Refleksi Hari Ulang Tahun

Hari ini adalah hari Sabtu, 05 Agustus 2017. Hari ulang tahun bagi yang lahir tanggal 05 Agustus. Setidaknya menurut akta kelahiran saya, saya juga lahir di tanggal ini. Padahal awalnya saya lupa kalau hari ini adalah tanggal 05 Agustus, tapi diingatkan oleh keluarga dan teman-teman saya melalui ucapan selamat dan doa-doanya. Apakah melupakan hari ulang tahun berdampak pada eksistensi kita? Entah, yang jelas saya sangat berterima kasih kepada keluarga dan teman-teman yang telah mengingatkan.

Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-18. Sebenarnya ada banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya mengenai ulang tahun. Ulang tahun? Yah, tahun yang berulang. Saya sebenarnya merasa penasaran dengan ulang tahun. Mengapa disebut ulang tahun padahal yang berulang itu tanggal dan bulan kelahirannya. Jika pun karena ulang tahun dalam artian perulangan tanggal kelahiran dalam setahun maka kenapa tidak sekaligus namanya ulang tanggal atau ulang bulan?

Kata mereka, hari ini adalah hari spesial buat saya. Yah, hari spesial bagi para manusia yang berulang tahun. Karena hari ulang tahun selalu spesial maka tidak sedikit manusia-manusia yang berulang tahun merayakan ulang tahunnya. Ada berbagai macam perayaan. Ada yang merayakannya dengan pesta yang meriah. Ada yang merayakannya dengan berkhidmat. Ada yang merayakannya dengan menerima pemberian kado kejutan atau bahkan malah memberikan kado kejutan. Dan berbagai ragam perayaan lainnya. Lantas bagaimana seharusnya memaknai perayaan ulang tahun itu?

Setiap manusia pastilah memiliki hari ulang tahun dalam hal ini hari kelahiran, maka setiap orang pasti pulalah memiliki penafsiran berbeda terhadap perayaan hari ulang tahun. Perayaan yang dilakukan merupakan salah satu cara mereka menafsirkan mkna ulang tahun. Ada yang memaknai hari ulang tahun sebatas ucapan "Happy BirthDay" yang disingkat HBD di dinding Facebook, ada yang merayakannya dengan nyanyian merdu "Happy birthday to you", ada yang merayakannya dengan makan-makan dan ada pula yang merayakannya dengan berpuasa. Bahkan ada pula yang merahasiakan hari ulang tahunnya karena takut dikerjai sama teman-temannya.

Hal yang terakhir di atas menandakan bahwa hari ulang tahun tidaklah selalu istimewa, namun juga terkadang memprihatinkan bagi segelintir orang. Adapun yang memprihatinkan itu biasanya berupa penindasan kepada mereka yang ulang tahun, misalnya minta traktiran, minta kado spesial, dan bahkan ada pula penindasan semacam perang telur juga tepung dan sebagainya. Inilah uniknya manusia dalam merayakan hari ulang tahunnya.

Bagi saya, ulang tahun bukanlah semata-mata hanya persoalan perayaan, namun juga persoalan pemaknaan kita terhadap pentingnya waktu dan kelahiran.

Pemaknaan akan pentingnya waktu

Waktu pada dasarnya selalulah berubah dan perubahan inilah yang membuatnya sangat berharga, karena tiadalah yang mampu menghentikan atau mengulang waktu yang telah berlalu. Harga dari waktu tidaklah mampu kita bayar. Lantas, bagaimana dengan waktu atau umur yang telah diberikan kepada kita, apakah sudah digunakan dengan baik? Saya teringat salah satu tokoh bernama William Shakespeare. Beliau pernah mengatakan bahwa: "Apakah Anda mencintai kehidupan? Jika ya, maka jangan buang waktu, karena waktu adalah penyusun kehidupan." Yah, waktu adalah penyusun kehidupan. Itulah mengapa ulang tahun terasa istimewa, karena merupakan produk dari penunjang kehidupan yakni waktu.

Nah, bagi manusia yang sangat menghargai waktu maka tentulah hari ulang tahun adalah waktu yang berharga. Waktu di mana kita melempar jauh ingatan kita ke masa lampau. Masa kita pertama kali memandang dunia, mengingat kembali waktu lampau saat bermain di masa kanak-kanak, dan momen masa lampau lainnya. Seyogianya di saat hari ulang tahun kita kembali mengingat masa kita terlahir di dunia ini, meskipun mungkin sulit untuk diingat. Tapi setidaknya refleksi kelahiran itulah mesti selalu ada. Karena bagi saya waktu sangatlah berharga, maka bukan hanya hari ulang tahunlah yang menjadi perayaan. Tapi setiap hari adalah perayaan ulang tahun, perayaan akan keberhargaan waktu.

