Waktu yang Tepat Untuk Menulis

Catatan Pribadi untuk Memulai

Salah satu problem terbesar bagiku dalam membangun kebiasaan menulis adalah mencari waktu yang tepat untuk itu. Selama 24 jam manusia menjalani hidup setiap harinya, aku masih saja bingung pada waktu kapan, pada jam berapa, aku dapat menulis dengan baik.

Aku bisa saja menetapkan bahwa aku akan menulis kapan saja ide dan gagasan datang padaku pada suatu putaran hari. Namun komitmen ini sangat tidak efektif karena rentan terhadap penunda-nundaan yang setiap saat selalu datang membisikkan godaannya. Belum lagi aktifitas atau pekerjaan yang datang secara tak terduga yang bisa saja menghabiskan waktu yang ada dan mengalihkan perhatian dari keinginan untuk menulis.

Setiap orang memiliki kecenderungan berbeda-beda dalam hal waktu yang baik untuk menulis. Ada yang merasa mendapatkan banyak ide di waktu-waktu begadang di malam hari. Ada yang tangannya ringan setelah menunaikan shalat tahajjud. Ada pula yang bersemangat menulis bersamaan dengan terbitnya matahari. Dan Ada yang meluangkan waktu sebelum tidur untuk menulis sangatlah baik baginya. Masih banyak lagi kecenderungan serupa yang setiap orang memilikinya sendiri-sendiri.

Masalah timbul ketika ada seseorang yang tidak mengetahui dengan jelas kapan waktu menulis yang paling baik baginya. Atau dia memiliki lebih dari satu kecenderungan dan bingung mesti menekuni yang mana. Menekuni semuanya jelas akan merepotkan. Membiarkan mood menentukan kecenderungan mana yang dituruti setiap harinya lebih merepotkan lagi. Seperti diriku ini yang hingga saat ini masih terombang-ambing antara satu kecenderungan ke kecenderungan yang lain. Kadang saking bingungnya ingin menuruti kecenderungan yang mana, aku melewati satu hari tanpa menuliskan satu kata pun.

Ketegasan sikap dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini. Tanpa itu, aku hanya akan kalah oleh syahwat jiwa yang hanya gemar bermalas-malasan dan menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran. Aku mesti memilih satu dari kecenderungan yang ada padaku untuk aku jalani secara konsisten.

Aku bisa memulai dari membuat program selama selama satu pekan. Aku akan memilih satu dari sekian kecenderungan yang ada padaku untuk aku tekuni selama tujuh hari. Untuk menjadikan program tersebut berjalan dengan semestinya, aku mesti membuat catatan untuk mengawalnya. Catatan yang kemudian akan aku pergunakan untuk melihat dan mengevaluasi antara satu kecenderungan dengan kecenderungan yang lain, manakah di antaranya yang lebih nyaman bagiku dan lebih efektif.

Adapun bagi mereka yang belum mengetahui secara jelas waktu yang tepat baginya, mungkin bisa mencoba untuk meniru terlebih dahulu kebiasaan penulis-penulis besar. Dari pengalaman meniru itu dapat dicari-cari kecenderungan mana yang paling cocok atau sesuai. Apakah kecenderungan yang ditiru dari penulis anu, ataukah anu. Atau dari pengalaman peniruannya itu dia menemukan satu kecenderungan yang khas bagi dirinya sendiri. Kecenderungan yang sesuai dengan tabiat alaminya dan kehidupannya.

Di atas itu semua, komitmen utamanya adalah tiada hari tanpa menulis. Komitmen itu harus ditanam dalam-dalam di dalam diri. Jika ingin lebih baik lagi, komitmen tersebut dapat diikuti dengan komitmen untuk menulis sebanyak sekian lembar, jika menulis menggunakan cara klasik, atau sekian kata, jika menulis menggunakan perangkat digital. Seperti diriku yang selain berkomitmen untuk menulis setiap harinya, juga berkomitmen bahwa tulisanku tersebut tidak boleh kurang dari 500 kata, atau dua halaman dari buku catatanku. Namun bagi mereka yang masih bingung menentukan jumlah mana yang tepat dan sesuai untuknya, sebaiknya tidak menentukan apa-apa dahulu, dan lebih fokus pada komitmen yang pertama; tiada hari tanpa menulis.

Setiap penulis besar yang sempat aku baca biografinya, maupun aku baca catatandi blog-blog pribadi mereka, pasti memiliki satu kebiasaan khas dalam hal ini. Satu penulis berbeda dengan yang lainnya. Namun semuanya sama dalam hal; mereka tidak melewatkan satu hari pun tanpa menulis.

Aku pernah bertemu dengan seseorang yang cita-citanya adalah ingin menjadi seorang penulis, tapi ketika aku bertanya apa yang sudah dia tuliskan hari ini dia menggelengkan kepala sambil berkata, “belum ada mood untuk itu hari ini.” Konyol sekali jika kamu bercita-cita menjadi penulis namun hal yang paling asasi bagi seorang penulis, yaitu menulis itu sendiri, tidak menjadi kebiasaan bagimu. Ungkapku kesal padanya.

Menjadi penulis berarti adalah menghabiskan waktu dengan tekun untuk menulis dan menjadikan kepenulisan sebagai agenda utama. Tidak ada maksud lain.


Baiklah, setelah menulis sampai pada kata ini aku sudah cukup dengan apa yang aku temukan; aku akan memulai program pekanan untuk menemukan waktu mana yang paling tepat bagiku untuk menulis. Bismillah. Berhasil atau tidaknya program ini akan kita lihat nanti. Aku tentu akan mencatat perkembangannya di Journey, namun jika aku rasa perlu, catatan itu akan turut aku bagikan di sini. Insya Allah.


NB: Jika kau sempat membaca catatan ini sampai akhir, berkenankah dirimu untuk berbagi denganku, kapan waktu yang paling tepat bagimu untuk menulis?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ahmad D. Rajiv’s story.