about Devana

Pada hari Senin, 20 Agustus 2018, sekelompok mahasiswa berkumpul di labtek VIII Institut Terbaik Bangsa. Mahkluk-mahkluk gaib yang kita sebut sebagai mahasiswa ini berkumpul disana untuk suatu alasan. Alasan tersebut adalah untuk menyelesaikan tugas terberat yang bisa dipegang oleh mahasiswa dari rumpun ilmu informatika yaitu berinteraksi dengan manusia. Lebih spesifiknya adalah tugas wawancara.

Saat itu jarum pendek jam menunjuk tepat ke angka delapan, menunjukkan bahwa waktu pertemuan kami dengan subjek wawancara kami sudah tiba, namun keberadaannya tidak kami temukan dalam jarak pandang kami. Detik demi detik berjalan lalu menjelma menjadi menit. Kami terus mengintai orang-orang yang terlihat mengenakan jaket hijau kebanggaan himpunan tercinta kami, tapi tetap saja kakak tingkat yang akan kami wawancarai tidak terlihat dan kami malah terlihat seperti sedang menjalani kegiatan stalking kolektif. Akan tetapi setelah lima sampai sepuluh menit berlalu, kakak tingkat kami tercinta menampakkan dirinya dihadapan kami.

Dari kejauhan kami melihat sosoknya yang sedikit chubby dan bantet berjalan dengan langkah pasti yang memang menggambarkan seorang kakak tingkat panutan, walaupun langkah pasti yang saya maksud disini lebih mirip lari-lari kecil orang yang sedang mengejar deadline ketemuan dengan client. Yah kurang lebih memang langkah yang menggambarkan stereotip mahasiswa HMIF. Dengan sedikit tergopoh kakak tercinta kami mendatangi lingkaran pertemanan yang telah kami buat dengan posisi duduk kami. Tentu dalam lingkaran pertemanan kami tersedia sebuah celah untuk tempat duduk kakak kami tercinta ketika dia datang dan pastinya tidak sebagai lambang pertemanan kami yang terputus atau tertikung oleh kakak tercinta. Tapi intinya kakak Devana sudah datang dan kami akhirnya bisa memulai wawancara kami.

Wawancara dimana kami seharusnya memberikan pertanyaan — pertanyaan kepada kak Devana dimulai dengan kak Devana yang malah memberikan pertanyaan duluan. Awalnya kami mengira pertanyaan kak Devana mengenai nama dan jurusan sebagai lumayan jinak dan tidak akan menjadi masalah, tetapi kemudian kami menyadari sebuah horror puzzle yang lebih rumit dari Doki Doki Literature Club yaitu pertanyaan mengenai kesan kami terhadap SPARTA.

“CYKA BLYAT PIZDEC 1!!!1!” teriakku dalam batin. Bagaimana cara yang tepat menjawab pertanyaan tersebut pikirku. Apakah aku harus menjawab agresif dengan sejujurnya dan meresikokan kemungkinan bocornya info tersebut ke panitia SPARTA sehingga menyebabkan status anggota muda milikku menjadi permanen ataukah aku harus menjawab dengan serangan penuh sugar coating pecinta SPARTA yang mungkin bisa menyelamatkanku dari ke-angmud-an? Sementara aku berpikir dalam lamunku yang terasa berabad-abad lamanya, teman sesi wawancaraku satu per satu menjawab pertanyaan kak Devana tanpa adanya forum penyelamatan diri dahulu diantara kami. Untuk setiap kalinya teman sesiku mengatakn opini mereka mengenai SPARTA, aku hanya bisa berdoa supaya mereka tidak jadi angmud. Ketika akhirnya giliranku datang, aku sudah siap. Aku sudah siap menyajikan kata-kata penjilatan terbaik yang bisa diucapkan seorang mahasiswa yaitu “Aku suka budaya kaderisasi seperti ini”.

Setelah segala cobaan yang terjadi, sesi wawancara mulai berjalan sebagaimana semestinya. Kak Devana memulai sesi dengan memperkenalkan dirinya secara lengkap. Kami kemudian melanjutkan dengan berbagai pertanyaan mengenai dirinya dan kehidupan sehari-harinya.

Setelah menghabiskan beberapa menit bertukar pertanyaan dan jawaban dengan suasana yang entah kenapa menjadi sangat casual, kami menjadi tahu beberapa hal mengenai kak Devana. Kak Devana sebagai seorang mahasiswa telah mendaftar di beberapa unit kegiatan. Ada 2 unit yang kak Devana ikuti yaitu unit STEMA dan URPA. Kak Devana sendiri bercerita bahwa dia sudah tidak terlalu aktif di unit STEMA dan lebih sering mencurahkan waktunya untuk URPA. Saya rasa kami para pewawancara sama-sama merasakan dedikasi kak Devana kepada unit URPA mengetahui bahwa sebagai mahasiswa jurusan STI yang adalah bagian dari HMIF kak Devana tentunya tidak memiliki banyak waktu luang untuk dirinya sendiri. Tapi walaupun waktu luang yang dia miliki begitu sedikit, dia dengan bersedia memberikannya untuk kegiatan unit URPA.

Kami kemudian menanyakan juga pertanyaan-pertanyaan template seperti “kenapa kakak pilihan jurusan ini?” Dan untuk pertanyaan itu kak Devana menjawab kalau dia memilih jurusan STI karena dia sendiri lebih tertarik dengan topik seperti web development daripada topik yang lebih berat di sisi teknis seperti software development dan operating system. Kak Devana juga lebih suka menjadi jembatan antara developer dengan client daripada menjadi developer. Dan untuk mengapa kak Devana tidak memilih jurusan yang lebih berbau kelistrikan dan komunikasi adalah karena melihat performa dirinya di mata kuliah PAR saat TPB yang hanya sekedar “survive”, kak Devana memilih untuk tidak menjerumuskan dirinya kedalam hal-hal yang mungkin tidak dia kuasai. Tapi kak Devana juga mengingatkan pewawancara yang berjurusan STI bahwa segala cobaan dengan mata kuliah berbau elektro dan informatika masih akan dihadapi oleh mereka.

Setelah itu kami mulai memasuki topik berbau KP dan magang. Mengenai hal terjun-menerjun kedalam pekerjaan yang lebih berbasis proyek, kak Devana bercerita kalau dia sudah pernah magang sebagai system analyst. Kak Devana mendapat kesempatan magang di LPIK. Kak Devana menjelaskan bahwa LPIK adalah sebuah coworking space dimana di dalamnya terdapat banyak start-up dan proyek yang dikerjakan kak Devana termasuk sebagai salah satu diantaranya. Walaupun kak Devana memiliki posisi system analyst, dia sendiri terpaksa kerja sebagai berbagai posisi lain juga karena status proyek yang masih start-up.

Tak berapa lama setelah itu, wawancara kami terpaksa disudahi karena pewawancara yang berjurusan informatika harus menghadiri kelas yang tidak lama kemudian akan mulai. Kata-kata seperti “sampai jumpa” dan “terima kasih” terucapkan dan menghilang beberapa detik kemudian. Pada akhirnya, kami beranjak dan menuju jalan kami masing-masing. Yang tersisa hanya kenangan, sentimen, dan pastinya sapaan hangat untuk pertemuan kami berikutnya. Ah mungkin juga ada hal lain yang ditinggalkan kak Devana untuk kami. Sebuah ucapan sederhana yang membekas.”Lakukan yang terbaik yang bisa anda lakukan pada setiap saat.”

Pewawancara:

Joe -16517127

Ardy-16517144

Elvina-16517161

Fata-16517050

Karina-16517323

Samantha-16517357

Saskia-16517060

Yusuf-16517167