Anggaplah
Tantangan #My500Words; Hari ke-02
Anggaplah aku menuliskan kata-kata ini pada hari Jum’at 12 Februari. Hari kedua dari 31 hari tantangan yang mesti aku jalani. Meskipun secara teori hari ini telah memasuki tanggal 13, sebab jam dinding telah menunjukkan pukul 00.26 ketika aku mengetik kata-kata ini. Anggaplah begitu. Lagipula secara adat kebiasaan, dini hari seperti ini belumlah disebut memasuki hari yang baru. Sebab masih malam, dan hari yang baru menurut adat kebiasaan yang berlaku di sini dimulai pada pagi hari. Atau minimal ketika azan subuh berkumandang.
Aku punya sebuah cerita, yang akan aku catat di sini sebagai bahan untuk memenuhi tantangan tersebut. Sekali lagi, anggaplah aku menulis cerita ini pada hari Jum’at, tanggal 12 Februari.
Baiklah. Inilah ceritanya:
Kipas Angin AC
Kipas angin AC itu dibeli Ayu beberapa bulan yang lalu. Harganya sekitar 500rb. Dalam paket penjualannya, dijelaskan bahwa kipas ini dapat dengan mudah dibersihkan. Hanya cukup dengan membuka kipas lalu kemudian melapnya dengan kain basah.
Di sinilah masalahnya.
Bukan apa-apa, hanya problem penundaan akut yang selalu menghantuiku saban hari. Jarak antara ide dan realita sangatlah jauh. Yang aku maksud dengan realita di sini adalah penindakanku atas ide tersebut. Aku bisa menghabiskan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan sampai berbulan-bulan hanya untuk mengakusisi ide sederhana. Dan seringkali akuisisi tersebut berhasil aku selesaikan pada menit-menit terakhir tenggat waktu yang ada. Beberapa bahkan terlambat dengan sempurna.
Ada tiga contoh yang dengan baik dapat menggambarkan penyakit akutku tersebut; bahts (skripsi), e-KTP, dan yang tadi, Kipas Angin AC itu.
Skripsiku aku selesaikan tepat di malam sebelum tenggat kedua (perpanjangan dari tenggat pertama) jatuh. Aku kebut sejak dua malam sebelumnya. Padahal kampus menyediakan waktu tiga bulan untuk tugas tersebut. Lantas ke mana saja aku menghabiskan waktuku? Kebanyakan hanya berputar-putar pada ranah ide, ranah perencanaan. Aku merencanakan ini itu, akan menulis ini itu, mengambil referensi dari ini itu. Sisanya adalah kemalasan dan penunda-nundaan. Perkataan “besok” dan “nanti saja” adalah mantra ampuh untuk membuatku kembali menarik selimut, menonton serial terbaru, atau sekedar mengutak-atik berbagai medsos.
Sedangkan e-KTP adalah kewajibanku sebagai warga negara yang dengan mental penyakit akutku seperti ini sukses berada di daftar hal yang akan aku lakukan (to do list) selama berbulan-bulan. Baru tadi pagi, setelah berbagai penundaan, alasan, dan dorongan tanggung jawab yang tak tertahankan lagi, aku pada akhirnya menyelesaikannya. Terlambat dua bulan dari ide yang semula aku rencanakan.
Dan Kipas Angin AC, aduhai malangnya.
Pada setiap pagi aku membuka mata, hal pertama yang aku lihat adalah Kipas Angin AC itu. Saban pagi dia seakan berbicara kepadaku, mengingatkan aku akan hari-hari, pagi-pagi yang telah aku lewati bersamanya dalam kebisuan yang canggung. Saling memandang. Dia dengan bisikannya yang mulai berdebu, dan aku dengan keenggananku yang biasa.
Pada awal bulan lalu aku tidak tahan lagi dengan rutinitas tatap menatap antara aku dengannya di tiap pagi, akhirnya aku mencatat “membersihkan kipas angin” sebagai salah satu pekerjaan yang harus aku selesaikan, benar-benar harus, pada bulan ini.
Namun rencana hanyalah rencana sebelum kita benar-benar mengubahnya menjadi tindakan nyata. Pagi ini aku kembali terbangun, dan tanggal sudah pada angka 12, masih pada kondisi yang sama dan keengganan yang sama. Sedangkan kipas angin AC itu tetap menatapku nanar sembari berbisik lirih penuh debu.