Sekarang Hari Rabu dan Aku Rasa Aku Harus Menulis (Kembali)

Sudah tujuh belas hari sejak terakhir kali aku menulis sesuatu. Pada tujuh belas hari yang lalu itu aku memasuki musim ujian di LIPIA selama kurang-lebih dua pekan. Selepas itu langsung ada kegiatan rekreasi perpisahan kawan-kawan se-mustawa selama dua hari. Kemudian aku mesti menjadi screener di LK2 HMI cabang Jakarta Barat. Kegiatan itu bersinggungan dengan Musyawarah Wilayah Syabab Hidayatullah Jabodebek. Aku akhirnya menjalani keduanya secara tumpang tindih selama empat hari semenjak Kamis hingga Ahad yang lalu. Lalu tibalah hari Senin kemarin di mana aku didera perasaan galau yang luar biasa gara-gara, ya lagi-lagi, ekspektasi yang tidak sejalan dengan realita. Perasaan galau itu sebenarnya telah bersemayam semenjak hari Rabu sebelumnya. Namun menemui puncaknya pada hari Senin kemarin. Dua hari aku habiskan hanya untuk merenungi kejadian itu. Menata kembali pikiran dan persepsiku mengenai beberapa orang serta menarik kembali garis batas aman di mana aku bisa mengaktualisasikan diriku sepenuhnya.

Sekarang hari Rabu dan aku rasa aku sudah harus memulai kembali ritual menulis harianku. Sebenarnya selama masa kegalauan yang memakan waktu sekitar seminggu itu aku menulis banyak sekali catatan. Aku menulis lebih dari 2000 kata dalam sehari. Ajaib memang bagaimana kegalauan bisa menggerakkan tangan untuk terus menumpahkan kata-kata. Namun tentu aku tidak mungkin memosting satupun dari catatan-catatan yang hanya berupa revisi pribadiku atas relasiku dengan beberapa orang tertentu itu.

Hikmah yang penting dari kekecewaan adalah kita bisa selangkah lagi memahami manusia. Pengkhianatan memang menyakitkan, namun hal pahit tersebut akan membuat kita dewasa jika kita mampu belajar. Lihatlah apa yang Tyrion Lannister dapati dari pengkhianatan Shae.


Aku tengah memikirkan beberapa bentuk tulisan yang mungkin akan bisa bermanfaat. Aku kerap membaca tips-tips kehidupan dari artikel-artikel di Lifehack. Meskipun aku tidak paham sepenuhnya mengenai isi artikel-artikel berbahasa Inggris tersebut, aku masih mampu menangkap ide pokok darinya. Lagipula cara penyajian gagasan yang berbentuk poin-poin pokok yang dijabarkan (misalnya, 7 cara agar hidup tetap produktif) pada artikel-artikel itu sungguh memudahkan dalam mengambil intisarinya. Aku pikir bagaimana jika aku mengambil intisari tersebut, poin-poin pokoknya, dan menuliskannya kembali dengan bahasaku dan berdasarkan pemahamanku serta contoh-contoh yang aku ambil dari kehidupan sehari-hari di sekitarku. Aku rasa ide ini cukup bagus. Aku akan coba menjalaninya selama sepekan ini. Insya Allah.


Sebagai penutup bagi catatan pembuka ini, ada satu kutipan yang aku dapatkan dari aplikasi Journey yang aku pakai:

If the feelings are mutual, the effort will be equal

Aku kurang mengerti apa maksud dari kutipan tersebut. Pertama-tama untuk memahaminya aku perlu mengetahui terjemahannya. Jadi aku meminta pertolongan Google Translate. Inilah hasilnya:

Jika perasaan yang menguntungkan, usaha akan sama

Tapi aku masih merasa ada yang kurang pas. Maka akupun bertanya kepada yunda Luci, kawan sehimpunan dari Malang. Setahuku dia punya kecakapan bahasa Inggris yang mumpuni. Dia menerjemahkannya begini:

Jika mempunyai rasa yang sama, maka usaha yang dilakukan akan setara

Kemudian dia menambahkan penjelasan, “setara disini maksudnya sesuai dengan besarnya rasa. Kalo rasanya besar, maka usaha yang dilakukan harus besar juga.”

Jadi kira-kira maksud dari kutipan tersebut adalah bahwa usaha kita akan sesuatu, berbanding lurus dengan perasaan menguntungkan yang kita dapati dari sesuatu itu. Dengan kata lain, kita tidak akan mengusahakan sesuatu yang tidak kita rasa penting.

Menyadari ini aku jadi dapat sedikit lebih memahami perilaku Orang-orang Itu. Mungkin bagi mereka semua itu bukan persoalan dapat atau tidak dapat melakukan sesuatu, tapi apakah sesuatu itu penting atau tidak penting untuk dilakukan. Ketidaksamaan persepsi mengenai pentingnya sesuatu itulah yang kerap menimbulkan masalah. Misalnya saja aku menganggap beberapa hal sederhana tertentu penting untuk dilakukan namun bagi mereka tidak. Sehingga mereka tidak terbebani apa-apa ketika tidak melakukannya.

Aku melihat ke dalam diriku sendiri. Ternyata memang persepsi mengenai pentingnya sesuatu itu sangat berperan dan berpengaruh pada kesungguhan kita melakukannya. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang aku rasa atau aku pikir tidak penting. Dari sini aku bisa memahami lebih jauh bagaimana sesungguhnya posisi orang-orang itu. Dari sini pula aku bisa lebih memaklumi.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ahmad D. Rajiv’s story.