Setabah Hati Bujang

-Brussels, 28 Mei 2016-

Pukul tujuh pagi, tidak pernah lewat semenitpun, Kira selalu muncul dengan badan sempoyongan. Duduk sekenanya di halte itu sambil mengumpulkan separuh sukmanya. Kira pasti tidak sempat mandi, atau mungkin memang sengaja tidak melakukan rutinitas itu. Entah apa yang dilakukan gadis itu tiap malamnya. Yang Bujang tahu, tiap pagi Kira selalu muncul dengan keadaan yang sama persis. Muka mengantuk, baju lusuh tak disetrika, ditambah lagi rambut panjangnya yang acak-acakan. Untung saja masih ada sisa-sisa kecantikan di wajahnya yang tampak, sehingga orang tidak salah mengiranya sebagai gelandangan.


"Nanti jika aku pergi, kamu harus menjaga Kira untukku. Aku tahu kamu amat mencintai dia. Dan aku tahu kamu tidak akan membiarkannya terluka."

Lengang. Bujang tidak menanggapi ocehan serius sahabatnya itu. Bahkan mengangguk pun tidak.

"Sialan kau Teguh! Kira hanya menganggapku saudaranya, aku tahu itu. Kemarin siang dia mengucapkannya dengan lantang padamu di kamar ini, tepat saat aku hendak mengetuk pintu. Dan sekarang kau masih memintaku untuk menjaganya? Sahabat macam apa kau ini!"

Bujang hanya mampu menggerutu seperti itu di dalam hati. Selain tidak ingin melukai perasaan Teguh, benar katanya, Bujang cinta mampus pada Kira. Adik semata wayang Teguh. Gadis 20 tahun dengan kaki jenjang dan postur tubuh sempurna bak peragawati profesional. Rambut hitam legam sebahu, semakin manis pula dengan lesung pipit yang selalu muncul saat dia tersenyum. Saat menciptakannya Tuhan pasti lupa bahwa Dia sedang menciptakan sesosok manusia, bukan bidadari. Bujang berlebihan? Tidak tidak. Jika kalian tahu Mackenzie Foy, pemeran Renesmee Cullen di film Breaking Dawn part 2, saat Kira seusia dia bahkan kecantikannya tidak ada apa-apanya.


Pukul 07.05, hawa dingin masih terasa amat memilukan. Brussels sedang Spring kala itu. Tapi suhu disana masih belum beranjak dari sembilan derajat celcius. Kira mulai merapatkan mantel tebal yang ia kenakan. Tubuh kurusnya tampak sedikit gemetar. Membuat Bujang tidak tega dan ingin segera memeluknya. "Biar aku yang kedinginan, kamu harus tetap hangat." Begitulah yang selalu Bujang bisikkan dari kejauhan. Sambil terus menatap tubuh Kira yang semakin hari semakin kurus, tidak tampak sedikitpun bahwa tubuhnya pernah mewarnai berbagai cover majalah. Tapi Bujang tidak bisa melakukan apapun. Dari tempatnya duduk, bahkan bisikannya tidak akan pernah sampai di telinga Kira.

Pukul 07.06, Kira mengeluarkan sepuntung rokok dan korek dari tas jinjingnya. Bujang tidak pernah tahu sejak kapan Kira menjadi perokok. Tapi dilihat dari caranya merokok, sepertinya rutinitas itu sudah berlangsung sejak lama. Mungkin sejak dia menjadi model profesional di negeri ini. Tapi bukankah seorang model harus menjaga tubuh mereka? Jelas rokok adalah satu hal yang harus dihindari. Lantas sejak kapan? Sejak kepergian abangnya? Entah. Bujang tidak mau repot-repot memikirkan itu. Lihat saja, bahkan saat sedang merokok seperti itupun dia tampak amat manis di mata Bujang. Cinta memang membutakan bukan?


“Kiranti. Sedang apa melamun sendirian di sini? Abangmu ada?”

Kira diam.

“Eh neng geulis, ditanya diem aja sih.”
“Abang rese! Kira gak suka dipanggil Kiranti. Kayak nama obat datang bulan!”
“Hahaha. Gak apa-apa atuh, lumayan kan. Berarti Kiranti banyak berjasa buat cewek-cewek di seluruh pelosok negeri.”
 
“Pokoknya kalau Abang masih manggil Kiranti, Kira gak mau ngomong sama Abang!"

Kiranti, Kiranti. Sejak namanya muncul di iklan tv sebagai nama obat datang bulan, dia bersungut-sungut memberi tahu semua orang agar mengubah nama panggilannya menjadi Kira. Bujang orang kedua yang diberi ultimatum itu, setelah Abangnya. Tapi dasar Bujang! Dia selalu sengaja pura-pura lupa hanya untuk menggodanya. “Dia manis waktu ngambek.” Itu kata Bujang saat Teguh ikut mengomeli tingkahnya.


Pukul 07.08, setelah melemparkan puntung rokok sekenanya, Kira mulai merogoh bungkusan di sampingnya. Croissant polos dan segelas kopi. Bujang hafal betul dengan bekal pagi yang selalu dibawa Kira. Selama satu tahun, Bujang selalu memperhatikan setiap gerak-gerik Kira di halte itu. Tidak luput satu apapun. Dan perkara bekal itu merupakan salah satu yang tidak pernah berubah selama satu tahun. Membuat Bujang tidak habis pikir sekaligus sedih. Ada apa dengan gadis periang yang dulu amat dikenalnya ini. Dari sekian banyak pilihan roti di kota ini, kenapa dia memilih croissant polos tanpa rasa. Bahkan kopi, Bujang tahu Kira bukanlah penyuka kopi. Dia penyuka coklat. Tapi setahun ini, di kota yang amat terkenal dengan kelezatan coklatnya, dia bahkan tidak pernah sekalipun membawa coklat hangat sebagai bekalnya. Hanya kopi. Kopi pahit. Bagaimana Bujang tahu bahwa kopi itu pahit? Suatu hari, saat Kira melangkah masuk ke Tram 73, dia meninggalkan kopinya di halte itu. Sesaat setelah tram itu berlalu, Bujang lari tergopoh-gopoh demi memunguti gelas kopi sisa Kira. Dan dia mencicipi kopi itu tanpa malu-malu. Ah Bujang! Absurd sekali kelakuanmu.


-Bandung, 20 Mei 2014-

Sore itu Bandung diguyur hujan lebat, sudah tiga jam dan tidak ada tanda-tanda akan segera reda. Bujang memilih tidur pulas di kamarnya. Mematikan semua gadgetnya dan memutar CD playernya. Menyisakan alunan lagu-lagu dari Simon and Garfunkel, duo penyanyi lawas asal Amerika Serikat kesukaan Bujang, dan suara dengkuran yang sungguh kontras dengan genre lagu yang sedang mengalun. Dua jam Bujang tidur. Terbangun saat suara adzan maghrib mulai berkumandang dari musholla di samping rumahnya. Bangun dengan setengah kaget, Bujang langsung menyambar handuk dan berlari menuju kamar mandi. Dia tidak mau ketinggalan sholat berjamaah. Sekembalinya dari musholla, dia mulai menghidupkan kembali gadgetnya. Dan mimpi buruk telah terjadi.

Bujang terhuyung saat membaca pesan yang dikirim Kira dua jam yang lalu, tepat sesaat setelah dia mematikan handphonenya.

Bang Teguh kecelakaan. Meninggal di tempat. Gelap bang. Kira mau ikut bang Teguh.

Bujang histeris. Histeris karena kematian sahabatnya yang begitu mendadak. Histeris membayangkan apa yang akan dilakukan Kira. Kira dan Teguh. Mereka yatim piatu keturunan Sunda-Bugis, hanya Teguh yang Kira punya. Seluruh anggota keluarganya yang lain telah meninggal pada insiden kebakaran sepuluh tahun silam. Kira tidak pernah terpisah dari Teguh barang seharipun. Kematian Teguh jelas merupakan akhir dari hidupnya juga, bagi Kira.


