Pelajaran dari 7 Penulis Terbaik yang Membenci Pekerjaan Mereka

Hari ini dimulai seperti hari-hari yang lain. Dengan halaman kosong.

Artikel harus ditulis. Daftar harian harus diselesaikan. Namun tetap saja kursor kecil sialan itu diam di tempat yang sama mengejekku dengan caranya yang mencibir — muncul dan hilang sesering mungkin.

Aku benci halaman kosong. Dan aku bukan satu-satunya.

Kendati kesuksesan mereka, terdapat ratusan pengarang dan penulis di luar sana yang membenci proses merangkai kata menjadi kalimat. Kesendirian. Waktu yang merenggang saat mengetahui sudah berapa lama kau tidak berhubungan dengan manusia lain. Ketidakmampuan untuk berfikir atau bercerita tentang apapun selain topik yang sedang kau kerjakan. Dan jangan buat aku bercerita tentang keragu-raguan, kritik pada diri sendiri, dan writer’s block.

Salah satu penulis hebat di abad 20, Franz Kafka, membakar hampir 90 persen karyanya selama masa hidupnya.

Bahkan setelah kematiannya pada tahun 1924, sebuah surat ditemukan di meja meminta kepada temannya, Max Brod agar membakar sisa karyanya, tak terbaca. Beruntung, Brod menolak permintaan tersebut.

Saya mengerti apa yang sedang terjadi di kepala Kafka ketika dia menyulut kata-kata. Setiap orang yang memilih menulis sebagai bagian dari pekerjaannya — yang di mana hampir setiap orang dengan email, memo, blog, atau novelnya) telah memiliki keinginan untuk merobek setiap tulisan atau melempar laptop mereka ke luar jendela.

Tidak mudah menyakinkan diri sendiri seumur hidup, atau bahkan untuk beberapa jam saja, menulis. Dengan menuntut hasil dan pencapaian yang jelas.

Menulis ialah cara paling mudah untuk menjernihkan pikiran, merumuskan ide pada nilai-nilai yang tepat, dan menyebarkannya kepada dunia.

Seperti ujar Dorothy Parker — dengan cerdas:

Saya benci menulis. Saya senang telah selesai menulis.

Kita — Saya dan para penulis yang sedang membaca ini (kuharap) — sedang dalam pertempuran yang sama dan cukup membantu (kurasa) jika kamu mengetahui bahwa ketika kamu sedang duduk di sana menatap halaman kosong dengan tatapan meringis, kamu sedang di perahu yang sama dengan beberapa penulis terhebat dunia pernah miliki.

“Ketika Aku menulis, Aku merasa seperti manusia yang tidak memiliki lengan dan kaki, dengan krayon di mulutku.” — Kurt Vonnegut

Vonnegut; Seorang seniman grafis, essayis, dan novelis memiliki karir yang cemerlang, namun dia sering memiliki masa-masa kritis ketika proses menulis dan hampir menyerah saat Ia memiliki tugas singkat di sebuah kabar berita olahraga ketika diminta untuk melaporkan kuda lari yang mencoba untuk keluar lapangan. (Cerita ini berakhir ketika Vonnegut menatap halaman kosong seharian, hingga akhirnya ia menulis, “The horse jumped over the f*cking fence,” lalu ia berhenti dari pekerjaannya).

Untungnya, Vonnegut memilih untuk kembali menulis dan membuat tidak hanya menerbitkan beberapa karya fiksi yang luar biasa, namun juga membagi pengetahuannya dalam dunia menulis.

Mungkin tempat ini menjadi tempat yang paling tidak tepat mencari tips bagaimana menulis dengan substansi sederhana, namun pada jurnal tahun 1980 tentang Transactions on Professional Communications di Institute of Electrical and Electronics Engineer, Vonnegut menulis beberapa saran menulis terbaiknya:

1. Cari sebuah subjek yang paling kamu senangi. “Cari sebuah subjek yang paling kamu perhatikan dan menurut hatimu orang lain juga harus peduli. Hal yang paling kamu pedulikan, dan tidak hanya permainanmu dengan kata-kata, yang akan menjadi elemen paling menarik dan menggoda dalam gaya penulisanmu.”

2. Tetap sederhana. “Ingat bagaimana dua guru bahasa terbaik, William Shakespeare dan James Joyce, menulis kalimat dengan kata-kata paling kekanak-kanakan pada subjek yang paling mendalam. ‘To be or not to be?’ tanya Hamlet -karakter drama Shakespeare. Kata paling panjang hanyalah terdiri dari tiga huruf. Joyce. Ketika dia sedang cekatan, namun menempatkan kalimat serumit dan secemerlang kalung Cleopatra, namun kalimat favorit saya terdapat pada cerita pendeknya ‘Eveline’: ‘She was tired.’ Pada titik cerita itu, tidak ada kalimat lain yang dapat menghancurkan hati pembaca selain tiga kata itu.”

3. Terdengarlah seperti dirimu sendiri. “Saya sendiri menemukan bahwa saya paling suka menulis dengan caraku sendiri, dan orang lain juga sepertinya percaya akan hal itu. Ketika saya terdengar seperti seseorang yang sedang patah hati — atau kehilangan laptop, misalnya. Pilihan lain manakah yang masih saya miliki?

4. Katakan apa yang paling Kamu maksudkan. “Pembaca ingin setiap halaman kita terlihat seperti halaman-halaman yang mereka baca sebelumnya. Kenapa? Hal ini karena mereka sendiri memiliki tugas berat yang harus dilakukan, dan mereka butuh seluruh bantuan yang mereka bisa dapatkan dari kita.”

“Menulis merupakan pengalaman yang mengerikan, saat di mana rambut sering rontok, dan gigi sering tanggal” — Flannery O’Connor

Pemenang buku nasional yang menulis dua novel dan 32 cerita pendek selama hidupnya percaya bahwa membangun kebiasaan baik merupakan cara terbaik untuk mengalahkan halaman kosong:

“Saya penulis yang percaya akan kebiasaan baik. Kamu tidak dapat menulis tanpanya (kebiasaan baik) walaupun memiliki kejeniusan namun kebanyakan dari kita hanya memiliki bakat dan hal ini harus selalu dibimbing dengan kebiasaan fisik dan mental atau hal ity akan mengering dan menghilang…

Tentu saja kamu harus membuat kebiasaan yang sesuai dengan apa yang kamu dapat lakukan. Saya hanya menulis kira-kira dua jam per hari karena hanya itu energi yang Saya miliki, namun Saya tidak ingin apapun mengganggu dua jam berharga itu, pada waktu yang sama di tempat yang sama.”

Penulis seperti Virginia Woolf juga memiliki nasehat yang dikutip dari tulisannya The Leaning Tower:

“Jadilah gila, jadilah sentimental, tiru orang lain… kendalikan setiap dorongan; lakukan kesalahan gaya tulisan, grammar, rasa, dan sintaks; keluarkan; jatuh; lepaskan amarah, cintai, satirkan, pada setiap kata yang dapat kau tangkap, paksa atau ciptakan, pada setiap irama, prosa, puisi, atau omong kosong yang keluar menuju tanganmu. Dengan itu, kau akan belajar menulis.”

Paling penting, untuk setiap orang yang mencoba hidup dengan menjadi penulis lepas ketika menciptakan apa-apa yang penting untuk ditulis, Woolf bertanya:

“Apa yang lebih mudah dari pada menulis artikel dan membeli kucing Persia dengan keuntungan?”

“Menulis tidak membuat suara, kecuali erangan, dan dapat dilakukan di mana saja, dan selalu dikerjakan sendirian.” — Ursula K. LeGuin

Penulis fiksi-ilmiah dan fantasi menjelaskan cara tercepat untuk menjadi penulis yang baik ialah dengan memulai membaca lagi, dan membaca melebihi tingkat kenyamanan kamu:

“Kegagalan pemula sering merupakan hasil dari mencoba bekerja dengan perasaan dan ide yang kuat tanpa telah menemukan gambaran untuk mewujudkannya, atau bahkan tanpa mengetahui bagaimana mencari kata-kata dan menyatukannya. Pengabaian kosa kata dan struktur kata menjadi kecendrungan besar penulis. Dan obat yang paling mujarab, Saya percaya, ialah dengan membaca.

Orang-orang yang belajar berbicara pada umur dua tahun dan telah belajar sejak itu membenarkan bahwa mereka tahu bahasa mereka; namun apa yang mereka ketahui ialah bahasa yang mereka sering gunakan, dan jika mereka membaca sedikit, dan tidak menulis banyak, tulisan mereka kira-kira akan sama seperti apa yang mereka bicarakan ketika berumur dua tahun.”

James Joyce idealnya contoh baik bagi seorang novelis nekad dan berani dan tidak mengejutkan jika beberapa nasehat terbaiknya dalam menjadi penulis yang lebih baik berkisar seputar mengambil resiko.

Dalam percakapan dengan James Joyce, yang menceritakan hubungan penulis Irlandia ini dengan Arthur Power pada tahun 1920an, Joyce menjelaskan makna menjadi penulis modern:

“Hal yang paling penting bukan apa yang kita tulis, namun bagaimana kita menulisnya, dan menurut pendapat saya, penulis modern harus menjadi petualang, berani mengambil resiko, dan bersiap-siap berusaha jika dibutuhkan. Dengan kata lain, kita harus menulis dengan berbahaya.”

“Saya paling benci menulis. Tidak ada kesenangan yang Saya dapatkan karena Saya tidak dapat bangun pagi dan mengatakan kalau Saya sedang bekerja, menutup pintu, menyeduh kopi, dan duduk termenung di sana seperti pelamun” — Jack Kerouac

Kerouac merupakan jenis pria yang dapat duduk diam dan menulis draf terakhir sebuah novel seperti On the Road dalam waktu 20 hari, namun dia tetap mengatakan sulitnya menjalani kehidupan sebagai penulis.

Bagaimanapun, dia secara teratur menulis dan berbicara tentang kesenangan menulis dan menaruhnya di daftar 30 keyakinan dan teknik untuk prosa modern. Ini 5 favorit saya:

  • “Sesuatu yang kamu rasakan akan menemukan polanya sendiri”
  • “Abaikan larangan tulisan, bentuk kata, dan sintaks”
  • “Jangan berfikir perihal kata-kata ketika kamu sejenak berhenti menulis tapi lihat gambaran yang lebih baik”
  • “Tidak ada rasa takut atau malu dalam kemuliaannya pengalaman, bahasa, dan pengetahuan”
  • “Kau ialah orang yang paling cerdas sepanjang waktu”

Atau dalam bahasa yang lebih sederhana: Percaya dengan instingmu, lupakan segala aturan, berani, dan percaya diri dengan kemampuanmu. Kederangan seperti nasehat yang cukup baik bagi kita semua.

Menulis ialah hubungan personal yang dalam dan tidak dengan mudah dapat dipicu dengan tips atau saran. Semua orang hebat ini telah melihat kegelapan yang dapat dibawa ke dalam hatimu oleh sebuah halaman kosong dan maju untuk menulis prosa hebat yang indah.

Kita berada di situasi yang sama, dan semoga kata-kata singkat penyemangat ini dapat menolong kamu melalui hari-hari gelapmu.