
Selalu saja ada sendu di balik tirai malam kota tua. Cafe dengan lampu redup, meja lapuk, buku dan segerombolan anak muda yang saling menghina
Mereka bak gaung, teriakan dari semesta, cengkeraman dan kuku-kuku tajam yang meruncing di penghujung zaman
Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan -Dee
Dari kata-kata di atas aku tafsirkan. Dengan segerombolan pemuda yang tengah duduk, tertawa dan terbahak-bahak di atas meja bundar. Yang berada tepat di samping meja kayu putih tempat secangkir kopi hitamku berada. Hanya ada dua alasan mengapa segerombolan anak muda itu tertawa. Yang pertama mungkin karena mereka bahagia atau yang kedua mungkin mereka bahagia dengan menjadikan salah satu di antara temannya sebagai bahan untuk menjadikan mereka bahagia; atau dalam tanda kutip “sebagai bahan ejekan” “Tikaman dalam bentuk verbal”
Entahlah aku melihatnya seperti itu, terlontar kata binatang, satir dan menyakitkan. Mungkin memang benar dengan filosofi di atas, teman seumpama kopi, bukan air tebu yang sudah pasti rasanya manis. Sebaik apapun ia. Pasti, ada sisi pahit yang harus tetap kita hadapi, entah dengan sabar memaklumi atau diam dan menjauhi. Bahkan mungkin sakit hati seperti salah satu di antara segerombol pemuda yang aku temui malam ini. Entahlah itu pilihan
Dan pilihanku malam ini adalah menyepi di dalam dekapan diri, memeluk tubuhku sendiri, diam, melihat senyuman sepi
Bukan sedang kesepian. Tapi, menyengajakan diri untuk mencari sepi. Karena bagiku disitulah aku bisa melihat mata inspirasi. Yaitu pas ditengah-tengah jantung sepi
Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikuti di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan... karena cinta adalah mengalami -Dee
Dan tentang hal lain yang baru saja aku temui, mungkin ini adalah yang terbaik. Apalagi jika bukan berhubungan dengan muda-mudi. (Di depanku) Mereka berdua adalah pasangan yang serasi, suami dan istri. Tampak bahagia- dengan sederhana-mereka berdua saling bercanda
Cinta memang indah kawan, ia tak melawan atau menyakiti. Hanya saja terkadang ia perlu untuk sedikit memposisikan diri, saling mengerti, membebaskan, tak mencekal dan belajar untuk saling mempercayai
Maka, akan terciptalah ranumnya buah yang manis. Seperti pohon yang takzim pada bumi, ia tetap tumbuh tapi tak pernah melepaskan atau menjauhi bumi. Ia selalu membersamai bumi. Karena ia tahu jika ia pergi meninggalkan bumi, ia egois dan ingin berdiri dengan dirinya sendiri. Maka, bukannya kuat yang ia dapat. Tapi yang ada ia akan mati
Begitupun dengan cinta, ia akan kuat jika bersama. Kita mungkin sangat mencintai seseorang (mungkin pasangan). Tapi, terlalu sempit jika kita meletakan genggaman hanya pada lengan seseorang. (Bukan berarti kita harus memiliki banyak pasangan) tidak, tidak seperti itu maksudku. Tapi, alangkah baiknya jika kita “memilih” untuk tak hanya menggenggam dan berjalan berdua. Kita rangkul keluarga, saudara, sahabat dan teman. Untuk berjalan bersama. Saling mencinta, menguatkan dan kokoh menjalin segala rintangan di dalam mengarungi lika-liku kehidupan. Ahhhh sok bijak, aku pun ingin muntah membacanya
Dan terakhir, malam selalu meneguk beberapa cangkir kenangan. Entah itu kenangan yang menyenangkan ataupun yang tidak. Hanya saja, kita harus terus dan terus belajar. Bahwa, tegukan secangkir kopi hitam. Tak sama dengan tegukan dari cangkir kehidupan. Yang hitam tak sepenuhnya hitam, pahit, dan tak enak untuk di pandang. Yang putih juga tak benar-benar bersih dan putih. Semua ada sisi baik dan buruknya. Kitalah yang harusnya memaklumi. Atau kita jugalah yang harusnya meng-introspeksi diri. Atau mungkin memperbaiki. Entahlah itu pilihan yang tentunya harus kita ambil dan kita hadapi.
