Mengenai Richeese…

Royyan Wijaya
Nov 3 · 3 min read
Credit foto kepada Ajiwandi

Ini bukan cerita tentang youtuber itu yaa, ini cerita lanjutan tentang perjalanan keempatku menuju ke barat. Kenapa Richeese judulnya? Kok gak Mcdonald, KFC, Sabana ato bahkan Ismail bin Mail? Semuanya memiliki kesamaan yg sama yaitu dagang ayam goreeng dengan nada Upin dan Ipin. Karena cerita ini merupakan tentang aku dan Vivi yg jalan-jalan kala itu di Serang, Banten.

Saat itu, tepat sekitar kurang lebih jam 5 sore. Aku dan Vivi sudah berangkat menuju ke Serang, kami pun tentu saja sudah bersiap-siap rapi dengan outfit yg kami gunakan kala itu. Aku yg mengenakan setelan jaket jeans dan kaos putih di dalamnya dengan kombinasi topi berwarna pink dari Miniso yg kubeli ketika pertemuan ketiga berlangsung. Lalu Vivi mengenakan setelan kerudung hitam dengan sweater panjang dengan kombinasi 3 garis warna, Navy, Putih, dan Kuning. Meski baju kami terlihat tidak serasi, tapi perasaan kami selalu berbanding lurus bergandengan kemanapun kami berada, ecie. Teruntuk Vivi, meski kamu sekarang sedang mens, aku tau kamu sedang tersenyum. Jadi, tidak usah malu sayangku. Terima kasih untuk senyum kamu yg pertama di tulisan ini.

Selanjutnya sekitar satu jam kemudian. Sampailah kami di Richeese yg berada di kota Serang. Langsung saja waktu itu kami berada di barisan antrian karena emang sedang malam minggu saat itu dan lagi rame-ramenya orang. Karena emang aku orangnya kalo pesen itu tergolong lama, bukan apa-apa. Karena aku kalo liat tulisan yg jaraknya jauh itu kurang jelas, jadi selalu Vivi yg pesan dan aku yg bayar selanjutnya.

“Nanti dipanggil nomernya ya kak kalo sudah ready pesanannya”, kata kasir yg sedang melayani kami saat itu. Setelahnya, kami pun mencari tempat duduk.

“Mau duduk di mana sayang? Sini? Sana?”, tanyaku kepada Vivi.
“Sini aja udah, tapi kursinya kurang satu”, balas Vivi kepadaku.

Ku ambilah kursi yg kosong di meja makan pengunjung lain, tentu saja dengan bertanya apakah kursi tersebut ada yg menempati ato tidak. Karena kalo kosong, biar saya yg dudukin daripada didudukin mahluk lain seperti kisah film horor pada umumnya.

Setelah mendapatkanya, duduklah aku di depan Vivi. Terus menutup wajah dengan kedua mataku.

“Sayang, katanya kamu mau fotoin aku pas gini”, kataku kepada Vivi. Tertawa dia sambil segera mengaktifkan kameranya dan lalu memfotoku. Terima kasih sudah senyum kedua kalinya di tulisanku ini.

Dipanggilah nomer pesanan kami, seingatku antara nomer 130–140 an. Berjalanlah Vivi kesana, mengambil makanan tersebut. Setelahnya, kami cuci tangan bersama lalu makan.

Ketika sesi makan pun, kami langsung berantusias menghabiskannya, tetapi makannya dengan santuy dan seperti biasa, aku menghabiskan sisa nasi Vivi karena dia makan nya dikit dan aku makan nya banyak, jadi kami sebenernya simbiosis makanisme.

Selanjutnya sesi foto-foto, sesi yg paling disukai oleh Vivi. Di sesi ini, biasanya lebih banyak diisi dengan mengobrol yg ngaloir ngidul ke utara selatan barat daya tenggara bsd city tangina. Mulai dari mengobrolkan tentang kenapa banyak debu di area perjalanan Serang-Cilegon dan sebaliknya dan kenapa juga pemerintahnya anti dengan cahaya alias lampu jalannya dikit banget wtf.

Salah satu hasil dari sesi tersebut

Foto di samping merupakan salah satu hasil bumi dari aktifitas foto-memfoto kami. Terlihat aku sangat menikmati dan santuy meski banyak burung-burung bertebangan di depanku.

Dan hal lain yg patut diapresiasi di sini adalah Vivi terlihat sangat cantik sekali dari biasanya yg cantik sekali.

Terima kasih sudah senyum untuk ketiga kalinya sayang. Aku jujur la kali ini hehe.

Lalu setelahnya, kami pun kembali pulang. Bersiap menemui debu yg banyak itu lagi di jalan. Bersiap menemui jalan yg gelap lagi karena kurangnya penerangan di sana. Semoga nanti ketika aku kesana lagi, setidaknya ada 1 lampu baru ajalah huhu.

Ya, aku tau tulisan ini sedikit, tidak seperti biasanya, tapi seenggaknya aku mengestimasi kamu tersenyum sebanyak tiga kali ketika membaca tulisan ini. Gatau, semoga bisa lebih banyak dan akupun lebih senang mendengarnya.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade