Perihal Menjadi Dewasa

Ruang Katarsis
Nov 4 · 1 min read

Menjadi dewasa tidak pernah tergambarkan begitu suramnya. Himpitan kebutuhan yang kian mencekik, pekerjaan monoton dengan luapan komentar misoginis dan mungkin kebosanan yang menyayat pikiran, lalu jangan lupa tuntutan pernikahan di usia yang kian menua.

Tidak dibayangkan. menjadi dewasa ternyata sebegini menyusahkannya. Tak salah kalau kemudian ada yang tetap berharap jadi anak-anak, namun kemudian kandas dihantam kenyataan hidup.

Pada akhirnya semua orang hanya perlu pasrah dan bergantung pada pilihan terakhir, yaitu menjalaninya dengan keputusasaan. Setiap dari kita akan sama saja, menyerah kalah jika yang dihadapi adalah realita kehidupan.

Yang indah-indah hanya hidup dalam dongeng. Begitupun yang baik-baik.

Kalau pun mampir juga hanya sekejap, kemudian pergi lagi entah kemana.

Bahagia selamanya hanya ada di dalam mimpi-mimpi yang tak pernah terwujudkan.

Ada yang berkata jika akhir selalu bahagia, justru yang terjadi sebaliknya. Jika bahagia berarti bukan akhir.

Di tengah nina bobo afirmasi positif terhadap kehidupan. Marilah sedikit melongok pada kenyataan dan kemudian mengakui saja, kalau kebahagiaan tidak pernah kekal di dalam kehidupan.

Selamat menjadi dewasa!

Ruang Katarsis

Written by

Draco dormiens nunquam titillandus (Hogwarts)

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade