Hal-hal Yang Dulu Aku Anggap Sebagai Standar Orang Kaya

Tantangan #My500Words; Hari ke-08

Beberapa waktu dalam kehidupan masa kecilku aku sempat tinggal di desa dimana ibuku dilahirkan. Suatu desa terpencil pada penghujung sebuah pulau di timur, yang berhadapan langsung dengan laut lepas yang membentang hingga kepulauan NTB nun jauh di selatan.

Kehidupan di desa itu miskin. Tidak ada profesi yang membuat penduduk desa menjadi sangat kaya. Rata-rata adalah petani kebun dan nelayan. Penghasilan mereka cukup untuk kebutuhan sehari-hari dengan sedikit lebih untuk kebutuhan-kebutuhan sampingan. Mungkin profesi yang paling kaya di desa itu adalah PNS, atau para perantau, yang kerap pulang dengan beragam macam harta benda serta uang untuk sekadar membangun rumah yang lebih bagus ataupun menyelenggarakan pesta.

Kulalui masa kecilku di desa itu dengan hari-hari yang riang dan kawan-kawan yang menyenangkan. Benar kanak-kanakku tentu saja belum terpenjara oleh standar kehidupan yang mapan maupun peraturan-peraturannya yang rumit. Aku hanya mengenal sekolah sebagai tempat belajar dan bermain, rumah sebagai tempat tinggal dan lingkungan sekitar sebagai tempat bermain, dan masjid sebagai tempat mengaji, shalat jumat dan juga bermain.

Namun benak masa kecilku itu sepenuhnya menyadari bahwa aku dan keluargaku bukanlah keluarga kaya. Rumah-rumah kami papan dan beratapkan daun rumbia. Aku dan saudara-saudaraku berlari-larian tanpa alas kaki.

Teman-teman sepermainanku juga berkehidupan dan berpenampilan tidak jauh beda denganku. Kami anak-anak desa kebanyakan yang kerap terlibat dalam permainan-permainan berbeda setiap sore hari. Namun beberapa di antara kami memiliki sesuatu atau beberapa hal yang kebanyakan di antara kami tidak memilikinya. Benak masa kecilku langsung mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah orang-orang kaya. Aku bahkan menyimpan pemikiran mengenai apa-apa saja yang menjadi pertanda bahwa seseorang atau suatu keluarga dalam sebuah rumah adalah keluarga kaya. Pertanda-pertanda tersebut tersimpan dalam benakku sebagai hal-hal yang aku anggap sebagai standar orang kaya, yang mana jika hal-hal tersebut ada pada sebuah rumah, aku akan menarik kesimpulan bahwa rumah tersebut adalah rumah keluarga kaya. Hal-hal tersebut adalah;

1. Memiliki TV dan VCD player, atau jika rumah tersebut lebih kaya lagi; memiliki antena parabola.

Ketika aku masih tinggal di kota, TV adalah hal yang lumrah untuk ada di setiap rumah. Namun hal tersebut berbalik jika di desa. TV adalah salah satu barang mewah yang menunjukkan bahwa yang pemilik rumah punya lebih dari cukup uang berlebih. Sebab pada saat itu tidak ada satupun siaran TV yang tertangkap oleh antena biasa di desa kami. Oleh karena itu keluarga yang memiliki TV benar-benar keluarga yang punya cukup banyak uang yang tidak tahu hendak diapakan lagi. Kebanyakan TV-TV tersebut hanya dipakai menonton VCD. Namun jika pemilik rumah ingin menunjukkan bahwa dia benar-benar punya terlalu banyak uang, dia akan membeli antena parabola yang akan memberinya akses kepada stasiun-stasiun TV.

2. Makan dengan banyak piring disertai mangkuk khusus untuk mencuci tangan.

Rata-rata setiap anggota keluarga biasa memiliki satu piring untuk masing-masing orang. Piring-piring yang lebih dari itu biasanya disimpan untuk keperluan-keperluan penting seperti tamu atau pesta (yang sangat jarang terjadi). Lauk pauk biasanya dihidangkan langsung dari tempat di mana ia dimasak; panci, kuali, atau cobekan untuk sambal-sambal. Maka keluarga yang sanggup memakai lebih dari satu piring untuk menghidangkan berbagai macam makanan, jelas merupakan keluarga kaya.

3. Makan nasi dan telur setiap hari atau disertai dengan indomie.

Desa kami bukanlah desa peternak. Juga bukan desa petani. Sawah tidak ada dan beras harus didatangkan dari kota yang juga mendatangkannya dari ibukota. Hanya beberapa keluarga saja yang memiliki ayam. Ayam-ayam itupun tidak bertelur setiap hari. Sehingga jika ingin mengonsumsi nasi dan telur harus ada biaya lebih yang dikeluarkan, begitu juga dengan indomie yang pada masa-masa itu baru melebarkan ekspansinya ke seluruh nusantara. Bagi keluarga yang hanya memilki uang untuk kebutuhan pokok seperti keluargaku, mengeluarkan biaya tambahan untuk makanan di luar menu pokok (ubi, ikan, dan sayur) jelas merupakan sesuatu yang tidak perlu. Namun hal tersebut tentu saja tidak berlaku bagi rumah-rumah keluarga (yang menurutku) kaya.

4. Pakai alas kaki di dalam rumah.

Alas kaki di luar rumah saja merupakan hal yang langka di desa kami. Rata-rata orang berjalan tanpa alas kaki. Bahkan ketika mendaki bukit-bukit karang menuju kebun-kebun mereka di balik gunung. Maka dari itu mereka yang di dalam rumah saja sudah memakai alas kaki, tentu merupakan keluarga yang benar-benar punya terlalu banyak uang berlebih.

5. Memiliki motor.

Jangankan motor, sepeda biasa saja hampir-hampir masuk ke dalam daftar ini bagiku. Jalanan desa pada waktu itu belum beraspal sama sekali. Bahkan cenderung kasar dengan kerang-karang yang digunakan sebagai pembatas. Mereka yang di tengah kondisi jalan seperti itu memiliki cukup uang -yang tidak tahu harus dikemanakan- untuk memmbeli motor, tentu merupakan keluarga yang benar-benar kaya.


Ketika aku kembali lagi ke desa ibuku beberapa tahun kemudian, segalanya telah berubah. Standar hidup pun telah meningkat. Daftar ini menjadi hal-hal yang biasa-biasa saja dimiliki oleh setiap rumah. Bahkan ditambah dengan sederet standar baru lainnya yang juga sudah biasa dimiliki oleh setiap orang. Tapi entah mengapa aku tetap menanggap desaku sebagai desa yang miskin. Ada hal-hal yang sulit aku jelaskan, yang berkaitan dengan gaya hidup, pola pikir, dan mental orang-orang di desaku. Apapun itu, miskin bukanlah ungkapan yang buruk dalam pandanganku. Ia hanyalah suatu strata kehidupan yang bisa menjadi baik, juga bisa menjadi buruk tergantung bagaimana sikap orang-orang yang menjalaninya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.