Pemaknaan terhadap esensi kelahiran

Kata "birthday" yang berasal bahasa Inggris itu berarti "hari kelahiran". Atau sering pula diungkapkan dalam bahasa Indonesia dengan kata "ulang tahun". Kelahiran adalah momen berharga bagi kehidupan manusia sebagai permulaan dari hidupnya. Sehingga pemaknaan akan kelahiran tentu berdampak pada nilai bersyukur kita kepada Tuhan. Nilai syukur karena atas izinnyalah sehingga kita bisa memandang kehidupan di dunia.

Lantas muncul pertanyaan: 'apakah memang ada perayaan hari kelahiran di dalam agama?'

Saya bukan agamawan tapi saya beragama, maka saya memiliki sedikit pengetahuan mengenai pertanyaan ini. Namun, saya tidak ingin membahas apakah perayaan ini Bid’ah atau tidak, boleh atau tidak, tapi lebih pada apakah ada tradisi perayaan semacam ini dalam agama.

Dalam beberapa agama memang terdapat beberapa perayaan hari ulang tahu. Misalnya dalam agama Islam, terdapat perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, biasanya disebut Maulid atau Milad. Tidak semua umat muslim merayakan Maulid atau Milad Nabi sebab ada berbagai pendapat yang berbeda dalam memandang perayaan Maulid ini. Begitu pun dalam agama Kristen. Di dalam agama ini juga terdapat perayaan hari ulang tahun yakni perayaan hari kelahiran Yesus, biasanya disebut sebagai hari Natal. Jadi di dalam agama terdapat tradisi perayaan ulang tahun bagi manusia yang dianggap agung. Tapi apakah perayaan ulang tahun pada Tuhan tetap ada dalam agama?

Pertanyaan itu mengingatkan saya pada sebuah artikel pendek yang ditulis oleh Ma’ruf Nurhalis. Di artikel tersebut juga tertera pertanyaan demikian. Meskipun menurut penulisnya, pertanyaan itu adalah pertanyaan gila. Pertanyaan: "Kapankah hari ulang tahun Tuhan?" Saya takjub dengan jawaban pertanyaan Ma’ruf Nurhalis, tapi menurut beliau, pertanyaan tersebut bukan untuk memanusiakan Tuhan, tapi hanya untuk menggugah nurani autentik manusia. Dengan cara: hari ulang tahun mesti juga diberikan pada Tuhan. Argumen inilah yang sedikit gila dari artikel itu, kemudian dijelas dengan beberapa argumen yang membahas tentang tujuan hari ulang tahun Tuhan.

Salah satu tujuan dari adanya hari ulang tahun Tuhan menurut Ma'ruf adalah agar manusia memiliki waktu berpesta dengan Tuhannya. Di akhir artikel tersebut Ma'ruf juga mengungkapkan bahwa hari ulang tahun bagi Tuhan tidaklah mampu ditetapkan dalam ruang dan waktu sehingga setiap detik jalannya waktu disitulah Tuhan berulang tahun atau setidaknya mendekati. Dan olehnya itu, di setiap hembusan nafas manusia semestinyalah selalu mengingat Tuhannya. Jadi sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Ma'ruf dalam tulisan tersebut adalah kita selaku manusia yang berulang tahun tidak boleh hanya merayakan keberhargaan waktu dan kelahirannya sendiri namun juga bagi Tuhan. Salah satu contoh prosesi pesta ulang tahun Tuhan adalah sholat lima waktu. Karena setiap detik, menit, jam dan hari adalah ulang tahun Tuhan maka setiap hari pulalah manusia merayakannya dengan sholat lima waktu. Mungkin kurang lebih seperti itulah makna ulang tahun Tuhan.

Oleh karena itu, mari merayakan hari ulang tahun kita masing-masing sebagai bukti rasa syukur kita pada Tuhan dan tentunya juga tak lupa melunaskan kewajiban kita akan perayaan hari ulang tahun Tuhan di setiap harinya. Sebagai penutup terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan kado berupa lontaran ucapan selamat beserta doanya semoga doa-doanya dijabah di sisi Tuhan. Terima kasih pula kepada teman-teman yang telah memberikan kado dalam bentuk yang lain daripada yang lain. Semoga kadonya bermanfaat bagi saya dan mendapatkan balasan bagi Anda yang telah berbaik hati memberikan. Terima kasih banyak!!