Teruntuk Kehidupan

Mungkin, luka akan sangat susah untuk mengering tak menghilangkan bekas. Yang pergi mungkin tak akan kembali. Sakit, kekecewaan, terkhianati dan di benci. Mungkin saja akan memporak-porandakan kekuatan dan energi
Tak bisa di pungkiri. Bahwa manusia hidup dengan kesalahannya. Entah yang ia lakukan di masa lalu atau yang kelak ia akan lakukan di masa yang akan datang
Hidup adalah rotasi, terkadang engkau berada di atas pijakan kebenaran atau sebaliknya engkau tergelincir masuk ke dalam jurang kesalahan, untuk yang sekali atau yang kesekian
Dan saat itulah, engkau hancur dengan kekecewaan. Engkau menyesali kemajuan “ya kemajuan” waktu dan keadaan. Revolusi dalam tubuh dan hidupmu sendiri
Mungkin engkau akan bertanya. Mengapa kehidupan sekejam ini. Masalah yang tak henti, orang-orang yang membenci, kebisuan diri dan banyaknya anomali..huufffffft cukup dengan semua ini..
Pada akhirnya, engkau harus mengerti. Bahwa langkah terbaik yang harus engkau pilih adalah memaafkan dan kemudian bangkit kembali dari keterpurukan — Rubi
— Percayalah kepadaku. Bahwa di sekelilingmu kelak akan ada orang-orang yang menyembunyikan kemunafikan dalam bentuk kasih sayang, drama dan kepura-puraan
Kita takan pernah bisa menghakimi apa yang ada di dalam hati seseorang, yang bisa kita nilai hanyalah sebatas dengan apa yang bisa kita lihat. Cukup Sampai disitu
Selebihnya kita tidak tau, bahwa bisa jadi manusia yang paling kita benci. Adalah yang paling ingin menjadikan kita baik
Dan sebaliknya, manusia yang paling kita sayangi bisa jadi malah ia yang paling membenci
Inilah kehidupan, engkau tak pernah di tuntut untuk menjadi seorang pemberani dalam menghadapi semua hal. Yang harus engkau lakukan adalah cerdik dalam mengambil suatu keputusan. Bacalah keadaan dan lihatlah apa yang akan engkau dapatkan dari pengalaman seseorang
Dan berikutnya adalah tentang harta. Janganlah engkau menghamba kepadanya. Karena banyak manusia yang tak sadar. Bahwa perbudakan, pertumpahan darah dan kehancuran. Banyak yang berawal dari sana. Bukan dari harta. Tapi dari keserakahan terhadapnya
Ingatlah, bahwa kita adalah manusia yang merdeka. Merdeka dari kenistaan para perebut, orang korup, licik dalam menghadapi hidup. Kita harus telisik, belajar apa itu intisari dari zuhud
Dunia ini memang kejam, ia akan menikammu dari belakang. Hidup yang sebenarnya adalah bukan seperti hidup yang selama ini engkau bayangkan
Dalam hidup, engkau akan tertawa terbahak-bahak dan kemudian setelah itu dirimu akan terluka, menangis dan kembali tertawa. Kau harus tahu bahwa itu sudah menjadi tabiat dari sebuah kehidupan
Kokohlah, seperti layaknya para petani, kuli bangunan dan penggali kubur. Mereka semua akan mati. Meninggalkan padi, bangunan dan kuburan untuk tubuhnya sendiri
Mereka kokoh dengan prinsip hidupnya. Yaitu meninggalkan kenangan untuk banyak orang
Kemudian cinta, tak lupa aku sampaikan. Bahwa engkau akan menghadapinya juga. ia akan menjadi teman setiamu atau musuh terbesar yang akan menghancurkanmu. Banyak manusia yang menjadi budaknya. Melakukan banyak hal, hanya untuk seseorang yang bahkan akan menyakitinya. Maksudku, melakukan berbagai macam kebodohan untuk cinta atau nafsu atau entahlah. Menurutku engkau sudah cukup dewasa untuk menimbang-nimbang. Mana cinta yang sesunggunya dan mana birahi yang berkedok cinta itu sendiri
“Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala.” — Eka Kurniawan
Maka berhati-hatilah dengan kebathilan. . .
“Karena hal yang lebih hebat dari balas dendam adalah memaafkan”.
—Ketidak-adilan, menurutku hal ini juga bisa menimpa siapa saja selama ia masih berjalan dan merangkak di atas kehidupan. Di bumi kita ini, tak jarang bahwa sang pencuri menjadi seseorang yang paling banyak di puji. Dan si-jujur malah di tuduh sebagai seorang pembunuh. Dalam kehidupan, hal semacam ini adalah hal yang lumrah terjadi. Engkau baik dan engkau di khianati, sedangkan engkau jujur dan engkau di bohongi. Kita tidak bisa melakukan kendali terhadap apa yang di lakukan setiap orang. Kita hanyalah manusia yang hanya sedikit bisa mengatur beberapa bagian dari tubuh kita sendiri. Maka, jangan berharap engkau akan di perlakukan dengan benar. Tapi berharaplah mudah-mudahan orang yang membenci tak lebih dari pada orang yang mencintai
Kemudian ketika ada satu, dua atau banyak orang yang menyakiti. Mungkin, sebagai manusia engkau juga akan marah, hatimu di hujani sakit dan benci
Tapi percayalah, bahwa ada hal yang lebih hebat dari pada balas dendam. Yaitu memaafkan
Seperti ini-lah hal yang biasa terjadi di dalam kehidupan. Saran dariku; diamlah jangan menyulut amarah
Nanti setelah kepalamu mulai mendingin. Maka mulailah belajar untuk memaafkan, bebaskanlah dirimu, dari tempurung dendam yang membelenggu. Dan setelah itu engkau akan tau, bahwa dirimu. Ya dirimu. Akan lebih hidup dari hidupmu yang dahulu
Tentang kecantikan

Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin. — Eka Kurniawan
— Bagi lelaki kecantikan memang menjadi salah satu hal penting dalam memilih seseorang sebagai pasangan dalam hidupnya. Tapi, bukan yang paling. Karna ada yang lebih dari itu. Yaitu tentang perasaan yang menuntut seorang perempuan untuk memiliki sifat ke-Ibuan, kesederhanaan, dapat mengayomi dan mencintai. Seperti bunuh diri jika engkau menikahi seseorang hanya karena cantik. Bukan berarti salah. Tapi jika hanya karna itu. Engkau akan menyesal akhirnya
Cantik tak ada bedanya dengan tak ternilai, tidak ada kepastian yang dapat mengukurnya. Setiap lelaki mempunyai penilaian tersendiri tentang cantik
Cantik bukan perasaan, tapi ia adalah perhiasan, bisa membuat seseorang tertarik. Tapi bisa juga membuat seseorang terluka. Kita tau, Berapa banyak orang yang mati karena perhiasan atau kecantikan
Akhir dari teruntuk kehidupan
kita tau bahwa kehidupan itu tidaklah abadi, sadarlah dengan waktu yang terus berjalan, manusia yang menua dan kehidupan setelah kematian
Cukup dengan kemunafikannya, cukup dengan riya’nya, cukup dengan ingin di puji dan ingin didengarkannya. Kita telah lelah dengan itu semua. Sekarang sudah tiba saatnya kita bersiap diri untuk menghadapi kehidupan akhirat kelak nanti.
Rubi Restup
Bandung, 07 September 2018
