Niat Sebagai Penggerak Utama Seorang Muslim

Islam adalah agama yang bukan hanya memperhatikan aspek jasmaniah semata berupa ibadah yang menggunakan anggota badan. Melainkan Islam juga adalah agama yang memberi perhatian yang sama besarnya kepada aspek ruhiyah. Perhatian seimbang antara aspek jasmaniah dan aspek ruhiyah dalam peribadatan Islam adalah ciri khas Islam sebagai agama yang bersifat wasathan (moderat).

Salah satu aspek ruhiyah yang mendapat porsi perhatian besar dalam Islam adalah niat. Bahkan bisa dikatakan bahwa niat adalah pangkal segala peribadatan. Baik yang bersifat ruhiyah, maupun jasmaniah. Meski niat itu sendiri bersifat ruhiyah, ia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peribadatan jasmaniah.

Hal inilah yang disinyalir oleh hadits Rasulullah yang berbunyi:

"Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya..." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini jelas dikabarkan bahwa segala amalan itu, segala peribadatan itu, bergantung kepada Niat sebagai penggerak utamanya. Jika Niat yang ada sebagai penggerak tidak dimaksudkan sebagai ibadah maka peribadatan itu bagaimanapun baik dan bagusnya akan sia-sia semata.

Niat yang benar adalah niat yang ditujukan semata-mata kepada Allah semata. Bukan kepada selain-Nya. Bukan juga kepada hal-hal material di Dunia ini. Allah berfirman (yang maknanya):

"Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah dengan niatan yang tulus (ikhlash) kepada-Nya dalam beragama..." (Q.S. al-Bayyinah: 5)

Jika peribadatan ditujukan kepada selain Allah, ia tidak akan memberikan manfaat kepada pelakunya. Terutama di Akhirat nanti. Dalam artian peribadatan itu tidak akan mendapatkan pahala dari Allah.

Itulah mengapa amalan yang dilakukan oleh orang-orang kafir tidak ada nilainya di mata Allah. Sebab Niat mereka bukanlah tertuju kepada Allah. Allah berfirman (yang maknanya):

"Kami jadikan amal orang-orang kafir sia-sia bagaikan debu yang beterbangan." (Q.S. al-Furqan: 19)

Seorang muslim menjadikan Niat yang semata-mata untuk Allah dalam setiap peribadatan yang dia kerjakan. Bahkan lebih daripada itu,pada setiap pekerjaannya. Baik pekerjaan itu merupakan peribadatan, maupun hanya pekerjaan lumrah sehari-hari.

Para ulama telah sepakat bahwa pekerjaan lumrah sehari-hari itu, meski bukan peribadatan, apabila penggeraknya adalah Niat yang semata-mata untuk Allah akan mendapatkan nilai ibadah. Sehingga akan mendapatkan pahala dari Allah.

Dari sudut pandang ini, sudut pandang Niat sebagai penggerak utama, semua laku seorang muslim sejatinya adalah ibadah. Sebab ia selalu menjadikan Niat yang semata-mata untuk Allah itu sebagai penggerak utamanya.

Maka seorang muslim yang bekerja untuk menghidupi keluarganya dan belajar sehari-hari di sekolah maupun kampusnya adalah seorang muslim yang tengah beribadah. Selama Niat yang semata-mata untuk Allah itu selalu ada di hatinya.

Itulah mengapa Rasulullah menyandingkan orang yang bekerja dan belajar sebagai seorang pejuang yang berjuang di jalan Allah sebagaimana dalam sabdanya:

"Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bekerja dan terampil. Siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka ia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah." (H.R. Ahmad)

Dan sabdanya,

"Siapa yang mendatangi masjidku (masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah..." (H.R. Ibnu Majah)

Namun di samping keistimewaan di atas, Niat juga membawa konsekuensi yang besar. Sedikit saja niat itu melenceng dari jalur "semata-mata untuk Allah", ia akan mengubah laku seorang muslim menjadi laku yang tidak memiliki nilai apa-apa selain yang ada pada dirinya. Maka orang yang bekerja tanpa Niat mungkin memang akan mendapatkan uang, dan orang yang belajar tanpa niat mungkin memang akan pintar. Namun mereka tidak akan mendapatkan pahala dan bukan pejuang di Jalan Allah.

Selain dari pada itu, Niat yang melenceng dari "semata-mata untuk Allah" akan mengubah peribadatan yang seyogyanya adalah ladang pahala, menjadi amalan yang sia-sia belaka. Konsekuensi itulah yang dimaksudkan dalam lanjutan dari hadits yang sudah disebutkan pertama kali di atas;

"...Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah."

Hijrah dalam hadits di atas dapat dianalogikan ke segala bentuk peribadatan lainnya. Sebagaimana syarah (penjelasan) para ulama Hadits.

Hal tersebut juga dinyatakan secara tegas pada firman Allah pada salah satu hadits qudsi:

"Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang beramal suatu amal di dalamnya ia mensekutukan kepada selain-Ku, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya." (H.R. Muslim)

Maka seorang muslim adalah orang yang penggerak utamanya, baik dalam pekerjaan dan terlebih lagi dalam peribadatan, adalah Niat yang tulus semata-mata karena dan untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Wallahu A’lam.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.