Memahamimu dari Dua Buah Diorama Kata

Kekhawatiran menghantui kepala-kepala para kekasih yang gemar mengabaikan takdir. Mereka seperti diorama bisu di belakang layar dengan kotak musik enggan berkomentar. Kita di kata ini masih saja meributkan siapa yang sedang mengapa. Tidak ada perihal lain selain ciuman-ciuman basah dan kepala yang tak pernah sepi pengunjung.

Rumah ini dinyatakan kosong tepat ketika kau menjadikannya stasiun persinggahan, bukan terminal terakhir. Di beranda, tinggal kursi roda yang khawatir dan sendok teh yang tak henti-hentinya berdentik mencium bibir cangkir.

Di sebuah malam, aku mengingat kedatanganmu sebagai sesuatu yang kurindukan. Aku tak menyangka wajah yang bergerak lambat dari masa lalu adalah kau yang tengah tersenyum memilih pergi. Begitu banyak mereka — sepi, rindu, kawan, wajah, kita, kata dan kau — pergi begitu saja ke tempat masing-masing. Setelah perrtemuan satu dua kali denganku. Kau dan kata-kata sama saja; bertebaran di pikiranku tetapi sukar sekali dirapikan.

Bisakah seseorang menerka masa lalu? Jika demikian, izinkan aku menerka kau pergi dan aku sendiri lagi. Sebab ada ingatan timbul tenggelam tentang kau yang tak pernah menyayangiku dan aku yang tak pernah ada di kepalamu.

Kau seperti aksara-aksara Arab yang kukenal, kulafal, kuhafal, lalu terlupakan. Tidak, bukan karena ingin dilupakan, tetapi mereka tidak pernah ingin diingat. Seperti kau dan sajak yang hanya sebentar itu. Kau, wajah akrab yang tiba-tiba saja asing. Jika saja sebelum kita lupa, kau mengerti bahwa aku menginginkan kita ada, selamanya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.