Realistis

Tantangan #My500Words; Hari ke-20

Para sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang paling pendek angan-angannya. Mereka tidak terjebak antara dilema kesedihan mengenang masa lalu dengan kekhawatiran dalam memikirkan masa yang akan datang. Apa yang mereka paling pentingkan adalah saat ini, hari ini. Saat yang benar-benar mereka miliki. Peluang yang benar-benar terbuka bagi mereka, untuk menanam satu lagi kebaikan, maupun menebus satu lagi keburukan. Mereka mungkin bisa disebut sebagai “manusia masa kini”, dalam artian mereka hanya betul-betul peduli dengan apa yang ada “sekarang”.

Menurutku seperti itulah sikap realistis. Sikap yang seharusnya juga aku miliki. Terlebih-lebih jika berkenaan dengan pekerjaan-pekerjaanku dan bagaimana aku menyelesaikannya. Dengan bersikap realistis sebagaimana para Sahabat, aku dapat lebih fokus kepada hal-hal yang mesti aku selesaikan pada saat ini. Ketimbang galau meratapi apa yang sudah berlalu, maupun takut akan apa yang belum terjadi.

Bersikap realistis, dalam pengertian ini, bukan berarti sikap yang tanpa perencanaan. Justru bagian penting dari sikap tersebut adalah perencanaan yang matang atas apa yang mesti kita lakukan. Langkah-langkah yang mesti ditempuh haruslah tertata dengan rapi dalam suatu gambaran rancangan yang jelas. Hanya dengan itu aku dapat fokus kepada apa yang mesti aku lakukan saat ini. Sebab segala sesuatu yang akan dilakukan nanti telah memiliki waktu khusus di masa yang akan datang, jika Dia menghendaki, untuk diaktualisasikan ke dalam tindakan nyata. Jadi masa yang akan datang hanya dipikirkan dengan seksama, dipertimbangkan berbagai kemungkinan yang menyertainya, pada waktu perencanaan saja. Setelah perencanaan rampung dilakukan, maka tiap-tiap langkah punya waktu yang tepat untuk dipikirkan lantas kemudian dijelmakan dalam perbuatan. Tentu saja aku juga tidak boleh melupakan sesi-sesi peninjauan kembali atas apa-apa yang telah aku lakukan, pada saat inilah masa lalu aku pikirkan dengan seksama, demi perencanaan yang lebih baik lagi.

Aku teringat ucapan ahjussi dalam The Man From Nowhere:

“Aku hanya hidup untuk hari ini!”

Orang-orang yang hidup untuk hari esok akan dikalahkan oleh orang-orang yang hidup untuk hari ini, kira-kira begitulah makna ucapan ahjussi. Betapa ungkapan yang tegas dan menggetarkan jiwa dari seorang yang memang menghadapi rasa takut dengan gagah berani dan berhasil menaklukkannya.


Aku merasakan betapa angan-angan menjauhkan diriku dari sikap realistis yang seharusnya. Dunia khayalan menjermuskan aku ke dalam mimpi tanpa batas. Baik tidur maupun terjaga. Mending jika khayalan tersebut menjadi konkrit dalam suatu kisah yang dapat dituturkan atau puisi yang dapat dilantunkan. Kadang-kadang memang seperti itu; khayalan yang memenuhi kepala mencetuskan sekelebat ungkapan yang menjadi pangkal atau ide pokok dari suatu karya. Namun momentum yang begitu tepat begitu jarang-jarang terjadi, dan khayalan yang berkembang biak kebanyakan hanyalah hasrat-hasrat samar akan kejadian-kejadian yang seharusnya mewujud. Atau dalam bahasa ilmiah disebut; ekspektasi.

Dari sini bisa aku katakan bahwa khayalan menghasilkan dua produk, yang satu produktif, dan yang satu lagi cuman sampah yang menipu. Yang pertama adalah inspirasi, sedangkan yang satunya lagi adalah: ekspektasi. Dan yang kontra dengan sikap realistis adalah ekspektasi, bukan inspirasi. Maka dari itu alangkah bagusnya jika khayalan-khayalan yang berputar-putar di kepalaku dapat aku jadikan mesin inspirasi, daripada menjadi gudang ekspektasi yang akan memangkas sikap realistis pada diriku, semakin memanjangkan angan-anganku.

Bersikaplah realistis seperti para Sahabat, nasehatku untuk diriku sendiri pada subuh yang penuh berkah ini.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ahmad D. Rajiv’s story.