Sebuah Puisi yang Entah — 9
Pagi ini kumaknai kata-kata pada jalan-jalan yang berlubang
Tempat roda sepeda ditandaskan
Bersama setiap getaran, tubuhku ikut tercecer berantakan.
Pagi ini kutemui kematian pada ujung bara pabrik
Tempat sebagian dari kami menghabiskan kehidupan
dan kemudian menjalani hidup bodoh dalam khayalan akan kemakmuran
Apa kau tak lelah?
tanyaku, kali ini lebih pada diri sendiri
Aku tak menemukan sanggahan,
begitupun persetujuan
Pagi ini serasa begitu sunyi,
bahkan nafasku enggan berbunyi,
Saat seorang kawan datang dan membisikkan padaku kebenaran
“Konservasi yang dilakukan perusahaan teteh dan perusahaan sebelah tidak berdampak apa-apa pada aliran sungai. Mereka justru memperparah keadaan. Ini tak lebih dari proyek tendensius yang bertujuan menghabiskan anggaran”
Hari itu kemudian separuh ragaku mati
teringang di telinga hal-hal yang takut aku akui
Sekarang kau pilih mana? kehidupan apa keyakinan akan kebenaran?
PS :
- Terimakasih untuk semua pertanyaan, ucapan pemakluman dan kenyataan pahit bahwa proyek yang dibanggakan ini ternyata justru berunjung memperparah keadaan. Pada titik ini kemudian pertanyaan besar datang. Ingin terus begini atau berpindah keadaan?
