Tentang Jabatan

Catatan Kecil Seorang Kader HMI

Jabatan adalah amanah. Sebuah beban kepercayaan yang diberikan untuk ditunaikan dengan baik dan bermartabat. Pertanggung-jawabannya bukan hanya di hadapan manusia, namun juga di hadapan Allah SWT pada hari Kiamat nanti.

Bagi seorang kader HMI, nilai pertanggungjawaban sosial (di Dunia), dan moral (di Akhirat) mesti dipegang sebagai pengingat bahwa jabatan yang diemban sama sekali bukan kebanggaan, melainkan salah satu bentuk pengabdian dan pelayanan.

“Kehidupan (ada dua aspek; -pen) sekarang di Dunia, dan abadi (eksternal) berupa kehidupan kelak sesudah mati di Akhirat. Dalam aspek pertama manusia melakukan amal perbuatan dengan baik dan buruk yang harus dipikul secara individual, dan komunal sekaligus. Sedangkan dalam aspek kedua manusia tidak lagi melakukan amal perbuatan, melainkan hanya menerima baik dan buruknya dari amalnya dahulu di Dunia secara individual.” — Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI, BAB III

Jadi jabatan itu bukan hanya dituntut pertanggungjawabannya di Dunia, yang misalnya secara konkrit berbentuk Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), melainkan juga di Akhirat kelak. Bedanya, jika pertanggungjawaban di Dunia dikemukakan di hadapan sesama manusia, pertanggungjawaban di Akhirat dikemukakan di hadapan Tuhan Seru Sekalian Alam, Allah SWT.

“Di Akhirat tidak terdapat pertanggungjawaban bersama. Tetapi hanya ada pertanggungjawaban perseorangan yang mutlak” — Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI, BAB III

Ketika sebuah jabatan telah menjadi tujuan yang ingin dicapai oleh seorang kader HMI, sesungguhnya dia telah menodai nilai-nilai dasar perjuangannya. Bukankah pada saat menjalani proses pengkaderan tingkat dasar (basic training), Pengarah Pengkaderan (Master of Training) dengan sangat tegas, bahkan cenderung doktrinal, menanamkan bahwa niat segala proses tersebut adalah untuk mencapai ridha Allah? Selanjutnya lagi pada saat penyampaian materi Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, sang pemateri, dengan dialektikanya, bukankah ingin menanamkan bahwa Kebenaran Hakiki, bahwa Kebenaran Mutlak, yakni Allah SWT, adalah tujuan sebenar-benarnya dari keseluruhan proses kehidupan ini?

“Sebagaimana tata nilai harus bersumber pada Kebenaran dan berdasarkan kecintaan kepada-Nya, ia pun harus sekaligus menuju kepada Kebenaran dan mengarah kepada ‘persetujuan’ atau ‘ridha’-Nya.” — Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI, BAB I

Apakah jadinya jika sumber gerakan seorang kader HMI adalah egoisme (personal maupun sektoral), dan kecintaan kepada hal-hal material, serta menuju kepada jabatan dan mengarah kepada persetujuan atau ridha manusia?