Lebak dan Internet

Catatanku Tentang Internet dari Pedalaman Kabupaten Lebak

Sudah dua malam berlalu sejak aku datang ke sini. Dua malam pula aku mencoba untuk menikmati suasana yang berbeda di sini.

Sebenarnya suasana di sini itu bukanlah suasana yang asing untuk ditemukan. Namun emang kadung akunya yang jarang mendapati suasana seperti ini selama keberadaanku di Jakarta, ada semacam perasaan antusias juga untuk belajar dari keadaan hidup yang apa adanya ini.

Salah satu pelajaran penting yang aku ambil dari keberadaanku di sini adalah betapa kita sebagai manusia telah begitu terikat oleh belenggu informasi. Ketiadaan informasi menjadi suatu kehilangan yang sangat memilukan. Kehilangan yang dapat memicu kegalauan dan juga kebingungan. Apa yang harus kita lakukan menjadi kabur dan hampa.

Hal yang paling inti dari informasi​ itu adalah internet. Ketiadaan Internet pada beberapa orang juga berarti ketiadaan kehidupan. Kegalauan dan kebingungan yang luar biasa melanda. Seperti kehilangan satu bagian penting dari kehidupan yang kita punya. Seperti kehilangan satu bagian udara untuk kita hirup. Separuh nafasku terbang bersama dirimu, meminjam istilah Dewa 19.

Ini seperti apapun yang penting-penting dari kehidupan kita ada kaitannya dengan internet. Sehingga tanpa Internet, yang tersisa dari hidup kita adalah yang tidak penting saja. Sehingga ketika internet tidak ada, ada satu ruang dalam diri kita yang menjadi hampa.

Problem ini adalah problem manusia modern. Manusia yang seakan-akan sudah menjadi hamba teknologi. Manusia yang sudah tidak bisa lagi berpegang pada dirinya sendiri. Manusia yang sudah kecanduan dengan sesuatu yang sifatnya maya belaka. Sesuatu yang sejatinya tidak memiliki wujud fisikal yang bisa dijadikan pegangan.

Apakah fenomena ini lucu? Atau malah memprihatinkan? Ketika akses Internet terputus dariku, aku memang benar-benar tampak seperti orang bodoh. Tampak seperti manusia pandir yang begitu dungu di hadapan dunia yang menertawakannya.

Padahal jika dipikir-pikir, Internet itu tidak akan membuat kita kenyang ataupun lapar. Juga tidak membuat kita sehat ataupun sakit. Internet hanya dapat membuat kita galau dan, mungkin juga, bahagia. Jadi aku melihat bahwa Internet, yang bersifat maya ini, hanya memenuhi hasrat rohaniah manusia saja. Hasrat yang, seperti pendapat beberapa ahli, tidak kalah penting untuk dipenuhi dibandingkan dengan hasrat jasmaniah.

Maka kita bisa melihat manusia yang galau, entah karena Internet atau apapun, menjadikannya kelaparan dan kesakitan. Ketiadak-penuhan hasrat rohaniah itu akan berpengaruh pada hasrat jasmaniah sehingga hasrat jasmaniah menjadi meredup. Seseorang menjadi enggan makan enggan bergerak.

Kegalauan karena terputusnya akses Internet bisa mengalahkan kegalauan karena putus dengan pacar. Sebab putus dengan pacar tapi masih ada internet, kita bisa mencari pacar baru. Namun putus dengan internet walaupun ada pacar, kita tidak bisa mendapatkan akses Internet kembali. Kecuali jika sang pacar punya kebaikan hati untuk membagikan koneksi. Jika tidak, maka semakin jelas bahwa Internet lebih penting dari pacar.

Internet juga menjadi lebih penting dari Ibadah dan Belajar. Meskipun dengan Internet juga kita bisa beribadah dan belajar. Tapi berapakah manusia yang betul-betul memanfaatkan Internet yang dia miliki untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat baginya? Ini yang juga menjadi poin pertanyaan yang menggelayuti pikiranku​. Mengapa ada kecenderungan yang berlebihan untuk memanfaatkan Internet untuk hal-hal yang tidak bermanfaat?

Hal ini yang aku lihat menjadikan pemenuhan hasrat akan Internet itu seakan sia-sia. Kesia-siaan yang kita butuhkan setengah mati.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.