Selepas Workshop Muballigh Muda ke-04 NCMS

Tantangan #My500Words; Hari ke-13

Kegiatan yang sudah berlangsung selama tiga hari dua malam tersebut berakhir tadi siang. Saat ini aku telah kembali ke peraduanku dengan aman dan sentausa. Meninggalkan kenangan dan hal-hal tak selesai lainnya di belakang.

Secara sadar aku mengambil sikap untuk terus mendukung gagasan Cak Nur. Aku terutama tertarik dengan perjuangan humanisme dan penegakkan HAM. Sebagai seseorang yang pernah merasakan, meskipun sebentar, kengerian konflik, dan sudah bosan dengan berita-berita mengenai peperangan yang tak kunjung habis, yang justru banyak berkecamuk di negara-negara Islam, sudah seharusnyalah aku ikut turut memperjuangkan perdamaian dunia. Salah satunya dengan menyebarluaskan nilai-nilai luhur tentang perdamaian dari agama yang aku anut.

NCMS memberikanku jalan yang aku butuhkan untuk itu. Aku bertemu dengan orang-orang hebat, para pemateri selama workshop kemarin, yang terus bergerak memperjuangkan Islam yang damai dan toleran, memberikan hak-hak manusia dengan adil, dan membuka dialog antar peradaban dan kebudayaan.

Begitu juga teman-teman yang aku temukan di workshop kemarin. Para peserta workshop yang datang dari latar belakang yang berbeda-beda duduk bersama dan mendiskusikan strategi dakwah Islam yang dibangun di atas penegakkan hak-hak asasi manusia. Sesuatu dengan tema workshop tersebut yang berbunyi "Islam dan Hak Asasi Manusia".

Tema ini penting untuk terus dibicarakan. Dari materi-materi yang disampaikan kemarin, pemahaman mengenai keterkaitan erat antara HAM dengan Islam. Bagaimana prinsip-prinsip HAM itu adalah identik dengan prinsip-prinsip yang juga ditekankan di dalam Islam. Maka ketika kita berjuang menegakkan HAM, secara tidak langsung sebenarnya kita tengah memperjuangkan nilai-nilai dari agama kita sendiri, agama Islam.

Hanya saja bedanya, ketika kita berjuang menegakkan HAM, kita tidak berjuang secara eksklusif umat Islam sahaja. Melainkan berjuang bersama elemen-elemen lain dari seluruh dunia. Turut menjadi bagian dari dunia itu sendiri dengan berbagai keberagamannya. Termasuk di dalamnya keberagaman dalam agama dan kepercayaan. Semua berdiri sama rata sebagai sesama pejuang HAM, kaum humanis. Tanpa dipedulikan latar belakangnya, dari bangsa mana dia berasal atau agama apa yang dia anut.

Hal inilah sebenarnya yang mungkin menjadi ganjalan terbesar bagi kelompok-kelompok fundamentalis di dalam Islam. Romantisme sejarah sebagai pemimpin kebudayaan dan peradaban dunia serta hasrat untuk mencapainya kembali, membuat mereka enggan berdiri sama rata sama rasa dengan umat-umat lain. Umat Islam harus selalu menjadi pemimpin dan yang terdepan. Kira-kira seperti itulah kredo yang tertanam dalam hati mereka. Padahal kredo tersebut terlalu naif jika dihadapkan pada realitas objektif, di mana umat Islam sendiri sama sekali belum siap untuk menjadi pemimpin di tengah-tengah ketertinggalan dalam Ilmu Pengetahuan, dan degradasi serius pada tingkatan moral. Bagaimana umat Islam dapat memimpin dunia jika mereka enggan ikut memperjuangkan kepentingan dunia itu sendiri (dan kepentingan terbesarnya adalah terwujudnya perdamaian), sibuk dengan perdebatan-perdebatan melelahkan pada tataran ritual praktis, dan melupakan upaya untuk mencari solusi efektif (bukan sekadar jargon ataupun slogan) atas permasalahan-permasalahan dunia yang ingin mereka pimpin itu?


Aku berpendapat bahwa kita bisa kembali menjadi pemimpin dunia jika kita turut serta secara aktif bersama semua elemen-elemen yang ada di dunia memperjuangkan kepentingan dunia, sembari menunjukkan refleksi keunggulan agama yang kita anut melalui diri kita sendiri.

Aku pikir cara tersebut adalah yang terbaik. Namun tentu saja masih panjang perjalananku untuk membuktikan kebenaran pendapatku tersebut. Aku selalu terbuka pada segala kemungkinan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ahmad D. Rajiv’s story.