Statusku di Facebook Hari Ini

Ada sesuatu yang penting selain tabayyun (meminta penjelasan/ kejelasan), yaitu bayan (menjelaskan/ memberi penjelasan).

Salah satu problem yang aku temui dalam komunikasi dan interaksi adalah kecenderungan beberapa orang untuk sok “dipahami”.

Kerap kita temukan teman, atau kolega yang berbicara sepotong-sepotong, memberikan informasi yang kabur, dan penjelasan yang setengah-setengah sehingga kesalahpahaman begitu mudah terjadi, namun dengan ringannya merasa bahwa komunikasi mereka itu wajar dan tak bermasalah. Orang-orang ini selalu menuntut pemahaman dari pendengar, merasa dengan jumawa bahwa pendengar pasti memahami yang mereka masksudkan. Kadangkala mereka malah dengan sengit menyalahkan pendengar ketika terjadi kekacauan komunikasi. Mereka tidak sadar, atau tidak mau sadar bahwa apa yang mereka paparkanlah akar masalahnya. Di mana pemaparan mereka itu tidak begitu jelas bagi penerima informasi.

Kita bisa saja menyalahkan sang penerima atas sikapnya yang enggan mencari penjelasan lebih lanjut, namun mengacuhkan faktor bahwa kita jugalah yang kadangkala kurang dalam menjelaskan, adalah keliru.

Alangkah indahnya jika dalam menjalankan komunikasi kita dapat meredam kekacauan informasi dan kesalahan persepsi dengan ungkapan sederhana yang mudah dipahami.

Kecuali jika memang yang kau inginkan adalah puisi.


Total kata dalam status yang mendapatkan lebih dari 20 like ini hanya 180 kata. Padahal aku rasa sudah cukup panjang. Mungkin dimensi ruang status Facebook yang membuat kata-kata tersebut terasa banyak. Kalau dalam sehari aku dapat menulis sekira lima status seperti di atas, target pencapaian kata-kata harianku akan terpenuhi.

Aku menuliskan status tersebut dalam jangka waktu kurang lebih lima sampai sepuluh menit. Pada sore tadi ketika aku baru saja keluar dari toilet mall Pejaten Village. Ide mengenainya terlintas begitu saja, berlandaskan suatu kejadian kurang mengenakkan yang kualami di siang hari tadi. Kejadian yang berkaitan dengan tema yang kutulis di dalam status. Yaitu mengenai bayan (penjelasan), di mana ada kekacauan komunikasi karena kurangnya bayan yang mengakibatkan aku terjebak dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan.


Awalnya aku ingin menulis sedikit mengenai Ragnar Lothbrok. Tapi sayangnya tema yang ada belum begitu mengerucut dan mengental dalam kepalaku. Banyak yang aku kagumi dari soosok Ragnar. Aku harus menginvestigasi kekaguman itu secara konkrit. Setelah itu baru rasanya aku dapat menuliskan sesuatu mengenainya dengan baik.


Ah, aku mengantuk. Kata-kata yang akan keluar dariku tidak lebih dari sekedar racauan dan gurauan semata. Padahal malam belum terlalu larut. Globat TV menayangkan Pirates on Carribean; On The Stranger Tides. Aku mengagumi Jack Sparrow. Gayanya yang sok santai namun licik dan banyak akal sangat aku sukai. Diam diam aku menirunya. Dengan sama-sama berlagak santai namun dengan tanpa kehilangan kelicikan dan akal bulus yang berguna.

Dan aku sangat ingin memiliki kompas seperti kompas Jack Sparrow. Kompas yang ia miliki tidak menunjuk ke arah utara maupun selatan, timur maupun barat, akan tetapi menuju ke arah di mana barang yang paling diinginkan oleh pemilik kompas itu berada. Sangat menyenangkan tentunya jika kita dapat memiliki barang seperti itu. Aku membayangkan aku akan menempuh berbagai macam petualangan demi mendapatkan hal-hal yang aku inginkan. Aku tidak perlu lagi galau dan ragu, apa yang aku inginkan dari hati yang paling dalam akan ditunjuk dengan jelas oleh kompas tersebut.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.