Apa Aku Seorang Romantik
Morning Pages
Aku ingin menulis tentang seseorang, tapi aku tidak ingin terjebak dalam pergunjingan yang tidak perlu. Pergunjingan bukan hanya dapat menurunkan derajatku sebagai seorang pemikir, tapi juga dapat merusak ibadahku di bulan yang suci ini. Lantas, aku harus menulis tentang apa? Atau tentang siapa? Aku paling suka menulis tentang diriku sendiri, dan apa-apa yang ada padaku, hal-hal yang aku rasakan maupun aku pikirkan. Tulisanku tentang diriku kebanyakan adalah sebuah tulisan faktual. Bukan fiksi. Setiap aku menulis dengan mempergunakan “aku” sebagai narator atau petutur kata, pastilah “aku” di situ adalah “aku” yang sebenarnya secara nyata. Aku penasaran; bagaimana jika aku menulis sesuatu yang fiksi mengenai diriku sendiri? Kira-kira seperti apa jadinya jika aku menulis suatu gejolak emosional yang sedang tidak aku rasakan sebenarnya? Aku baru saja membaca cerita pendek Edgar Allan Poe yang berjudul “Legiea”, yang menceritakan mengenai sosok mistis seorang istri. Benar sekali jika disebut bahwa Poe adalah seorang romantik. Deskripsinya mengenai perasaan manusia sangat dalam. Kita dapat tenggelam dalam pergulatan perasaan si “aku” yang bercerita mengenai istri yang sangat dicintainya namun juga sangat misterius baginya. Eksplorasi yang dalam ke dalam batin seseorang adalah ciri romantisisme. Meskipun begitu, Poe tidak melupakan begitu saja latar tempat dan peristiwa. Namun dia lebih terperinci pada latar tempat saja, sedangkan peristiwa tidak begitu dia perhatikan. Kita tidak tahu kapan dan di mana peristiwa yang dia tuturkan dalam cerita itu terjadi. Mungkin inilah yang membedakan kaum romantik dengan sastrawan realis seperti Pram atau Tolstoy. Para sastrawan realis sangat memperhatikan latar peristiwa. Latar peristiwa sedapat-dapatnya dituturkan sebagaimana adanya, dan kalau bisa dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa Sejarah. Mungkin bisa dibilang bahwa eksplorasi Romantisisme lebih ke dalam, sedangkan Realisme ke luar (dari diri sang tokoh). Dalam tokoh Minke di tetralogi Buru, Pram membawakan sosok yang bergulat jatuh bangun dengan keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Aku rasa pembeda ini juga yang membuat alur waktu dalam cerita-cerita yang ditulis sastrawan Realisme lebih bisa diperpanjang. Dalam karya seorang romantik, deskripsi mengenai perasaan seorang tokoh dapat memakan narasi yang begitu lama. Kira-kira begitulah yang bisa aku simpulkan kini. Aku juga belum terlalu bisa menarik benang merah yang lebih kuat karena jujur saja belum banyak karya dari kedua genre itu yang aku baca. Aku ingin memperkaya bacaan kaum romantik sebagai pedoman untuk menulis dengan aliran romantisisme, namun aku juga ingin membaca karya-karya kalangan realis sebagai perbandingan dan peringatan untuk menghindari gaya menulis mereka. Mengapa aku merasa diriku ini lebih cocok dengan romantisisme? Pertama, karena aku merasa. Secara tidak sadar, alias begitu saja mengalir apa adanya, aku selalu menulis dengan mempergunakan frasa “aku rasa” ketimbang “aku lihat” atau “aku pikir”. Perasaan, adalah unsur utama Romantisisme. Kedua, aku selalu tidak tahan untuk membumbui penuturanku dengan ungkapan-ungkapan yang mengarah kepada romantisasi, atau aku kerap mendramatisir kejadian yang sebenarnya biasa-biasa saja hanya karena aku ingin ada unsur romansa yang kuat di dalamnya. Ketiga, berdasar beberapa hasil tes kepribadian, terutama tes dengan metode “Eneagram”, aku adalah seorang yang romantis. Dari tes-tes itu sangat tampak jelas bagaimana aku dapat terikat begitu kuat dengan perasaan-perasaan. Baik yang ada pada diriku sendiri maupun yang ada di sekelilingku.