Mendung

Sekadar Sebuah Puisi

Langit mendung. Barangkali murung. Aku menung. Berkas-berkas cahaya memancar di kejauhan, seperti harapan yang rapuh namun selalu dipaksakan.

Aku pulang dari mimpi yang panjang. Mimpimu, khayalan yang telanjang. Aku menggigil dalam kesepian, tanpa kawan seperjalanan. Tanpa rumah untuk dirindukan.

Langit mulai menangis. Rintik-rintiknya yang sedih mengiris-ngiris anak manusia di jalan-jalan ibukota. Angin bersuka ria. Daun-daun menari sembari memeluknya. Semua bergerak dalam abu-abu yang kabur. Tirai kabut menghalangi mata siapapun dari menjangkau matahari.

Aku tenggelam dalam nada. Dadaku telah sedari lama dibanjiri air mata. Aku tersesat dalam deras hujan ini. Meski aku sendiri tak pernah benar mengerti, apa sebenarnya yang aku cari.

Aku seperti melihat malaikatmu pada setiap kilatan itu. Sepertinya ia mencari-cariku. Apakah karena akhir-akhir ini aku selalu melupakanmu?

Langit hidup kembali. Setelah menangis sedari pagi. Aku terjebak dalam cahaya. Aku buta olehnya. Tanganku menggenggam hampa. Menyentuh keberadaan yang perlahan memudar. Seakan seribu cinta pun tak sanggup untuk membuatnya takluk ke dalam terang. Dia hilang perlahan-lahan. Menuju peraduan di balik malam.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.