Perpustakaan
Ironis, aku suka menyebut diriku suka membaca. Teman-temanku juga mengenal aku sebagai sosok yang gemar membaca. Tapi kenyataannya, tujuh tahun aku menghabiskan waktu di Jakarta tak pernah satu kalipun aku menginjakkan kaki di perpustakaan. Aku malah lebih sering mengungi gramedia, terjebak dalam pusaran arus konsumerisme yang sangat tinggi, terjebak dalam kentalnya kapitalisme.
Pagi tadi, ketika akhirnya aku berkesempatan menginjakkan kaki di perpustakaan daerah Jaksel, terima kasih kepada yang sudah membukakan jalan dan memperlihatkan kesempatan, aku berhadapan dengan suasana yang benar-benar baru meski tidak sepenuhnya asing. Kita semua tahu bagaimana suasana di suatu perpustakaan, tapi pengalaman yang menghampiri diriku tadi, jelas terasa lebih personal. Menimbulkan kesan yang cukup mendalam. Aku, selama di Jakarta ini terbiasa untuk tenggelam, atau menenggelamkan diri, ke dalam kesunyian di tengah keriuhan, dengan melihat kondisi kota Jakarta itu sendiri yang merupakan pusat dari keriuhan yang berputar-putar tanpa henti sepanjang hari. Begitu pula dalam hal membaca. Aku terbiasa duduk membaca di manapun tanpa terlalu terpengaruh dengan riuh rendah suara-suara yang mengelilingiku; di sevel dengan keriuhan jalanan dan ocehan anak-anak SMA, di taman dengan teriakan ibu-ibu yang mengejar-ngejar anaknya, dan anaknya yang mengejar-ngejar entah apa, di kafe dengan musik yang mengalun pelan dan obrolan yang timbul tenggelam, dll. Di tengah-tengah keriuhan yang mengelilingi itu aku tetap dapat larut di dalam bacaanku. Kadang sambil diselingi dengan diskusi-diskusi, jika kebetulan aku tidak sendiri.
Namun ketika memasuki area perpustakaan daerah, menuju rak buku, mengambil kumcer Lan Fang yang pertama kali menarik lirikanku, dan duduk pada tempat yang disediakan, aku tercebur ke dalam suasana yang membius. Di sini begitu tenang. Tidak ada suara-suara yang tidak perlu, hingga hampir-hampir kita dapat mendengar hembusan nafas kita sendiri dengan begitu jelas. Bahkan obrolan kecil dengan teman duduk saja sudah seperti tikaman yang merobek-robek kesunyian yang agung itu. Suasana semisal ini tentu telah aku, dan juga kita semua, ketahui atau minimal telah kita ketahui berdasarkan gambaran umum mengenai perpustakaan yang ada di benak kita. Namun mengalaminya secara langsung bagiku benar-benar sebuah pengalaman. Pengalaman yang mengesankan.
Jangan tanya aku mengenai perpustakaan LIPIA. Meski perpustakaan tersebut adalah perpustakaan Islam terbesar di Asia Tenggara, aku hanya beberapa kali mengunjunginya demi kepentingan akademis temporal atau sekedar ingin berfoto di tengah tumpukan buku. Ironis.