Beberapa Terjemahan Puisi Iman Mersal

Meski diakuinya bahwa setiap puisi yang dia ciptakan bukanlah puisi protes, tidak bisa dipungkiri, puisi Iman Mersal selalu mengandung protes yang puitik, sendu, tapi jenaka. Puisi-puisi ini diterjemahkan dan dipilih oleh Mochammad Mundir Ikhsan dari kumpulan puisi Hatta Atakhalla ‘an Fikrati il-Buyut

Hadiah dari Bunda di Ulangtahun Ketujuhmu

Ini yang perlu diketahui:

1. Rapikan taplak meja hinga ujung-ujungnya sejajar dengan lantai

2. Benahi letak kacamata agar matamu nyaman

3. Peganglah kapak dengan tangan kanan

4. Ketuklah kadonya perlahan-lahan

5. Jika kau kerahkan seluruh tenagamu, barang yang terdapat di dalamnya akan hancur

— sepertimu, aku pun tak pernah tahu barang apa yang tersimpan, tapi tertulis di kado itu:

“Jika kamu beruntung, kamu akan mendapatkan hadiah dari para Raja Mesir”

— tidak, sayang. Tidak ada yang mengirimkannya dari Mesir, itu made in China.

— yuk kita sama-sama menerka, barangkali di dalamnya ada Mumi tanpa jeroan, Piramida besar sebelum arkeolog menemukan artefak atau kepala Cleopatra setelah jatuh cinta

— saya sekadar menerka…

— kau tak akan menemukan apapun sampai kau pecahkan seluruhnya hingga hancur seperti kepingan atom

— sini, ayo kita pergi ke kebun belakang rumah saja. Semuanya akan tertimbun debu, bila kita tetap berada di sini.

Perayaan

Tangkai sari sebuah cerita sedang berada di bumi. Kukuatkan lututku mencarinya. Katanya ada perayaan nasional di sana, tapi yang kulihat hanyalah sepatu import dan sepatu tentara.

Di kursi kereta perempuan Afganistan berkata padaku bahwa dia tak melihat Afganistan: “kemenangan, mungkin”, aku berharap benar-benar terjadi hari itu, seandainya dia bertanya apakah itu adalah nubuat? Aku mulai bergumam dengan bahasa Persia seolah kata-kataku muncul dari buku fantasi, seperti dikumpulkan dari lemari baju yang pemiliknya terbunuh gara-gara kebakaran.

Kita yakini saja bahwa rakyat telah tiba dari besok bapaknya ke tanah lapang, bahwa “rakyat” bukanlah kata jorok yang tak seorang pun tahu maknanya seperti kata “besok bapaknya”. Lantas, bagaimana anjing-anjing polisi ini bisa berada di sini? Siapa yang menutup moncong wajahnya dengan alat-alat itu? Dan yang lebih penting dari itu semua, di mana jatuhnya tangkai sari yang membedakan bendera-bendera dengan pakaian dalam, yang membedakan lagi-lagu perjuangan dengan ratapan, yang membedakan tuhan dengan makhluk yang berada di atas bumi hanya untuk membayar pajak?.

“Perayaan” sepertinya aku belum mengucapkan kata ini, seolah ia muncul serupa khayalan dari kamus bangsa Yunani, pasukan Sparta kembali ke Sparta, sementara darah Persia di gear dan panah belum kering jua.

Mungkin tidak pernah ada itu bandara, nubuat, dan perempuan Afgan yang duduk selama dua jam di depanku. Terkadang Allah memperdaya ingatan makhluk-Nya sesaat untuk menghibur diri. Namun, yang pasti aku di sini, di tempatku ini, menyaksikan pentopel dan sepatu tentara yang tak kuyakini sedang memenangkan siapa?.

Aku Bermimpi Dengamu

Kemana dia pergi?

Menggantikan sandal rumah, kedua kakiku masuk ke dalam sepatunya yang berat.

Iya, sepatumu. Aku berjalan di atas perahu Nuh mencari lelaki, dapurnya nampak bersih dan tabung pemadam menunjukkan histeria merokok, pintu geladak terbuka dan angin sepoi-sepoi menggerakkan kertas di atas dek.

Kapan dia pergi dan mengapa aku tidur sedangkan tamuku masih duduk di sofa di depanku? Bagaimana aku mengambil sepatunya di kamarku dan bagaimana dia pergi ke kota besar tanpa alas kaki? Aku berhenti mengembara ketika tak kutemukan sepatu hitam ayahku di tempatnya. Aku terbangun.

Wawu menganjurkanku untuk kembali mendatangi Frued, Mim berkata Kekuasaan telah mengambil ayah dan meninggalkan sesuatu untukmu sebagai petunjuk jalan, Mim mengatakan juga barangkali Keinginan telah mengambil ayah dan meninggalkan untukmu kekuasaanya dalam sepatu yang lebih besar dari kakimu.

Ide Tentang Rumah

Kujual antingku di toko emas untuk kubelikan cincin di pasar perak. Aku mengganti dengan tinta lama dan buklet warna hitam. Itu terjadi sebelum aku lupa lembaran kertas di bangku kereta yang bila sesuai rencana akan mengantarku pulang ke rumah. Dan seperti biasa, setiap kali aku tiba ke kota, aku merasa rumahku berada di kota lain.

Olga menyahut, meski belum kuceritakan perasaanku itu, “rumah baru terasa kauhuni sesaat setelah dijual, ketika kebun dan ruangan yang luas itu diperiksa dengan teliti oleh kedua mata makelar, menyimpankan mimpi burukmu di bawah atap untuk jiwamu, dan kamu harus angkat kaki dengan membawanya dalam satu atau dua tas yang penuh.” Olga sejenak terdiam lalu tersenyum seperti ratu di hadapan rakyatnya, di dekat alat peracik kopi di dapurnya, dan sebuah jendela yang berhadapan dengan bebunga.

Suami Olga tak melihat sosok seorang ratu, mungkin karena itulah dia masih berpikiran bahwa rumah adalah sahabat paling setia bila kelak jatuh buta, tiang-tiangnya akan meluruskan pijakannya sementara tangga-tangganya akan menyelamatkannya, dengan penuh kasih sayang, dari terjatuh kala gelap.

Aku mencari kunci yang selalu ketelingsut di dasar tas, Olga dan suaminya tidak memperhatikan. Saya sudah terbiasa pada dasarnya sehingga aku mengabaikan ide tentang rumah.

Setiap kali aku mendatanginya dan dunia debu memenuhi jemarimu, kau berusaha mengumpulkan semua yang bisa kau masukkan ke dalam lemarinya. Dengan demikian kau menolak tahu bahwa rumah adalah rongsokan masa depan, dimana benda-benda mati telah menampakkan diri semenjak kau berunding dengan harapan. Agar rumah tidak semerta-merta merupakan tempat dengan pijar cahaya yang buruk, tembok yang retakannya kian membesar hinga kelak kau akan mengira itu adalah sebuah pintu.

Laknat Hewan Kecil

Mereka mengatakan bahwa semut penjajah itu memakan dinding-dinding dan burung, mereka mengatakan bahwa nenek moyang mereka sampai pindah tiga kali dalam kurun dua abad, lalu mereka mereklamasi rawa, membangun rumah ibadah terlebih dahulu, kemudian pemakaman dan yang terakhir rumah bagi mereka yang selamat dari laknat hewan-hewan kecil.

Kami semua terdzalimi, dan kampung ini dinamakan “Mit Adlan” Generasi sekarang sangat bangga akan nama itu atau penamaan itu telah menghilangkan ingatan mereka akan segala yang mereka gigit menggunakan gigi-gigi kami. “Mit Adlan” kampungku yang asri nan indah, tanah kelahiranku yang selalu mendatangiku dalam mimpi buruk setiap malam,

Sekarang jalan-jalan di sana serta merta diberi nama oleh pemerintah: Jalan Revolusi, Fir’aun, Khulafa’ al-Rasyidin, bahkan di sana sudah ada petunjuk arah ke pemakaman dengan tulisan “Pemakaman”. Kamu bisa mencarinya di Google Earth, kamu akan melihatnya seperti jam yang terjatuh dan dilupakan salah satu dari mereka di atas dinding yang pada suatu waktu merupakan tembok sebuah rumah.

Perkampungan dengan rahasia besar, tak memiliki pintu untuk sekedar bisa ditutup.

***

Orang-orang tidak meminta apa-apa kepada Allah, tidak dengan berterus terang, kecuali untuk kesehatan dan perlindungan-Nya. Tapi Allah tidak bisa ditipu, tidak pada kurun tujuhpuluhan. Dia terus mengawasi harapan mereka yang selalu mereka aduk ketika menikmati teh.

Dia menyaksikan orang-orang meninggalkan rumah, tangan mereka tersilang di belakang punggung, menggenggam harapan yang tidak pernah berbicara keras, bahkan ketika shalat isya’: “biar dinding bata menggantikan dinding tanah, biarlah listrik menggantikan minyak tanah, semoga TV berwarna pertama tidak kurang dari duapuluh inci.”

Bisa jadi mereka tidak bermaksud menipu Allah, tapi Dia tidak senang.

Ketika salah satu dari mereka membangun ruangan baru, aromanya tetap bau bakaran bensin seperti tidur untuk bermimpi buruk. Tak mungkin Malaikat menuruni tangga mereka, dan atapnya akan selamanya dalam masa pemugaran.

Salah satu dari mereka pergi ke Irak untuk mati di medan perang dan syahid dengan tatapan penuh makna.

Lalu suatu ketika listrik tiba, seperti yang mereka harapkan, dan yang tetap tinggal di sana bisa menggantungkan lentera untuk memandu para pelayat ke tempat berkabung.

***

Seorang wanita dan gadis kecil, pucat karena foto tak bisa lepas dari masam. Wanita itu tidak tersenyum (meskipun dia tidak tahu dia akan mati persis empatpuluh tujuh hari kemudian). Gadis itu tidak tersenyum (meskipun dia belum tahu apa itu kematian). Gadis itu mewarisi bibir dan alis wanita itu (gadis itu memiliki hidung lelaki yang tidak pernah berhasil masuk ke dalam foto), tangan wanita itu ada di bahu gadis sedangkan tangan gadis itu mengepal (bukan karena amarah, tapi karena dia memegang permen yang masih separuh). Gaun gadis itu tidak terbuat dari katun Mesir (Abdel Nasser, yang mampu menciptakan apapun, telah lama mati), sepatunya diimport dari Gaza (Gaza, tentu saja, zona perdagangan bebas). Jam tangan wanita itu tidak jalan dan dia memakai sabuk lebar (Apakah ini adalah mode tahun 1974).