Nama-Nya Adalah Allah

Pagi ini dalam grup WhatsApp SilaturaHMI Jaksel dibagikan sebuah link yang mengarah kepada suararubita. Link tersebut menuju kepada tulisan karangan salah seorang kawan kami, Muhammad Muallimin, yang kini menjabat sebagai Kabid Hukum dan HAM HMI cab. Jaksel. Mahasiswa Hukum Universitas Al-Azhar Indonesia itu menulis mengenai “Tuhan yang Dipaksa Berkelamin”, yang intinya, sejauh yang dapat saya pahami, mengkritik budaya dikotomi gender yang cenderung patriarkis. Saya sepenuhnya sepakat dengan apa yang dituliskan oleh kawan saya itu, gagasan apik yang dia kemukakan patut menjadi bahan intropeksi serius dalam kehidupan keberagamaan kita. Namun ada satu ungkapan, satu frasa yang menggelitik bagi saya sehingga mendorong saya untuk menuliskan tanggapan, bukan jawaban apalagi bantahan, ini.

Dia melempar suatu bentuk pertanyaan filosofis, yang akan saya kutip di sini, mengenai nama Tuhan. Agak aneh barangkali, ketika dia sempat menyinggung mengenai hal tersebut sedangkan hal itu bisa dikatakan cukup melenceng dari tema yang tengah dia bahas dalam tulisannya. Dia mengatakan;

Mungkinkah Tuhan itu mempunyai nama? Perlukah Dia bernama? Ataukah semua ini hanya buatan manusia?”

Pertanyaan tersebut terselip di antara serangkaian pertanyaan yang bernada gugatan lainnya yang dia kemukakan. Saya di sini ingin mencoba, semampu saya, untuk memberikan sedikit tanggapan (sekali lagi, bukan jawaban apalagi bantahan) mengenainya.


Secara garis besar kita dapat membagi kepercayaan yang dianut manusia di dunia ini menjadi dua kelompok utama; yaitu ateisme, kelompok yang tidak menyembah tuhan tertentu, dan teisme, kelompok yang memiliki tuhan untuk disembah. Teisme adalah kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar manusia, dan dia pun terbagi menjadi dua kelompok; politeisme, kelompok yang menyembah lebih dari satu tuhan dan monoteisme, kelompok yang hanya menyembah satu tuhan saja. Kelompok yang menganut politeisme seringkali disebut sebagai kaum pagan. Dan kelompok yang menganut monoteisme oleh beberapa kalangan disebut dengan agama samawi. Agama Samawi ini dalam dunia modern direpresentasikan dalam tiga agama besar; Islam, Kristen, dan Yahudi.

Kedua kelompok kepercayaan yang menyembah tuhan itu memiliki tradisi yang berbeda dalam hal pengertian mengenai tuhan-tuhan mereka. Dalam tradisi Kaum Pagan, tuhan-tuhan yang mereka sembah diberi pengertian oleh manusia. Para manusialah yang membangun pengertian mengenai tuhan, termasuk nama-nama mereka. Misalnya saja dalam tradisi Mitologi Yunani, salah satu politeisme tertua, nama-nama tuhan datang dari kisah-kisah yang diwariskan turun temurun dalam karya sastra. Sumber literatur tertua dalam tradisi Mitologi Yunani yang bercerita mengenai tuhan-tuhan mereka adalah dua puisi karya Hesiodos yang berjudul Theogonia dan Erga Kai Hamerai. Literatur tersebut, sebagaimana juga literatur-literatur lain dalam tradisi Kaum Pagan, adalah karya manusia. Berbeda dengan tradisi tuhan dalam Agama Samawi yang pengertiannya, secara klaim, selalu datang dari sisi tuhan itu sendiri. Ini dikarenakan ada perbedaan konsep mengenai datangnya pengertian mengenai tuhan. Dalam tradisi Kaum Pagan, tidak jelas dari mana asal muasal pengertian mengenai tuhan itu selain apa yang dituturkan oleh para penyair melalui puisi-puisi mereka. Sedangkan dalam tradisi Agama Samawi, ada konsep Kenabian dan Wahyu yang menjadi jalur resmi datangnya pengertian mengenai tuhan. Kenabian adalah konsep mengenai orang-orang pilihan tuhan untuk menyampaikan pesan tuhan kepada manusia, dan Wahyu adalah adalah pesan yang disampaikan tersebut berupa firman-firman tuhan.

Dalam Agama Samawi yang memiliki konsep Kenabian dan Wahyu, yang memberi pengertian mengenai tuhan adalah Tuhan itu sendiri. Hal ini dapat kita lacak dala kitab-kitab suci Agama Samawi. Di dalam Taurat, kitab suci agama Yahudi, disebutkan bahwa Tuhan berfirman memberi pengertian mengenai dirinya sendiri; “Ehyeh Asher Ehyeh” yang diterjemahkan dengan “Aku adalah Aku.” Dari sinilah orang-orang Yahudi menyebut (memberi nama) tuhan mereka Yahweh yang bermakna “Dia Yang Ada”. Begitupun dalam agama Kristen dan Islam, Tuhan memberikan pengertian mengenai dirinya sendiri, termasuk nama-Nya, melalui firman-firman (wahyu) yang dapat dengan mudah kita temukan tertulis dalam kitab-kitab suci masing-masing agama.

Agama Islam dengan kitab sucinya al-Quran, mengemukakan pengertian mengenai Tuhan dengan jelas bahwa Tuhan itu adalah Allah. Allah adalah pengertian mengenai Tuhan dalam Islam. Allah adalah nama-Nya. Mengapa Allah? Karena Allah adalah pengertian mengenai-Nya yang difirmankan sendiri oleh-Nya. Di dalam al-Quran surat al-Qashash ayat ke-30 Dia berfirman,

“Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan Semesta Alam.”

Maka sebagaimana pengertian yang dikemukakan di dalam Taurat telah melahirkan nama-Nya dalam tradisi agama Yahudi, pengertian yang difirmankan oleh-Nya di dalam al-Quran ini menjadikan “Allah” dalam tradisi Islam adalah nama bagi-Nya, yang dengan nama itu orang-orang yang menyembah-Nya, yakni umat Islam, menyebut-Nya di antara mereka dan memanggil-Nya dalam doa-doa mereka kepada-Nya.