Mudik: Menemukan dan Menuju Asal Mula

Dunia sufi

Musim mudik telah tiba. Kebiasaan yang telah terjadi sejak entah kapan itu menjadi pesona budaya unik yang dimiliki umat Islam negeri ini setiap hari Raya. Istilah mudik-mengutip tulisan Zawawi Imron- berasal dari kata ‘udik’ yang berarti bagian sungai yang ada di bagian hulu atau dusun yang jauh dari kota. Dalam praktek sehari-hari, kata mudik sama maksudnya dengan pulang kampung.

Keinginan atau kerinduan untuk kembali pada asal merupakan fitrah yang ada dalam diri manusia. Maka, kampung halaman sebagai tempat lahir dan tumbuh besar pastilah mengandung aneka kenangan yang sesekali untuk menikmati kenangan itu hanya bisa dilakukan dan dirasakan dengan mendatanginya kembali. Itulah mengapa, meski mudik harus berdesakan, bermacet-macet, dan berbiaya lebih mahal para perantau itu rela melakukannya demi melepas kerinduan yang terpendam pada ‘masa lalu’ yang menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

Kalau sesekali kita bisa meluangkan waktu menikmati panorama wisata di kota-kota atau bahkan ke mancanegara, maka tiada salahnya jika sekali waktu berwisata ke kampung halaman yang menyimpan kisah masa lampau pribadi kita yang di sana mengandung makna sangat penting bagi diri dan keluarga kita.

Bagi mereka yang berkampung di pegungungan: desiran angin di bawah pepohonan yang rindang dan nyanyian burung yang dinikmatinya di masa kecil bisa menjadi salah satu alasan kerinduan, sebagaimana mereka yang berkampung di pesisir yang merindukan kicauan ombak yang telah lama tak dirasakan. Tetapi, melebihi alasan itu kerinduan untuk menjumpai orang tua, berkumpul bersama sanak saudara, berjumpa dengan para tetangga adalah alasan utama mengapa perantau itu mudik. Dari budaya mudik ini, kita bisa belajar bahwa gemelap kota rantau dan keindahannya yang jauh dari kampung halaman sekali waktu bisa berubah menjadi tak indah dan tak betah untuk ditinggali ketika kerinduan pada asal mula merasuk dalam jiwa. Kita pun bisa belajar, bahwa kita punya asal mula yang pada suatu kapan kita pasti kembali padanya. Inilah makna ruhani dari mudik.

Bukan Ajang Pamer

Tetapi, mudik tak selalu memiliki makna atau dimaknai secara ruhani. Kadang kala ia hanya menjadi sebuah ajang unjuk keberhasilan yang telah dicapai di perantauan. Maka, kampung halaman yang penuh dengan romantika masa lalu dan penuh makna menjadi sirna digantikan ajang pameran kekayaan dan kesukesan yang bisa jadi semua itu berisi kepalsuan untuk membuat warga kampung mengakui kesuksesannya, serta mengaku bahwa dirinya miskin dan papa dibandingkan para perantau yang ‘sukses’ itu. Mudik yang seperti inilah yang bisa membawa penyakit sosial dan memancing cemburu bagi warga kampung yang dimudiki.

Mudik yang tak-ber dan dimaknai inilah yang secara perlahan menggeser budaya adilihung yang ada di kampung. Pameran dan ajang keberhasilan materiil tanpa disadari secara perlahan menjadi inspirasi bagi anak kampung di musim mudik. Kemudian terjadilah pergeseran pandangan bagi warga kampung, -dari yang sebelumnya anak-anak menghormati para guru, orang tua, guru ngaji, dan menjaga tali silaturrahim- pada kebiasaan mendatangi dan mendengarkan bualan para perantau, kesuksesan materiil mereka. Pada akhirnya secara taksadar ‘keberhasilan’ dan ‘kesuksesan’ yang diraih itu dilegitimasi sebagai asas pengakuan atas ‘kemanusian’ seseorang. Hal itu terlihat dari predikat yang disematkan orang kampung pada orang-orang ‘sukses’ dan ‘kaya’ itu yaitu “uwes dhadi wong”, artinya meraka yang sukses dan kaya itulah yang kemudian layak disebut sebagai manusia.

Mudik ke Asal Mula

Di atas telah disebut bahwa rindu dan keinginginan untuk kembali pada asal mula adalah fitrah manusia. Mudik adalah cerminan dari fitrah itu. Tetapi, benarkah kampung halaman tempat kita lahir dan tumbuh besar adalah tujuan mudik sejati?. Tidak. Mudik hanyalah cerminan sekaligus ruang mencari makna untuk bekal kita mudik yang sejati dan abadi. Sudahkah kita merindukan untuk mudik yang sejati dan abadi itu?

Setelah kita sampai di kampung halaman, cobalah kita perhatikan di kiri dan kanan kita. Periksa orang-orang yang kita cintai: ayah-ibu, guru, saudara, kekasih, tetangga, sahabat dan yang lainnya. Adakah di antara meraka yang tidak bisa berkumpul dan bergabung merayakan idul fitri bersama kita? ke manakah orang tua kita yang tahun lalu masih menyambut uluran tangan kita dengan tangis bahagia? Ke manakah sudara dan tetangga yang tahun lalu gelak tawa bahagianya masih kita lakukan bersama? Kemanakah teman dan sahabat kita yang lalu masih sempat mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin” pada kita?

Di antara meraka ada yang tidak bisa bersama kita lagi, karena meraka telah mendahului kita melakukan mudik sejati dan abadi ke pada-Nya. Pada asal dari segala yang ada. Sebuah mudik yang pada saatnya kita juga akan melakukan tanpa kita ketahui kapan waktunya dan tanpa ditanya apakah kita sudah melakukan persiapan bekal yang cukup atau tidak?

Jika kita sudah persiapkan dengan bekerja sepanjang tahun untuk melakukan mudik yang hanya beberapa hari, apakah kita juga sudah persiapkan untuk perjalanan mudik yang tak terhingga? Jika kita sudah bekerja keras mengahabiskan masa muda untuk bekal di masa tua yang tak seberapa lama, sudahkan kita persiapkan bekal yang cukup untuk menuju mudik yang sangat panjang, setelah kematian kita? mudik yang bekalnya bukan kekayaan dan kesuksesan karier yang menjulang.

Riwayat berikut patut direnungkan sebagai bekal menuju mudik yang sejati: “suatu ketika, Rosulullah melewati pekuburan. Beliau menyapa penghuni kubur, ‘hai ahli kubur, tahukah kalian apa yang terjadi sepeninggal kalian? Istri-istri kalian sudah dinikahi orang lain, rumah-rumah kalian sudah dibagi-bagikan. Apakah kalian mau menceritakan apa yang kalian alami?’ Rosulullah bersabda ‘sekiranya mereka bisa menjawab, mereka akan berkata bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa’.”

Sudahkah kita bertakwa? Wallahu a’lam..

#refleksimudik #duniasufi

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rusdiie’s story.