Siang yang Gerah

Jakarta adalah kota yang selalu menyediakan panas yang tak biasa. Aku sudah lebih dari 7 tahun tinggal di kota ini tapi belum juga bisa terbiasa dengan panas kota ini. Kipas angin di rumah kami mati. Mungkin karena kelelahan terus dipaksa bekerja melayani kami siang dan malam. Sudah tiga belas minuman dingin ber-es batu yang aku reguk. Lumayan mendinginkan tubuhku bagian dalam. Tapi tidak cukup untuk mengusir panas yang begitu menggelisahkan ini.

Pana yang disediakan Jakarta adalah panas yang gerah. Panas yang hanya bisa diredakan dengan angin. Berbeda dengan panas pantai yang disebabkan matahari, panas di Jakarta menurutku lebih disebabkan oleh asap, dan hawa panas yang lahir dari rahim kota dan orang-orangnya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.