The Revenant

Tantangan #My500Words; Hari ke-18

Ini catatan untuk hari kemarin. Karena hujan yang cukup deras selepas aku dan dia selesai menonton film The Revenant, kami jadi terlambat pulang ke rumah. Keterlambatan itu diperparah dengan kondisi rumah yang membutuhkan penanganan serius dalam soal kerapian. Selepas beres-beres yang tidak sebentar, waktu ternyata telah menunjukkan pukul dua pagi. Aku memutuskan untuk istirahat saja.


Setelah penantian panjang selama karirnya, Leonardo Dicaprio akhirnya memenangkan penghargaan Oscar untuk nominasi pemeran utama pria terbaik. Semua orang tahu bagaimana jalan terjal yang ditempuh oleh Dicaprio untuk meraih penghargaan tersebut. Tidak ada yang meragukan kemampuan akting sang aktor. Pun film-film yang dia bintangi hampir semuanya sukses, baik dari segi finansial maupun kritik. Sebut saja di antaranya; Titanic -film yang mengantarkan namanya ke seluruh dunia dan juga menyabet begitu banyak penghargaan Oscar-, Blood Diamond, The Beach, Inception, The Wolf of The Wall Street, Great Gatsby, dll. Namun kesuksesan film-filmnya itu sama sekali tidak mengantarkannya menyabet satupun penghargaan Oscar. Meski berkali-kali ia memasuki daftar nominasi. Saking “sial’-nya Dicaprio dalam ajang penghargaan Oscar, banyak meme yang berkeliaran di internet dengan nada sarkatis menyindir dirinya. Beberapa bahkan terang-terangan mem-bully-nya.

Kisah Dicaprio dengan Oscar sarat dengan ironi. Kisah berliku seorang seniman dengan dedikasi yang tinggi dalam perjuangan meraih pengakuan internasional. Oscar jelas bukan sekadar sebuah penghargaan bagi Dicaprio. Lebih dari itu, ia adalah pencapaian seumur hidup baginya. Materpiece-nya. Dia 44 tahun sekarang. Oscar ini bisa menjadi awal atau bisa juga akhir baginya. Aku mengagumi Dicaprio dengan sungguh-sungguh, dengan atau tanpa penghargaan Oscar di sisinya.


Sekarang, mari bicara mengenai film The Revenant itu sendiri. Kesan keseluruhan mengenai film ini adalah; film ini adalah film yang lama. Durasinya 2 jam 36 menit. Pada beberapa saat ada sekelebat lintasan pikiran; “film ini kapan habisnya sih?”.

Film ini bercerita mengenai pembalasan dendam. Seorang pemburu ditinggalkan oleh kawan-kawannya untuk mati di tengah rimba belantara, setelah sebelumnya dia bertarung hingga berhasil membunuh seekor beruang. Pertarungan itu membawanya ke tepi kematian. Karena kelompoknya tidak mungkin lagi membawanya bersama mereka, dia ditinggalkan bersama tiga orang; anaknya dari seorang perempuan indian, seorang remaja sebaya anaknya, dan seorang laki-laki yang selalu sinis terhadapnya, untuk dibiarkan mati dengan baik lantas dikebumikan dengan layak. Tapi ternyata sang laki-laki mengkhianati perjanjian yang telah dibuat dan ingin mempercepat kematiannya. Maka dimulailah perjalanan panjang pembalasan dendam yang dihiasi drama bertahan hidup yang begitu keras hingga menyentuh batas-batas bayangan manusia.

Aku suka film yang bertema pembalasan dendam. Ada kepuasan tersendiri ketika tokoh utama berhasil menuntaskan dendamnya dan menegakkan keadilan. Orang-orang jahat mendapatkan pembalasan yang setimpal. Namun pembalasan dendam dalam film ini belum terlalu greget bagiku. Setidaknya jika dibandingkan film-film pembalasan dendam yang paling aku gemari, yaitu; I Saw The Devil, I Spit On Your Grave, maupun The Man from Nowhere.

Meskipun aku bukan pengamat film yang baik, aku setidaknya bisa mengatakan bahwa teknik pengambilan gambar dalam film ini bagus dan sangat apik. Dipadu dengan efek suara yang serasi, dan pendalaman karakter yang begitu kuat, terutama Dicaprio sebagai seorang ayah yang hanya memiliki anaknya dalam kehidupan ini sehingga rela melalui penderitaan yang teramat memilukan demi anaknya itu. Jadi meskipun film ini menghabiskan durasi yang cukup lama, kita tidak akan sampai merutuk karena bosan ketika menontonnya.


Wah, tidak terasa sudah 500 kata. Sampai jumpa di catatan selanjutnya!