“Bapak” dan Ke-Biasa saja-an orang Madura

Sebagai manusia yang sejak dalam ide sampai dengan realitas lahir, tumbuh dan besar di Madura sosok “BAPAK” yang ditampilkan dalam buah hati dan jari Halimah Ganarsih ini menurutku tampak biasa-biasa saja. Sosok sepertinya mudah dijumpai dalam lingkungan Maduraku.

Pribadi “Bapak” yang pekerja keras, rajin ibadah, perhatian sama anak-anak, mampu menertawakan kegelian hidup, bertanggung jawab pada keluarga dan yang tak kalah penting suka DANGDUT adalah hal lumrah bagi lelaki Madura. Begitulah memang seharunya.

Khusus berkaitan dengan dangdut, untuk menjaga kepri-Madura-an, sampai saat ini meski sudah tak lagi tinggal di Madura tetap saja saya koleksi dan sering berdangdut, meski diam-diam. 😁

Lalu apa yang Ejjos dari Buku ini?

Yang ejjos dari buku ini adalah kemampuan penulisnya untuk menampilkan ke-biasa saja-an “Bapak” dalam menjalani peran dan fungsi diri dalam kehidupan sehari-seharinya.

Di dalamnya memang ada cuplikan “Bapak” yang mengharukan, lucu, inspiratif dan menakjubkan. Apakah semua itu sesuatu yang “Luar Biasa”? Sebagai orang Madura yang dibesarkan dalam lingkungan kampung yang membiasa-saja-kan ragam drama dan pertunjukan hidup, saya akan tetap menjawab “Biasa Saja. Memang ‘Bapak’ begitulah seharusnya.”

Pada suatu kapan dalam sebuah pertemuan, setelah mengetahui saya orang Madura pejabat yang hadir tiba-tiba bercerita tentang temannya orang Madura yang menurutnya baik dan pintarnya “Luar Biasa”, Dengan polos tapi jujur saya pun bilang “Biasa saja itu, orang Madura memang Harus begitu”. Pejabat itu pun hanya mengernyitkan dahi sambil nyeloteh “Emang kamu orang Madura”..

Kata guru ngaji saya, “Jadi manusia itu ya biasa-biasa saja, tidak perlu berlagak luar biasa dan berharap untuk jadi “Luar Biasa”. Jalanin saja peran dan fungsimu sebagai pribadi manusia yang unik. Jika ada orang lain yang berbeda denganmu misalnya (tampak) lebih dalam segala hal dibandingkan denganmu, itu bukan karena dia luar biasa. Melainkan karena dia mampu memaksimalkan peran dan fungsi kemanusiaannya yang dititipkan Tuhan kepadanya. Karena itu tak perlu iri dan bermimpi untuk menjadi orang lain.”

Sebelum membuka buku ini penulisnya ngasih saran unik, katanya “Saat membaca basmalah, ingat nama perempuan yg kamu ingin dia menjadi jodohmu dan ibu dari anak-anakmu. Dijamin ampuh. Sudah teruji.😁😁😁”

Awalnya ingin mengikuti saran itu, tapi liat cover buku yang menampilkan “Bapak” dengan atribut Madura, yang muncul dipikiran alunan dangdut “Senandung Rembulan” yang dilantukan Imam S Arifin yang liriknya begini : Kudengar alunan lagu/Bersenandung rindu/Melodi cinta yang menggebu/dst… setelah itu muncul Via Valen dengan lagu “Sayang” dan Siti Badriyah dengan “Lagi Syantik-nya”. Dangdut tetiba berkelindan menghadirkan ke-pri-Madura-anku.

Akhirnya ku mulai saja buka buku itu dengan lantunan alfatihan untuk untuk penulis dan bapaknya..