Al-Kalim Ath-Thayyib dan Dai Mulhaq

Liburan musim panas kali ini untuk pertama kalinya aku berkenalan dengan program-program pengiriman dai yang dibiayai penuh oleh Arab Saudi, konglomeratnya, maupun pemerintahnya. Selama ini program-program itu hanya kudengar sambil lalu. Kali ini berbeda, aku juga ikut terlibat langsung ke dalam salah satu program.

Aku ikut program pengiriman dai yang dilaksanakan oleh sebuah yayasan yang bernama al-Kalim ath-Thayyib. Yayasan ini diinisiasi oleh salah seorang dosen LIPIA, bernama DR. Abdullah al-Habr. Al-Habr menjadi perantara para orang-orang kaya dermawan di Arab Saudi dengan para pengurus Yayasan. Para pengurus Yayasan sendiri adalah lulusan-lulusan LIPIA. Para dermawan melimpahkan dana melalui DR. Habr yang lantas dia alokasikan kepada Yayasan. Tugas utama Yayasan adalah merekrut dan menyebarluaskan dai-dai ke segala penjuru Indonesia. Dai-dai tersebut tidak perlu berusah payah apa-apa selain meluangkan waktu dan mencurahkan ilmu yang mereka punya di berbagai tempat yang telah disepakati. Seluruh tunjangan fasilitas, akomodasi dan transportasi, hingga pesangon bagi mereka ditanggung oleh yayasan.

Pada awalnya, adalah temanku sedaerah asal, Nasruddin dan Shiddiq yang mengajukan proposal kepada Yayasan. Setiap dai yang ingin di derah asalnya diadakan program Yayasan berupa daurah (seminar) syar’iyyah selama sekitar sepuluh hari, harus mengajukan proposan untuk kemudian akan dipertimbangkan oleh Yayasan. Jika Yayasan menganggap daerah tujuan program layak maka proposal mereka akan diterima. Nasruddin dan Shiddiq mengajukan proposal untuk kota asal kami, Kota Kendari. Proposal mereka diterima namun mereka terkendala satu hal; setiap tim yang akan dikabulkan proposalnya haruslah terdiri dari tiga orang. Saat itulah aku masuk.

Selain program dari Yayasan ini, ada satu lagi program yang aku lihat sendiri, meskipun tidak terlibat langsung. Program tersebut adalah sebuah program pengiriman dai ke daerah-daerah pelosok Indonesia. Daerah yang kira-kira membutuhkan sentuhan dakwah. Kami menyebutnya program dai mulhaq. Kami sebut begitu karena program tersebut adalah hasil kerjasama antara Kementrian Agama RI dengan Mulhaq Diiny (Atase Agama) Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi di Indonesia. Para peminat program tersebut mendaftarkan diri ke mulhaq untuk kemudian menjalani serangkaian test kelayakan. Bagi mereka yang lulus akan ditempatkan di titik-titik dakwah (yang ditentuka oleh mulhaq) selama bulan Ramadhan. Sama seperti program Yayasan, dai menerima fasilitas dari mulhaq. Fasilitas itu diberikan berupa dana cair yang dapat menyentuh angka 10jt rupiah. Ini lebih banyak jika dibandingkan dengan dana yang disediakan Yayasan bagi program daurah syar’iyyah-nya yang hanya berjumlah 11jt rupiah untuk setiap tim yang terdiri dari tiga orang. Namun selain dana cair, Yayasan telah memberikan fasilitas penunjang berupa buku-buku, sertifikat, dan kelengkapan administratif lainnya.

Adalah Hamka, salah seorang kawanku yang menjadi salah satu dai mulhaq. Aku, Hamka, Nasruddin, dan Shiddiq, berada dalam satu naungan komunitas yang sama. Kami sama-sama santri Hidayatullah yang kini tergabung dalam el-Mahalli (Mahasiswa Hidayatullah di LIPIA).


Ada beberapa hembusan isu yang mengatakan bahwa Arab Saudi mencurahkan dana khusus untuk penyebarluaskan idelologi mereka; wahhabisme. Jika menilik kepada dua program ini, isu tersebut tidak dapat dihindari. Karena memang, donatur utama program tersebut adalah Arab Saudi. Bahkan pada program dai mulhaq yang merupakan kerjasama resmi dua kementrian Agama dari dua negara. Arab Saudi-lah penyedia dana utama. Kementrian Agama RI cenderung hanya bertindak sebagai fasilitator semata. Bagiku, seandainya pun program tersebut membawa misi idelogi tertentu, hal tersebut bukanlah sebuah masalah. Sah-sah saja. Amerika Serikat mengeluarkan banyak biaya untuk menyebarkan paham demokrasi ke seluruh Dunia. Iran juga, demi membangun persepsi positif mengenai Syiah, sembari juga menyebarluaskan pahamnya. Tidak ada yang salah dengan itu. Begitulah yang dilakukan orang-orang yang merasa diri benar jika mereka berkuasa; mereka juga ingin orang lain menganut kebenaran yang sama.

Namun program-program pengiriman dai-dai ini sejatinya tidak membawa misi ideologis tertentu selain upaya meninggikan syiar Islam dan menegakkan dakwah. Memang, dalam daurah syar’iyyah Yayasan misalnya, literatur yang dipakai adalah literatur yang disediakan oleh Yayasan, yang notabene adalah literatur yang berasal dari Arab Saudi. Tapi kupikir itu bukan masalah selama apa yang dipergunakan itu tidak terang-terangan mengarahkan masyarakat untuk menganut idelogi tertentu. Literatur yang disediakan adalah literatur yang ilmiah, yang memuat ilmu murni. Ada pengaruh wahhabisme yang terasa pada bagian-bagian tertentu, tapi tidak dominan. Kupikir selama sang Dai dapat berlaku bijak, benturan ideologis sangat bisa dihindari. Lagipula, dai-dai yang berkecimpung dalam program ini sama sekali tidak diberi pembekalan khusus selain dari pembekalan teknis. Hanya saja orang-orang yang memandang sebelah mata wahhabisme dan Arab Saudi, tetap saja akan nyinyir. Terlebih lagi kebanyakan dai, kalau tidak ingin dikatakan semua, yang terlibat dalam program ini adalah mahasiswa atau lulusan LIPIA, kampus yang selama ini memang sudah dicap sebagai representasi wahhabisme di Indonesia. Itu sesuatu yang tak terhindarkan. Apapun itu, dai-dai ini tidak mendapatkan tugas apa-apa selain berdakwah; mengajarkan al-Quran, membacakan hadits Nabi, menegakkan shalat jamaah, dan menjadi khatib atau penceramah dalam pergeralaran Jumatan, Tarawih, hingga Shalat Hari Raya, juga mengajarkan ilmu-ilmu dasar keislaman; Fikih, Tafsir, Hadits, Akhlak, hingga Sirah Nabawiyah.


Harus aku akui, gelontoran dana yang dicurahkan Saudi untuk program-program semacam ini, termasuk pendirian LIPIA, sangatlah besar. Hingga kadang-kadang nominal yang dialokasikan aku lihat dapat memengaruhi alasan dan kepentingan para dai. Tidak dapat dipungkiri, 10jt rupiah untuk aktifitas yang bisa dibilang ringan (terlepas dari beban moral dan psikologis yang bervariasi di masing-masing medan dakwah) selama kurang lebih sebulan cukup menggiurkan. Beberapa orang yang sempat kutemui, bahkan mungkin juga termasuk diriku, jelas-jelas meletakkan unsur material ini sebagai motivasi. Kami memang sadar, pekerjaan kami pada program ini adalah kerja dakwah kepada Allah, namun kami tidak dapat menafikan, bahwa nominal angka-angka itu sangat berpengaruh besar kepada semangat kami. Apakah kami salah? Biarlah Allah yang menilai.

Like what you read? Give Ahmad D. Rajiv a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.