Merapikan Ruangan

Ruang Sebelah
Sep 6, 2018 · 1 min read

Hatiku bagaikan rak buku yang setiap kotaknya terisi penuh dengan segala sesuatu tentang orang-orang di sekitarku. Sekatnya adalah selembar tipis berwujud merahnya darah yang kasat mata. Darah yang berdenyut karena aku terus menyayangi mereka. Semuanya. Tanpa terkecuali.

Sekarang, aku berdiri di depan rakku sendiri. Menatap segala momen hidup yang sudah terjadi. Aku hanya meminta hatiku dilapangkan. Tatkala aku menatap dan menutup mata, memandang dan menggenggam rak-rak hati yang berisi semua yang pernah ada, yang pernah datang dan pernah pergi. Yang singgah lalu pergi dan tak kembali, yang datang dan memilih tinggal, yang fana dan yang paling fana. Yang berteman dan bersahabat, yang penting dan paling penting. Yang berkesan dan paling berkesan, yang hanya ingin sekadar tahu, yang tidak tahu harus diapakan tapi nyatanya meminta dilupakan. Yang menyayangi dan mengasihi sepenuh hati. Yang selalu ada tatkala sedih dan senang. Yang meminta tinggal di tempat yang ditinggalkan. Yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu. (Semoga) aku telah, akan dan terus berdamai dengan semuanya.

Seperti dulu aku yang pernah meminta untuk tetap bisa berteman dengannya, aku tahu itu butuh waktu yang tidak lama. Aku pun juga telah berdamai dengannya, dengan masa lalu, dengan diriku sendiri, dengan kesalahanku.

Aku sudah merapikan ruangan itu.

Jawa, 06 September 2018

Ruang Sebelah

Written by

Sebuah sudut lainnya