Seorang Perempuan yang Gemar Menenun di Pikiranku

Tahun mengajarkan kita untuk belajar dari waktu yang tak bermanfaat, dan cinta yang tidak tepat. Tuhan mengajarkan kita untuk paham rindu yang tidak tersampaikan, dan kebetulan yang diabaikan. Dia berbicara sejenak sebelum petang namun bergema di malam-malam yang buram.

Kita rakus sekali ketika kata-kata mulai kelaparan di kepala, menggelepar di ingatan, lalu tidur tenang hingga kau tidak dapat lelap karenanya. Rindu seperti mendung parsial, kejam sekali. Kau berpikir cuaca akan cerah tapi hujan datang tanpa ampun setelahnya. Aku merindukanmu, merindukan matamu yang dapat melukaiku hanya karena memincingkannya padaku.

Ketika hujan, aku menungkupkan dua tanganku, mencoba menutup semua celah jemariku, agar tidak ada hujan yang lolos dari pandanganku. Aku membayangkan setiap hujan sebagai doamu yang disampaikan Tuhan karena kau sangat pemalu. Ia tahu jemarimu terlalu rapuh untukku menggenggammu, maka jatuhlah hujan, dan air matamu, dan doamu, dan rindumu, dan pelukanku padamu.

Jangan pergi, aku akan membawamu secangkir kopi hitam. Jangan menggigil, angin barat tidak selamanya membawa ingin dan janji mati. Jangan lupa, kita di sini untuk saling mendekap masa-masa depan yang tidak terencana lagi.

Sekarang, ada seorang perempuan yang gemar menenun di pikiranku. Ia merajut selendang, agar doaku tidak mati kedinginan menggantung di langit-langit.

Like what you read? Give Rony Fhebrian a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.