-Rumah Duka, 20 Mei 2014-

Rumah Kira penuh sesak dipadati para tetangga dan teman-teman Teguh, juga teman-teman Kira yang ingin memberi penghormatan terakhir pada mendiang Teguh. Suasana duka terasa amat menyakitkan kala itu. Tapi Bujang tidak peduli, dia sibuk menyibak keramaian sambil terus mengawasi sekeliling sekaligus sibuk mencari-cari sosok Kira. Lebih dari rasa kehilangannya, perasaan khawatir justru sedang menyelimuti Bujang. Kira tidak ditemukan dimanapun. Prosesi pemakaman berlangsung tanpa Kira. Setelah nyaris putus asa mencari, akhirnya seorang perempuan paruh baya menghampiri Bujang. Kira ada di kamarnya, tidak mau ditemui siapapun. Dari tadi dia berkali-kali pingsan. Kurang lebih itu yang sayup-sayup Bujang tangkap dari bisikan perempuan itu. Bahkan katanya Kira secara khusus meminta Bujang pulang. Kira tidak bisa menemui Bujang karena akan semakin mengingatkan pada Teguh. Bujang lemas. Setelah kehilangan sahabat terbaiknya, kini wanita yang amat dia cintai juga menolak untuk bertemu dengannya lagi. Bujang menyerah dan memutuskan untuk pulang. Kira masih shock, butuh waktu untuk menenangkan diri. Besok dia pasti sudah baikan dan mau ditemui. Begitu yang terlintas di pikiran Bujang.


Pukul 07.15, tram 73 yang Kira tunggu akhirnya tiba. Bujang memperhatikan gerak gesit gadis itu saat melenggang naik. Bujang selalu berdiri sigap saat tram datang. Walaupun berjarak cukup jauh dari tempat Kira berdiri, Bujang selalu siap berlari jika tiba-tiba terjadi hal yang tidak diinginkan pada Kira. Seperti itulah Bujang selama setahun terakhir. Sejak Kira tidak ditemukan lagi di rumahnya, Bujang susah payah mencari informasi tentang Kira. Hingga terdengar kabar bahwa Kira telah terbang ke negeri ini, dan menjadi model profesional. Tanpa pikir panjang, Bujang langsung mengatur kepindahannya juga ke negeri ini. Bukan hal sulit bagi Bujang melakukan itu. Praktis sejak hari pertama dia menginjakkan kaki di Brussels, Kiralah yang menjadi tujuan pencariannya. Setelah menemukan jejak Kira, Bujang memiliki kesibukan baru. Sibuk menjadi penjaga Kira. Penjaga dari jauh, yang tidak pernah Kira sadari kehadirannya. Karena Bujang takut jika Kira mengetahui keberadaannya, dia hanya akan semakin menjauh dan melarikan diri lagi. Maka demi memenuhi permintaan terakhir Teguh dan demi perasaannya sendiri, disanalah Bujang setiap pagi. Melakukan perjalanan 45 menit dari Antwerp hanya untuk menemani Kira menunggu tram 73. Bagi Bujang, tak mengapa meskipun dia harus berangkat pagi buta, selama dia bisa mengantar Kira setiap paginya. Tidak mengapa Bujang melewatkan sarapan paginya, asal dia bisa melihat Kira. Asal Kira baik-baik saja.

Pukul 07.20, Bujang masih terus duduk termangu di halte itu. Memandangi sisa-sisa bayangan Kira saat meninggalkan halte. Sambil terus meratapi kisah cintanya yang begitu menyedihkan. Meratapi gadis tercintanya yang dulu amat periang telah berubah menjadi gadis pendiam dengan tubuh kurus dan tatapan mata sayu. Menyesali kenapa Bujang hanya diam di halte itu selama ini, tanpa sekalipun berusaha menyelamatkan Kira dari kepahitan hidupnya. Masih sibuk dengan lamunannya, tiba-tiba sesosok gadis cantik muncul di hadapan Bujang.

“sedang apa sendirian disini?”

Bujang tersenyum, memandang gadis itu selintas. Menolehkan pandangan pada klipingan surat kabar yang tertempel disana. Yang jika diterjemahkan, headlinenya berbunyi:

“Brussels, 28 Mei 2015. Kiranti, super model asal Indonesia, ditemukan tewas overdosis”

Setelah meletakkan buket bunga di bawah klipingan itu, Bujang berlalu menghampiri gadis itu.

“Menunggumu.”
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Renjana’s story.