? Oleh yang tidak ingin mereka berkuasa. Entah siapa.

Kemudian dikembangkanlah narasi narasi, bahwa jika salah satu dari mereka memimpin, akan ada golongan rakyat yang ditindas. Dicarilah pembenar narasi sumir tadi, seringkali dengan cerita bohong yang lain. Konyolnya, masih banyak yang percaya.

Rakyat juga menjadi semakin histeris, atas sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Padahal, jika kita berpikir dengan akal sehat, zaman sebenarnya sudah berubah. Di zaman sekarang, lebih banyak insentif membantu, daripada mencelakai orang lain. Termasuk jadi presiden, pasti mereka ingin berkarya juga.

Zaman juga sudah membuktikan, kemajuan adalah milik yang banyak berkarya. Bukan milik yang suka menyalahkan, apalagi untuk yang menganggap kemalangan dirinya, disebabkan oleh hantu.

Jadi, berhentilah takut pada hantu. Berhenti juga sebar sebarkan cerita hantu. Kalau belum berhenti juga, bisa jadi kamu itu pembuat cerita hantu. Yang hidup dari menakut nakuti orang lain.

Robbi Baskoro

Written by

Partai akal sehat

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade