DARI MIMPI

Seperti yang pernah aku sampaikan padanya tempo hari, tentang mimpi aku menjadi orang lain. Di sana aku menjadi seorang anak berusia beranjak remaja yang kehilangan ayahnya dan ada cerita di balik kehilangan itu. Di mimpinya aku, orang lain itu takbernama. Satu hal, ayahku di mimpi itu ternyata terbunuh oleh ghaib yang dikirim seseorang atas nama dendam.

Sebagian mimpi itu samar, aku tiba-tiba mengetahui bahwa pada kenyataan mimpi itu ghaib tidak sama sekali berhenti setelah ayahku terbunuh. Tentang bagaimana aku mengetahuinya, sebut saja aku mengarang sendiri. Aku terlalu penasaran sehingga aku menyebutnya seperti itu. Berarti tidak bisa dikatakan tiba-tiba’kan? Kalian pasti bertanya dan tertawa terbahak-bahak mengenai mimpi itu.

Mimpi itu hanya mimpi, hanya saja ketika aku terbangun aku merasa ngeri luar biasa. Sehingga terbitlah dalam karanganku sendiri kenyataan dalam mimpi itu. Karangan yang kusampaikan tempo hari dan hari ini. Barangkali akan aku sampaikan juga esok hari dan hari-hari lainnya dengan berbagai versi atau berasal dari mimpi-mimpi yang berbeda.

Kita cerita saja hari ini dulu, tentang ghaib yang terus mengejarku. Aku ingat aku pernah membaca soal santet, voodoo dan berbagai hal takhayul lain yang berasal dari kedengkian yang dikirimkan sehingga menjadi sebuah musibah hebat yang merugikan. Semua itu adalah ghaib yang telah menjadi kisah sejarah manusia dari masa ke masa. Ghaib yang terus menerus datang padaku, pada awalnya aku tidak mengetahuinya. Seseorang yang mengatakannya, ia bilang bahwa ia bisa melihat sesuatu yang takterlihat mata manusia biasa. Ia bahkan mengaku bahwa ia bekerja berdasarkan apa yang selama ini ia alami. Dengan pekerjaannya itu, ia sebenarnya tidak meminta imbalan. Niatnya murni hanya ingin menolong.

Dia seorang perempuan yang selalu berpenampilan lelaki. Dan aku bisa memastikan pada masanya dia sangat cantik sekali. Aku tidak ingin mengetahui apa alasan ia menjadi seperti itu. Keriput di kulit wajahnya kini kentara, tapi dia masih memiliki daya tarik itu. Kadang aku meradang dalam debaran jantung ketika ia berceloteh hal yang bersifat jijik di hadapanku. Mulutnya itu takberhenti berujar bahwa aku perlu dibawa ke tempat pelacuran dan bersetubuh dengan banyak perempuan liar di sana sampai aku pingsan.

Dan ini hanya sebuah kisah yang didasari oleh mimpiku sendiri. Aku masih duduk di sini memandangi pemandangan kota yang bergerak di malam hari. Di lantai empat belas apartemen milik seorang yang aku anggap kekasih. Duduk di atas ranjang dan telanjang. Percaya atau tidak, dalam mimpiku aku seorang lelaki, anak lelaki muda yang tengah beranjak remaja.

Perempuan itu berkata, bahwa aku akan terus menerus diikutinya. Ghaib yang bernama, seorang penghuni dimensi paling tandus yang menyerupai neraka. Aku bahkan tidak pernah tahu seperti apa neraka. Dan perempuan itu, tahu apa dia tentang tandusnya neraka sehingga serupa dimensi tempat dulu ghaib itu menghuni.

Katanya lagi, sesuatu yang dimiliki ayahku ada padaku, aku taktahu apa itu. Aku harus mencarinya sebelum ghaib yang memburuku lebih dulu mendapatkannya. Benda yang dimaksud akan menjadi miliknya sekaligus nyawaku juga. Perempuan itu hanya mengatakan bahwa benda itu adalah pembuka pintu yang menghubungkan Bumi dan alam lain.

Hal yang sesungguhnya aku tidak mengetahuinya. Sesekali aku merasa risih dengan perempuan itu. Dia selalu melakukan hal yang membuatku berpikir kalau dia merayuku saat kami berdekatan. Perempuan itu berbahaya, sempat aku berpikir begitu. Tapi aku adalah seorang perempuan juga, ada apa dengan diriku? Aku hanya menyatakan ini karena aku pernah bermimpi menjadi seorang lelaki dan di kehidupannya aku bertemu dengan perempuan itu karena ayah lelaki itu tewas dengan cara yang misterius.[]

Anak lelaki itu takbernama, maka aku menamai dia Dotax. Pilihan nama yang takbisa aku bayangkan karena aku sendiri seorang perempuan, namaku Liliana. Aku bermimpi menjadi Dotax, aku menceritakannya di sini. Dotax diburu kekuatan jahat, aku menyebutnya ghaib, aku selalu menyebutnya dengan huruf awal kapital Ghaib di sini. Mereka adalah sebuah kesatuan kelompok jahat yang berkekuatan melebihi manusia biasa.

Ayah Dotax, terbunuh karena mereka hendak memperkuat lebih kuat dengan sebuah benda yang bernama Hezrsuede. Dalam mimpiku yang sekilas nama itu diucapkan perempuan misterius yang selama ini melindungi Dotax dari ghaib.

Perempuan itu kuberi nama Adelienne. Perempuan rupawan yang selalu berusaha merayu Dotax untuk menidurinya. Percaya atau tidak begitulah mimpiku. Mimpi yang sangat panjang sampai membuatku berkeringat dingin malam itu.

Aku mencatatnya di sini. Hezrsuede yang bernilai sangat tinggi dan pada masa lalu diperebutkan oleh banyak pihak. Benda itu ternyata ada di dunia nyata. Namun namanya berbeda, benda itu adalah sebuah batu yang merupakan benda yang jatuh dari angkasa. Di dunia nyata benda itu dianggap batu sakral, suci. Konon katanya benda itu pada awalnya putih seputih pualam, namun seiring masa berlalu dan secara religius dipercaya menghitam sebagai bagian dari perpindahan dosa-dosa manusia dan menghitamkan benda itu sehingga sampai sekarang benda itu berwarna hitam.

Hezrsuede di mimpiku bukan batu. Dotax mencarinya dari berbagai catatan yang pernah ditulis ayahnya di sebuah kamar rahasia. Masholuz, nama kamar itu sering disebutkan ketika ayahnya hendak menyendiri ketika ada masalah. Dan yang paling lama adalah setelah masa ketika ibunya Dotax melarikan diri dari rumah.

Dotax itu aku, aku sedang dalam mimpi. Takterpikir kalau kini mimpiku semakin memanjang dan menjadi tragedi. Ketika aku terbangun dari mimpi itu, seorang anak dalam sebuah berita tewas dan di berita itu menyatakan bahwa anak itu mempunyai rajah di lengannya yang bertuliskan Hezrsuede.

Hezrsuede bukan kebetulan ada pada lengan anak yang tewas itu. Anak itu tewas terjatuh ketika bermain-main di halaman rumahnya. Masih tanda tanya mengenai kematiannya, polisi masih menduga kematiannya akibat terantuk batu kepalanya.

Karena berita itu aku memberanikan diri mencari tahu, anak lelaki itu bernama Ado, ia berusia lima tahun ketika ayahnya merajahnya. Ayahnya seorang seniman rajah. Aku melihat jelas siapa ayahnya, berusaha dekat dengan keluarganya dengan alasan berbelasungkawa.