Aku Akan Mencintaimu dengan Berhati-hati

Seperti ketika pertama sekali aku mengendarai sepeda, aku dilimbung gelisah. Sekitarku terasa berputar. Beberapa orang yang kukenal tampak dari jauh memperhatikan. Aku takut, lalu mengayuh dengan berhati-hati.

Seperti memilih merantau ke luar kota untuk kuliah. Di kota asing yang menjanjikan kebahagiaan, keriuhan, teman-teman baru, bisokop yang tak pernah sepi, namun meninggalkan ibuku sendirian menua di desa yang sepi dan terus merindukanku. Aku khawatir, lalu pergi dengan berhati-hati.

Seperti mencari buku sastra lama di toko buku loak seberang rel kereta api yang digusur pemerintah. Setelah beberapa kali membeli, aku kini akrab dengan para penjual, saling bercengkrama, lalu mendengar cerita-cerita lama mereka. Di antara buku-buku dan cerita itu, aku dimakan waktu hingga petang. Aku takut, lalu membeli satu buku saja.

Dan seperti pertama sekali aku melihatmu malam itu, kau diam dan aku mengabaikanmu. Pada waktu yang sebentar kita telah memiliki sebuah percakapan dan kehilangan sebuah malam. Kau menciptakan mitos-mitos perihal simpul senyum yang singkat dan tanah-tanah yang ditelan hujan. Untuk pertama kalinya aku kembali menjadi masa lalu. Kau seperti menolak mengaku aku. Esok paginya, kau menghilang.

Aku akan mencintaimu dengan berhati-hati, agar waktu tidak singkat lagi, agar hujan tidak selamanya lagi, agar malam tidak sepi lagi, agar aku tidak sendiri lagi, agar kau tidak pergi lagi.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rony Fhebrian’s story.