Lupa Bagaimana Menjadi Lugu
Kicau makhluk mungil bersayap menemani sendiriku siang ini. Dua belas menit sebelum matahari berada pada puncaknya, aku telah selesai menulis kalimat ini.
Angin semilir membelai sisi kiri tubuhku yang kusendengkan pada dua bangku hijau, satu untuk pantat besarku satu untuk dua telapak kakiku.
Langit birupun sesekali menampakkan diri. Tertib kulihat sesekali bergantian dengan awan gelap. Ya, Pekanbaru hari ini tidak seperti biasanya. Cukup mengingatkanku akan sejuk Bandung dua tahun lalu.
Dua tahun lalu dia telah mengisi ruang yang cukup lama hampa dalam diriku. Sekarang? Tidak berubah.
Yang berubah hanya aku yang sekarang tidak selugu sekuat sosok mahasiswa tingkat akhir itu.
Kata dan ucap yang kau lontarkan menacap tegas dalam benak, menggores, merobek, dan memburai keluar semua luka lama yang kupendam.
Betapa bodohnya aku yang diam saat dikata tidak memakai otak dan disamakan dengan bangsa sesat (baca: bangsat).
Inikah yang kubutuhkan untuk mengisi 50, 60, 70 tahun ku kedepan?
.
.
.
.
.
.
.
.
Hati dan pikiranku beradu, namun tak pernah dapat titik temu.
Yang ada hanya aku mencoba menarik diri, menyembuhkan lara ini, sendiri.
Kemudian kembali memakai topeng yang telah kusiapkan sedari dulu.
