Instagram dan Snapchat

Instagram menjiplak habis-habisan fitur penting Snapchat. Bahkan namanya pun dijiplak mentah-mentah; Stories.

Stories adalah fitur diperkenalkan Snapchat yang memungkinkan kita mengambil foto maupun video untuk dibagikan yang akan hilang dengan otomatis setelah 24 jam. Fitur ini digemari oleh para pengguna Snapchat yang rata-rata adalah remaja. Dengan fitur ini kita tidak perlu khawatir lagi untuk memosting sebanyak apapun setipa harinya tanpa takut postingan kita menjadi sampah di timeline.

Bisa dibilang fitur ini cocok untuk berbagi hal-hal remeh temeh, seru, konyol maupun gila yang terjadi sehari-hari; hal-hal yang tidak kita ingin simpan menjadi kenangan yang permenen.

Di Indonesia sendiri secara umum Instagram lebih populer ketimbang Snapchat. Ambil contoh sampel saja, dari sekitar 3000an temanku di Facebook, kurang lebih 1500 dari mereka juga punya akun Instagram. Sedangkan Snapchat tidak sampai 100 dari mereka. Namun jika melirik tren media sosial di kota-kota besar, para remaja dan kaum muda urban, tercatat lebih menggandrungi Snapchat. Mereka adalah generasi yang tumbuh tanpa memiliki akun Facebook. Meskipun sebagian besar dari mereka juga memiliki akun Instagram.

Penambahan, atau penjiplakan, fitur Stories ini adalah langkah strategis Facebook, sebagai pemilik Instagram, untuk tidak kehilangan pasar potensial mereka; generasi muda. Tercatat ini adalah langkah strategis kedua yang diambil Instagram untuk meraup lebih banyak pengguna di rentang usia muda. Langkah pertama mereka adalah perubahan habis-habisan tampilan antar muka aplikasi dan ikon mereka menjadi lebih kekinian.

Mark memang seorang yang sangat visioner. Dia betul-betul sadar bahwa inovasi yang mengedepankan target pengguna muda akan menyelamatkan Facebook dari perang antar sosial media. Hal ini terbukti dari berhasilnya Facebook menjungkal Twitter pesaing terberatnya dahulu. Kini pesaing terberat Facebook adalah Snapchat. Langkah-langkah pun telah diambil Mark untuk menjungkal saingannya itu, dimulai dari upaya akusisi Snapchat yang kemudian gagal karena ditolak mentah-mentah oleh CEO Snapchat, menghadirkan beberapa aplikasi, tercatat ada dua yakni Poke, Slingshot, dengan fungsi dan fitur serupa dengan Snapchat yang semuanya juga gagal karena tak sanggup meraih pengguna yang signifikan, hingga akusisi Instagram.

Ya, akusisi Instagram sejatinya adalah upaya serius Facebook untuk mempertahankan pasar pengguna muda. Sebab Facebook sadar, bahwa bagi kebanyakan generasi masa kini, Facebook adalah tempat bagi orang-orang tua. Dengan kata lain, tidak kekinian. Instagram adalah senjata baru Facebook untuk menjungkal Snapchat, dan sejauh ini senjata tersebut terbukti ampuh memainkan perannya.