Lupa

Tantangan #My500Words; Hari ke-07

Bagaimana jika kita terjebak dalam ketidakmampuan mengingat nama seseorang. Padahal orang itu dulu cukup akrab dengan kita. Berapa lamakah yang diperlukan ingatan untuk tetap terus mematri seseorang? Momen-momen memalukan kadang terjadi, atau, seringkali terjadi. Realita tidak tunduk pada ekspektasi siapapun. Realita berjalan dengan kehendaknya sendiri yang terbebas dari ikatan apapun. Jauh di kedalaman hati nama itu sebenarnya belum sepenuhnya terlupakan. Mereka ada, namun samar-samar, dan butuh banyak pemicu untuk menariknya keluar.

“summiyal-insaanu insaanan li-nisyaanihi”

“Manusia dinamakan manusia (insan) karena kelupaan-nya (nisyaan)” — manusia (insan) memiliki akar kata yang sama dengan lupa (nisyan) yaitu N-S-Y.

Pepatah itu terkenal di Arab, dan alangkah benar maknanya. Di zaman modern ini kita banyak terbantu dengan kemajuan teknologi yang membuat “lupa” itu seakan dapat diatasi. Tapi benarkah? Kita mungkin dapat berleha-leha dengan teknologi yang begitu sangat memanjakan ini. Tapi kita lupa, oh-ternyata kita belum mengalahkan-nya, sedikitpun tidak, bahwa teknologi itu sendiri memupuk lebih banyak lupa lagi. Hingga tiba pada suatu titik di mana kita akan lupa bagaimana caranya mengingat suatu nama itu.

Hidup yang terus berjalan ini membawa beribu-ribu nama ke dalam ingatan kita. Beberapa mengendap dan menjadi kenangan. Beberapa hanya menjadi sampah di tumpukan belakang ingatan. Mana yang penting dan mana yang tidak penting. Mana yang mesti dan mana yang tidak mesti?

Ketika momen itu terjadi tadi siang, aku hanya bisa memandangnya dengan nanar, temanku itu. Dia pun balik memandangiku dengan satu pertanyaan besar menggelayuti matanya “siapa namamu?”. Pertanyaan yang tidak mungkin dia tanyakan karena terhalang oleh rasa malu, dan tentu saja etika. Aku pun sama. Hanya sepatah dua patah kata yang tebata-bata dan sangat basi. Bukan hanya basa basi lagi, tapi basa yang sangat basi.

Tapi pertemuan tadi membuatku terhenyak dan memaki diriku sendiri. Ah, aku ingat. Namanya Bayu. Bagaimana aku bisa terjatuh dalam kondisi-kondisi yang sangat memalukan dan bodoh seperti itu. Ada kalanya bahkan dorongan untuk mengakhiri saja, hilang tiba-tiba, atau bahkan mati saja menjadi harapan yang bergelayutan dalam pemikiran. Mengapa aku begitu pelupa. Aku bahkan lupa hal-hal yang sudah aku lupakan. Betapa bodohnya! Betapa naifnya!

Aku terdiam menanti detik demi detik hitungan podomoro timerku berjalan. Inilah misteri waktu. Semakin dekat dengan akhir, semakin lambat detik itu terasa. Hingga seakan-akan dalam setiap lompatan detik itu watku berhenti sejenak terlebih dahulu demi menjulurkan lidahnya padaku atau bahkan mengacungkan jari tengahnya untukku. Sungguh berat menuangkan ide itu. Kata-kata yang begitu banyak dan liar di dalam kepala. Bagaimana agar aku bisa menjinakkan mereka satu per satu? Hingga mereka sudi terangkai dengan indah dalam tulisanku. Tinggal satu menit tigapuluh detik lagi. Tinggal satu menit sepuluh detik lagi. Semakin berat. Seakan ada tembok air yang menghalangi perjalan waktu ke depan, Di hujung sana ada kehampaan.

Tinggal beberapa detik lagi sebelum hari ini berakhir, juga tinggal beberapa detik lagi podomoro timerku berdetak dan memberiku peluang untuk beristirahat dari rutinitas yang membosankan namun sangat perlu untuk dibiasakan ini.

Ah, lima ratus kata. Selesai juga dirimu pada akhirnya. Selamat Tengah Malam!

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ahmad D. Rajiv’s story.