Masih tega, kau bermalas-malasan?
Apa motivasi bang Ricky untuk bekerja sekeras itu dulu ketika di Jepang?
Motivasi saya sederhana, saya ini orang miskin. Jika saya tidak bekerja keras, keluarga saya akan mati esok!!!
Betapa sederhana bagaimana sesosok Ricky Elson menggambarkan alasannya bekerja keras. Ia menceritakan bagaimana ia harus berkuliah dari pukul 9 sampai 17 sore, lalu lanjut bekerja hingga pukul 4 pagi, baru mengerjakan tugas dan belum lagi beristirahat. Ia jalani itu selama bertahun-tahun selama di Jepang. Kerap kali tangannya kaku lelah karena tak kuasa lagi menuliskan kanji yang dilatihnya sebagai bahasa yang dipakai selama perkuliahan. Atau tak lagi kuat kepala dan badan bangkit sekadar untuk menjalankan pekerjaannya yang tergolong pekerjaan kasar dan berulang. Tapi, sembari itu terjadi, ia kokohkan dirinya untuk terus bekerja, belajar, berlatih, dan membaca, demi keluarganya, dan dirinya.
Pun dalam tindak dan peran kita sebagai mahasiswa. Tak eloklah diri kita ini terlalu lama berrehat santai. Berapa banyakkah kiranya mahasiswa lain yang tak mampu membeli sarapan pagi, hingga terpaksa berpuasa senin-kamis, atau berpuasa daud? Berapa banyakkah kiranya mahasiswa yang harus menanggung beban bekerja sambil berkuliah demi memenuhi UKT (Uang Kuliah Tunggal) atau uang semesteran yang tak tercukupi oleh orang tuanya. Berapa banyakkah mahasiswa yang mengalami tekanan batin karena masih belum juga mampu bertemu dan melebur bersama kawannya, akibat perbedaan kultur, atau karena merasa minder.
Melihat lebih luas lagi, bagaimana pula dengan orang-orang disekitar kita yang juga terus berjuang demi menunjang hidupnya. Mereka yang merelakan mimpi, harapan pengembangan diri dan impian dunianya, demi menghidupi orang-orang yang mereka cintai. Para tukang ojek, pedagang dipinggir jalan ganesha, penyapu jalan, ibu-ibu rumah tangga di pelataran rumah-rumah kampung kota, dan bapak-bapak tua penjual jagung bakar. Atau mereka yang harus melawan malu dan stigma sosial untuk bekerja pada zona yang hampir pasti mendapat cibiran kebanyakan masyarakat, seperti pengamen, pemulung, peminta-minta, penjaja diri. Dan masihkah kita dapat santai saja, melihat dinamika sekitar, variasi dari warna ketimpangan sedangkan kita dengan nyamannya mengisi cafe-cafe dan restoran kelas menengah. Atau lebih dari itu, masihkah kita punya alasan untuk tidur dengan nyamannya, melamun dan menghabiskan waktu mengitari dunia maya, tenggelam dalam keasyikan yang memang sengaja dibuat, tapi bukan yang sebenarnya.
Entah, semoga saja tidak.
