Berulang Jatuh Pada Lubang yang Sama

Berapa kali dalam hidupku aku berada pada kondisi di mana aku akan berkata tegas kepada diriku sendiri, kadang-kadang sambil frustasi; "aku mesti melakukan ini. Aku harus!" Atau, "aku tidak akan melakukan hal ini lagi!" Tapi beberapa saat kemudian aku tidak jadi melakukan apa-apa atau aku melanggar komitmen yang aku ciptakan sendiri itu.

Aku tidak tahu apakah orang-oranng di sekitarku juga mengalami problem serupa; posisi di mana kita membayangkan hal-hal ideal untuk kita lakukan namun tidak ada satupun dari hal itu yang mampu kita jalani.

Kepalaku, yang penuh dengan khayalan itu, seperti menawarkan suatu gambaran palsu namun membuai. Dia memberikan suatu gambaran yang sejatinya aku tahu pasti bahwa gambaran itu hanyalah fatamorgana. Namun aku seakan tidak punya akal. Aku selalu saja menikmati waktu-waktu di mana aku menjalani hidupku dengan khayalan-khayalan itu.

Aku jadi merasa diriku sudah seperti para politisi yang seribu kali berjanji namun seribu kali juga mengingkari. Hanya bedanya mereka berjanji untuk dan mengingkarinya dari masyarakat. Sedangkan aku kepada diriku sendiri.

Kondisi ini memusingkan, namun terjadi berkali-kali. Meski sudah aku yakinkan diriku sendiri dengan seribu satu alasan bahwa aku tidak boleh masuk ke dalam lubang yang sama lagi, tetap saja esok dan esoknya lagi aku terjerembab ke dalamnya. Seperti lingkaran setan saja.

Membangun kebiasaan baik memang butuh tekad yang besar. Banyak buku yang ditulis hanya untuk membantu manusia yang menghadapi hal semacam ini. Bagaimana cara untuk membangun kebiasaan baik yang berguna dan keluar dari jeratan kebiasaan buruk.

Aku ingin menjalani hidup sesuai dengan apa yang aku pikirkan atau lebih baik aku tidak memikirkan bagaimana menjalani hidup dengan baik sama sekali.

Aku sering menumpahkan gambaran ideal mengenai diri sendiri melalui tulisan. Aku menulis bagaimana aku akan melakukan sesuatu. Aku membuat perencanaan. Aku tulis semuanya bahkan hingga teknis bagaimana aku akan melakukannya. Beberapa dari perencanaan itu begitu bagus. Begitu mempesona. Lantas tiba-tiba saja perencanaan itu tinggal menjadi pajangan saja. Penghias di buku catatanku.

Aku Bukanlah Sosok yang Diriku Sendiri Kira

Kadang-kadang aku merenungi hal ini. Pada malam-malam tanpa tidurku yang panjang. Aku merasa bahwa diriku suka memanipulasi kesadaranku sendiri. Aku suka membangun asumsi yang salah tentang diriku sendiri. Kadang-kadang aku menyadarinya. Namun seringkali semua tipu daya itu berjalan di luar kendali kesadaranku. Tiba-tiba saja aku sudah terjebak dalam situasi yang sulit. Situasi yang jika aku pikirkan kembali ternyata berakar dari kebodohanku dalam melihat sejauh mana aku mampu berbuat.

Ini semacam penyakit. Penyakit di mana aku meremehkan sesuatu hal karena menganggap hal tersebut berada di dalam jangkauan kapasitasku. Namun ketika aku betul-betul menjalaninya, ternyata aku ini lemah dan bodoh.

Aku memang harus sering-sering mengevaluasi diriku sendiri. Evaluasi ketat. Katakanlah audit internal untuk melihat apa saja sebenarnya kelebihanku. Dan apa saja kekuranganku yang lalai aku anggap sebagai kelebihan. Ataupun sebaliknya, suatu yang aku sangka kekurangan yang ternyata merupakan suatu kelebihan.

Untuk menunjang perspektif yang objektif atas diriku sendiri aku akan membaca dan terus membaca. Mungkin membaca itulah satu-satunya aktifitas yang aku begitu yakin aku bagus dalam menjalaninya. Dan juga satu-satunya janji yang selalu tepati untuk diriku sendiri.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.