Blank Page

Tantangan #My500Words; Hari ke-10

Catatan ini terlambat aku tulis. Ini sudah yang ketiga kalinya. Oleh karena itu aku mesti membayarnya. Catatan ini adalah catatan untuk hari kemarin. Akan aku selesaikan paling lambat sebelum ashar ini, meski aku belum tahu pasti apa yang akan aku tulis. Ketika halaman kosong terpampang di depan mataku, hanya halaman kosong itu yang memenuhi pikiranku. Adapun catatan hari ini yang sebenarnya, akan aku tulis sore atau malam nanti. Insya Allah. Semoga saja.

Halaman kosong adalah momok menakutkan bagi seorang penulis. Dan halaman kosong tidak sama dengan pikiran yang juga kosong. Kadang ide-ide memenuhi kepala. Gagasan-gagasan menari-nari. Hanya saja kesemuanya itu terpenjara dalam kepala. Enggan menjelma menjadi kata-kata. Maka kertas kosong ini tetaplah kertas kosong di hadapanku.

Aku telah duduk berjam-jam di hadapan kertas kosong ini. Mengajaknya bicara. Kadang memaksa. Memohon padanya agar mengizinkan kata-kataku memasukinya. Menari-nari di atas kulitnya yang putih. Mencumbunya dengan pekat hitam tinta. Tapi dia hanya menatapku dengan kekosongan yang menggelisahkan. Dan bayang-bayangnya seakan-akan tertawa. Menertawakan aku atau dirinya sendiri. Entah.

Aku membawakannya secangkir kopi. Sambil menikmati pahitnya yang serupa kondisiku, aku mengajaknya menonton beberapa film. Mungkin saja dengan itu dia akan sedikit lebih bahagia, lantas membiarkan kata-kataku merasukinya dengan sentausa.

Tapi setelah satu film berlalu, dia tetap diam. Diam dengan ketenangan yang mengerikan. Diam dengan keheningan yang menyedihkan. Diam dengan kesunyian yang meresahkan. Aku frustasi. Aku meninggalkannya dengan geram. Aku takut jika aku tetap menatapnya dengan amarah yang mulai menanjak, aku malah akan merobek-robeknya dan mengancurkan semuanya. Kesempatanku, dan kebaikanku.

Mungkin aku hanya perlu sedikit berdamai dengannya. Aku memikirkan ini tadi di belakang. Kertas kosong di hadapanku ini tidak salah sama sekali. Dia suci tak bernada. Jelas saja, dia hanyalah kertas kosong! Apakah aku mesti menuding-nudingkan jariku pada objek yang tidak memiliki pilihan? Bakal aku yang jadi gila. Dia tetap dengan pendirian yang teguh dan murni di atas kesucian yang terlalu nyaman. Tak tergoyahkan. Tak tergantikan oleh apapun, bahkan oleh sentuhan kematian sekalipun.

Maka dari itu aku coba berdamai. Aku tersenyum padanya. Senyuman yang tulus, tentu saja. Senyuman yang menjadi pertanda bahwa aku dengannya tidak lagi akan mempermasalahkan apa ia akan tetap kosong atau akan kuisi ia dengan kata-kataku.

Aku terpikirkan akan kemungkinan ini; bisa jadi kertas kosong ini sadar akan kebodohanku sebagai penulis. Dia sadar bahwa kata-kata yang akan aku pakaikan padanya tidak lebih dari kata-kata bodoh tanpa makna. Hanya racauan dan gurauan. Hanya remah-remah lemah kehidupan yang begitu mudah tertiup angin. Ungkapan-ungkapan tidak berarti dari seseorang yang bukan siapa-siapa. Dia sadar bahwa dia hanya akan membuang-buang eksistensinya sebagai kertas kosong yang suci.

Kalau aku menghiasi tulisanku dengan bintang-bintang, mungkin kertas kosong ini akan terpesona. Lalu dengan damainya meminta kata-kataku memeluknya. Tapi aku perlu tahu terlebih dahulu; standar apa yang dipakai oleh kertas kosong ini? Apakah ia seorang romantis ataukah konservatif? Apakah ia senang fiksi atau puisi? Atau mungkin aku bisa sekadar menuliskan apa saja yang terlintas di benakku seperti yang saat ini aku lakukan.