Dilema Penulis Pemula

Antara Menuruti Selera Pembaca atau Membentuk Selera Mereka

Bagi Paulo Coelho, salah satu pengarang favorit saya, yang paling penting dari menulis adalah kejujuran.

Sebagian besar penulis menulis menurut apa yang diinginkan orang lain. Dalam hal ini pembaca mereka. Mereka berusaha memetakan keinginan-keinginan pembaca mereka yang sudah sejak semula mereka sasar dan menulis berdasarkan itu.

Memahami minat dan selera pembaca kita adalah salah satu tips dan trik yang biasa ditawarkan pada seminar-seminar kepenulisan. Tips agar tulisan kita dapat tersebar luas dan dibaca banyak orang.

Hal ini tentu bukan sesuatu yang salah. Bahkan merupakan suatu keterampilan yang mesti dimiliki oleh seorang penulis profesional.

Hanya saja, dalam perjalanan seorang penulis amatir, seperti saya, menentukan segmentasi pembaca dan menulis berdasarkan itu adalah problem yang dilematis.

Saya mengenal sekian banyak orang dan menjadi bagian dari sekian lingkaran. Masing-masing lingkaran punya selera bacaan yang berbeda-beda. Jika saya ingin menulis untuk mereka, saya mesti mempertimbangkan selera mereka itu. Sebab bagaimanapun saya ingin tulisan saya mereka baca.

Namun dilema muncul ketika selera bacaan mereka tidak sejalan dengan selera tulisan saya. Dengan kata lain, saya enggan menulis topik yang mereka minati atau beropini sesuai dengan apa yang berkembang di pikiran mereka.

Apa saya tetap harus menulis? Seharusnya ia. Secara teori. Tapi kemudian saya akan mendapati suatu kenyataan pahit; tulisan saya tidak akan dibaca siapa-siapa.

Kadangkala ketika egoisme saya sebagai seseorang yang mengaku penulis bekobar, saya tak mengacuhkan saja kenyataan itu. Masa bodoh, pikir saya. Namun jika saya renungkan kembali, ada suara hati yang mengutuk keegoisan saya itu.


Beberapa penulis besar yang saya kenal, konsisten dengan keegoisan semacam itu. Mereka tetap menulis dengan cara mereka sendiri, dengan idealisme mereka sendiri dan masa bodoh dengan kenyataan bahwa tulisan mereka tidak akan dibaca siapapun. Mereka tidak peduli dengan hal itu. Bagi mereka yang paling penting adalah mereka menulis sesuai dengan apa yang mereka rasa dan mereka pikir harus mereka tulis. Kejujuran kepada diri sendiri, tentang apa yang mereka rasakan dan pikirkan, yang tertuang dalam tulisan mereka adalah kunci dalam hal ini. Paulo Coelho adalah salah seorang di antaranya.

Di awal-awal karirnya sebagai seorang penulis, dia bahkan dicap sebagai seorang yang memiliki gangguan kejiwaan dan sempat dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Tapi dia tetap teguh dengan kepenulisannya dan menulis dengan idealismenya sendiri. Meskipun banyak yang tidak suka dengan tulisan itu dan hampir tidak ada oranng yang mau membacanya.

Keteguhan dan konsistensi yang dia jalani pada akhirnya membuahkan hasil dan menjadikannya salah satu penulis paling berpengaruh di Dunia hari ini.

Hal yang kurang lebih serupa juga terjadi pada J.K. Rowling, penulis Harry Potter. Ratusan penerbit menolak naskahnya dengan alasan bahwa tidak ada orang yang akan membaca tulisannya itu. Namun dengan kegigihan dan kesabaran, dia tidak putus asa. Dia tidak membuang naskah itu hanya karena asumsi-asumsi yang mengatakan bahwa tidak akan ada orang yang akan membacanya. Sekarang kita bisa saksikan sendiri. Semua orang yang mengaku pecinta novel, pasti sudah tamat membaca keseluruhan Harry Potter.

Novel pertama Eka Kurniawan, yang berjudul Cantik itu Luka bahkan mendapatkan banyak cacian dari kritikus sastra sebagai tulisan yang tidak jelas ditulis dengan genre apa dan untuk pembaca yang mana. Di awal-awal penerbitannya, hasil penjualan novel itu sangat menyedihkan. Tapi Eka tetap konsisten dan sama sekali tidak mengubah idealismenya sebagai penulis. Baru sekitar lima tahun kemudian Dunia seakan-akan terbelalak dengan bakatnya dan mendapuknya sebagai seorang sastrawan besar Indonesia. Orang-orangpun, yang selama ini tidak melirik karyanya, mulai memburunya ke mana-mana. Novel-novelnya pun diterjemahkan ke puluhan bahasa di Dunia.

Sekarang, jika ingin ditarik menjadi pertanyaan yang filosofis, kira-kira ungkapannya akan seperti ini; penulis lah yang mesti menuruti selera pembaca, atau pembaca lah yang mesti diarahkan seleranya oleh penulis.

Filosofinya kira-kira seperti iPhone ketika pertama kali diluncurkan. Pada waktu itu Steve Jobs sempat diremehkan oleh seorang koleganya. Tidak akan ada orang yang akan menyukai pengetikan menggunakan layar sentuh, ungkap koleganya itu dengan pesimis. Steve Jobs dengan percaya diri berkata; mereka akan menyukainya. Bukan selera pasar yang menentukan bagaimana iPhone, tapi iPhone lah yang akan membentuk selera pasar. Begitulah filosofi Steve Jobs.

Kalau dikaitkan dengan dunia kepenulisan, jadinya begini; bukan selera pembaca yang menentukan bagaimana tulisan seorang penulis, tapi tulisan itulah yang akan membentuk selera pembaca.

Seharusnya begitu, dan seperti itulah para penulis besar. Mereka membentuk selera pembaca. Meskipun memang pada mulanya, ketika mereka memutuskan untuk teguh di atas idealisme kepenulisan mereka itu dan tidak tunduk pada selera pembaca, tidak ada orang yang berkenaan melirik tulisan mereka.

Like what you read? Give Ahmad D. Rajiv a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.